
Istilah sejarah, memori, dan nostalgia kerap digunakan secara bergantian karena dianggap serupa. Padahal, menurut sejarawati dan kurator seni Sadiah Boonstra, ketiganya berbicara tentang lapisan yang berbeda dalam memahami masa lalu.
“Sejarah adalah apa yang benar-benar terjadi. Bahkan sesuatu yang terjadi lima menit lalu pun sudah menjadi sejarah,” ujarnya.
Katanya lagi, sejarah adalah peristiwa itu sendiri, sementara memori adalah cara manusia mengingat dan memberi makna pada peristiwa tersebut. Nostalgia, di sisi lain, lahir dari kerinduan terhadap sesuatu yang telah hilang.
“Biasanya, nostalgia muncul dari perasaan bahwa segala sesuatu tidak lagi seperti dulu,” sambungnya.
Perbedaan itu penting, sebab sejarah bukan hanya kumpulan fakta yang beku. Cara kita mengingat masa lalu selalu dipengaruhi oleh sudut pandang, pengalaman, bahkan emosi. Di situlah, menurut Sadiah, sejarah selalu memiliki ruang untuk ditafsirkan kembali.
Mencari Mereka yang Tak Pernah Menjadi Tokoh Utama
Ketertarikan Sadiah terhadap sejarah justru berawal dari seni. Saat berusia sekitar lima belas tahun, ia mengunjungi Roma bersama ibu baptisnya dan berkali-kali kembali ke sebuah gereja hanya untuk melihat lukisan karya Caravaggio. Pengunjung harus memasukkan koin agar lampu menyala selama beberapa saat dan memperlihatkan detail lukisan tersebut.
“Kami membawa sekantong penuh koin hanya untuk terus melihat lukisan itu, mengamati emosi apa yang muncul atau perasaan apa yang ditimbulkannya,” kenangnya.
Pengalaman itu membuatnya jatuh cinta pada seni sekaligus sejarah, dua bidang yang kemudian terus berjalan berdampingan hingga ia menempuh studi kuratorial museum dan bergabung dengan Tropenmuseum di Belanda. Di sanalah ketertarikannya pada isu dekolonisasi mulai tumbuh.
Namun bagi Sadiah, dekolonisasi bukan semata tentang artefak atau masa kolonial. Yang jauh lebih penting adalah mempertanyakan siapa yang selama ini tidak pernah mendapat ruang dalam sejarah.
“Sejarah selalu berkisah tentang para raja dan para pemenang,” katanya. Padahal, di balik narasi besar tersebut, ada begitu banyak kehidupan yang luput dicatat. Perempuan, kelompok queer, masyarakat yang diperbudak, hingga berbagai komunitas yang termarginalkan sering kali menghilang dari buku-buku sejarah, bukan karena mereka tidak berkontribusi, melainkan karena sejarah selama berabad-abad dibangun dalam sistem patriarki.
“Saya justru tertarik pada mereka yang suaranya tidak pernah kita dengar,” ujarnya lagi. “Apa yang bisa saya lakukan agar kisah-kisah mereka ikut mendapat tempat?”
Mengingat Kembali Perempuan yang Terlupakan
Kesadaran itu pula yang membuat Sadiah selalu berusaha menghadirkan perspektif baru dalam membaca sejarah Indonesia. Baginya, bukan hanya tokoh-tokoh besar yang layak dikenang, tetapi juga mereka yang bekerja di balik layar.
Salah satu nama yang menurutnya pantas mendapat perhatian lebih adalah Francisca Frangipane, perempuan asal Nusa Tenggara Timur yang memainkan peran penting dalam diplomasi Indonesia selama perang kemerdekaan. Dengan kemampuan berbahasa dan negosiasinya, Francisca mewakili Indonesia dalam berbagai forum internasional. Namun, namanya nyaris tak pernah muncul dalam narasi sejarah arus utama.
“Yang selalu kita lihat adalah foto-foto Sukarno dan Hatta,” ujar Sadiah. “Sementara para perempuan selalu berada di belakang dan perlahan menjadi anonim.”
Karena itu, ia percaya pekerjaan seorang sejarawan tidak berhenti pada merawat arsip atau mengulang kisah yang sudah dikenal. Tugas yang lebih mendesak adalah terus mencari cerita-cerita yang belum sempat dituliskan, terutama kisah perempuan dan kelompok-kelompok yang selama ini berada di pinggir sejarah.
***
Di akhir percakapan, Sadiah kami minta untuk membayangkan satu emosi yang layak disimpan museum, untuk diwariskan kepada generasi mendatang. Tanpa ragu, ia memilih cinta.
Namun cinta yang ia maksud bukanlah hubungan romantis, melainkan empati. “Cinta kepada sesama, kepada lingkungan, kepada hewan, kepada segala sesuatu yang hidup berdampingan dengan kita,” katanya. Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, ia percaya kemampuan untuk tetap peduli adalah warisan paling berharga yang bisa diberikan kepada masa depan.
Barangkali itulah makna terdalam dari sejarah menurut Sadiah Boonstra. Bukan sekadar mencatat apa yang pernah terjadi, melainkan memastikan bahwa semakin banyak suara akhirnya mendapat kesempatan untuk diingat.