
Di antara helaian benang yang ditarik dengan kesabaran, tersimpan kisah yang melampaui rupa selembar kain, sebuah ikhtiar merawat pusaka, seraya merancang masa depan. Melalui “Weaving the Sky”, Cita Tenun Indonesia bersama One Fine Sky mengundang kita memasuki ranah di mana tradisi dan visi kontemporer berjalin kelindan, menubuhkan narasi baru tentang tenun Nusantara.

Bertempat di Savvavasa, Dharmawangsa Jakarta Selatan, DEWI berkesempatan untuk menghayati instalasi kriya serta mode yang tidak semata hadir sebagai perayaan visual, melainkan juga sebagai suatu pernyataan batin. Tenun, yang berakar pada kearifan lokal dan diwariskan sebagai tradisi, kini dihadirkan dalam cakrawala yang lebih luas, ditafsirkan ulang oleh para perancang mode lintas generasi. Alto Project, Amotsyamsurimuda, Danjyo Hiyoji, Danny Satriadi, Eridani, Dibba, Fbudi, Jeffry Tan, MoneyMan Works, Ohmmybyai, MORAL, The Rizkianto, serta Wilsen Willim berhimpun dalam satu kesatuan harmoni, masing-masing mengusung bahasa estetiknya sendiri, namun tetap berpijak pada satu simpul makna, penghormatan terhadap kriya.

Kolaborasi ini merupakan pertemuan istimewa antara Cita Tenun Indonesia dan One Fine Sky, sebuah proyek sosial di bawah naungan Yayasan Angkasa Biru, yang diprakarsai oleh Yuni Jie dan Jenfilia Suwandrei Arifin. Didirikan sebagai respons atas tantangan ekonomi yang memengaruhi keberlangsungan pendidikan anak-anak, One Fine Sky secara konsisten menghadirkan seragam sekolah gratis sebagai simbol harapan, menumbuhkan kepercayaan diri, serta mendorong langkah mereka menuju masa depan yang lebih layak.
Di tangan tiga belas perancang mode serta label kolaborator, percampuran spirit antara Cita Tenun Indonesia dan One Fine Sky menemukan wujudnya. Tenun melampaui guna, menjelma medium ungkap, penanda jati diri, sekaligus jembatan antara masa silam dan masa mendatang. Siluet, tekstur, serta olah warna yang dihadirkan tidak hanya mengisahkan keindahan, tetapi juga kesinambungan, tentang bagaimana tradisi dapat terus bernapas dalam relevansi zaman.
Lebih dari sekadar instalasi, “Weaving the Sky” memanggul niat yang berakar pada kemaslahatan. Ragam edisi terbatas yang dihadirkan menjadi bagian dari gerakan yang lebih luas, termasuk dukungan terhadap penyediaan seragam sekolah serta pengembangan tenun Sumatra. Di titik ini, estetika dan empati bersanding tanpa sekat.

Anjuran busana “Sentuhan Tenun, One Fine Sky” menjadi lambang keikutsertaan, sebuah ajakan halus untuk tidak sekadar menyaksikan, melainkan turut menubuh dalam kisah yang tengah ditenun. Sebab pada akhirnya, menenun bukan hanya perihal menyatukan benang, melainkan merangkai makna.
Sementara itu, kita menggantungkan mimpi pada langit yang tidak hanya dipandang, melainkan dihayati, diwujudkan, dan dikenakan dengan kebanggaan.