Mar Kristoff: Ketika Ingatan Terus Ditulis Ulang

Bagi Mar Kristoff, arsip bukan sekadar rekaman masa lalu. Ia adalah ruang tempat ingatan terus hidup, berubah, dan menemukan makna baru setiap kali diceritakan kembali.
ara contemporary – I Will Tell You When I Am Home (1) (2)
Melalui arsip, Mar Kristoff melihat ingatan bukan sebagai sesuatu yang tetap, melainkan terus ditulis ulang dan dihidupkan kembali.

Bagaimana jika sebuah foto keluarga bukan hanya menyimpan kenangan, tetapi juga membuka ruang bagi kisah orang lain? Pertanyaan itu mengemuka lewat dua karya terbaru Mar Kristoff dalam pameran kelompok I Will Tell You When I Am Home di ara Contemporary

Menghadirkan enam seniman, pameran ini menyoroti berbagai gagasan tentang tempat, perpindahan, identitas, dan rasa memiliki. Di antara praktik artistik yang beragam dalam pameran ini, perupa Mar Kristoff mengajak pengunjung melihat bahwa ingatan bukan sesuatu yang tetap, melainkan terus berubah setiap kali diceritakan kembali.

Dua Lapisan Arsip

Dalam dua karya yang hadir dalam pameran ini, Mar bertumpu pada dua lapisan arsip. Lapisan pertama berasal dari album keluarganya sendiri, berupa siluet yang ditelusuri dari foto pernikahan orang tuanya di Jakarta dan momen liburan mereka di Bali pada awal 2000-an. Di atasnya, ia menempatkan foto-foto dari arsip keluarga asing yang juga berlibur ke Bali, tetapi pada era 1970-an.

Advertisement

Alih-alih menampilkan dua kisah yang terpisah, Mar justru mempertemukan keduanya dalam satu ruang visual. 

“Kita sebagai manusia mungkin bisa mengalami lebih dari satu realitas atau mendapatkan keakraban dari pengalaman orang lain,” ujarnya. Melalui pertemuan dua arsip yang tidak saling mengenal, ia mempertanyakan batas antara pengalaman pribadi dan pengalaman kolektif.

Menuliskan Kembali Ingatan

Arsip selalu menjadi titik berangkat dalam praktik berkarya Mar. Namun, kali ini ia juga memperkenalkan sesuatu yang baru secara visual. Setelah lama bekerja dengan palet monokrom, pameran ini menjadi kali kedua ia menghadirkan warna sebagai bagian dari eksplorasi seri barunya.

Meski demikian, perubahan terbesar justru terjadi pada cara ia memandang ingatan. Bagi Mar, memori bukan sesuatu yang disimpan utuh untuk dikenang kembali, melainkan sesuatu yang terus ditulis ulang.

“Ingatan itu… sesuatu yang terus menerus kita tulis ulang. Sesuatu yang kita hidupkan kembali, terlepas dari apakah itu merupakan ingatan kita sendiri atau memori orang lain,” ujarnya.

Menurutnya, hal yang sama juga berlaku pada fotografi. Sebuah foto memang membekukan satu momen, tetapi maknanya terus berubah—mulai dari saat peristiwa direkam, dicetak menjadi objek fisik, hingga dipilih kembali menjadi sebuah karya seni. “Arsip bukan hal yang statis,” katanya. “Ia akan selalu terus diedit dan diubah.

Menafsirkan Makna Rumah dari Berbagai Perspektif

Gagasan tentang ingatan yang terus berubah menjadi salah satu benang merah dalam I Will Tell You When I Am Home. Melalui enam praktik artistik yang berbeda, pameran ini mengajak pengunjung melihat rumah bukan sekadar lokasi, melainkan sesuatu yang terus dibentuk oleh pengalaman, perpindahan, dan identitas.

Selain Mar Kristoff, pameran ini juga menghadirkan seniman berbasis New York Shuyi Cao, yang mengeksplorasi persinggungan arkeologi, ekologi, sains, teknologi, dan kosmologi melalui riset material setelah menjalani residensi di Ruang Arta Derau, Bali. Sementara itu, Nguyễn Phương Linh, yang baru saja berpartisipasi dalam Paviliun Uzbekistan di Venice Biennale 2026, menyoroti keseragaman jenis pekerjaan yang dijalani perempuan kelas pekerja Vietnam di berbagai kota dunia.

ara contemporary – I Will Tell You When I Am Home (3)
Dari Singapura, Khairulddin Wahab mengulas sejarah perkebunan dan warisan kolonial di Asia Tenggara.

Dari Singapura, Khairulddin Wahab mengulas sejarah perkebunan dan jejak kolonial dalam lanskap lingkungan Asia Tenggara melalui pendekatan yang memadukan geografi budaya dan sejarah lingkungan. Ada Shuyi Cao, yang mengeksplorasi persinggungan arkeologi, ekologi, sains, teknologi, dan kosmologi melalui riset material setelah menjalani residensi di Ruang Arta Derau, Bali.

Ada pula Nguyễn Phương Linh, yang baru saja berpartisipasi dalam Paviliun Uzbekistan di Venice Biennale 2026, dengan karya yang menyoroti keseragaman jenis pekerjaan yang dijalani perempuan kelas pekerja Vietnam di berbagai kota dunia.

Adapun Arlette Quỳnh-Anh Trần, penerima Graham Foundation Grant, menggabungkan halaman jurnal Bauhaus, gambar tangan, dan citra hasil kecerdasan buatan untuk mempertanyakan bagaimana pengetahuan modern diterjemahkan kembali melalui pengalaman lokal. Keenam seniman tersebut juga memperlihatkan bahwa gagasan tentang rumah, identitas, dan ingatan tidak pernah benar-benar selesai, melainkan terus ditulis ulang dari waktu ke waktu.

Pada akhirnya, setiap seniman dalam pameran ini menawarkan cara yang berbeda untuk memahami apa arti “rumah”. Bagi Mar Kristoff, misalnya, rumah bukan sekadar lokasi geografis, melainkan sebuah kondisi yang memungkinkan seseorang membangun dan menulis ulang kisahnya sendiri. Seperti halnya arsip dan ingatan, rumah pun bukan sesuatu yang tetap, melainkan terus dibentuk oleh cerita-cerita yang kita pilih untuk hidupkan kembali.

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post
aarti (2)

Menepi di Aarti Wellness Club, Wellness Spot Baru Menteng

Next Post
the odyssey

Press Tour The Odyssey: Zendaya Menjelma Athena Lewat Sentuhan Law Roach

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.