
Rasa ingin tahu membawa Laksmi De Neefe menjelajahi berbagai bacaan dan menggiatkan minat publik terhadap literasi. Baginya, setiap halaman memberikan wawasan baru untuk melihat manusia, budaya, dan kehidupan di berbagai masa.
Publik mengenal Laksmi De Neefe sebagai Putri Indonesia 2022 yang mewakili Indonesia di panggung Miss Universe. Namun, di kalangan pembaca sastra, namanya telah lama akrab dengan Ubud Writers & Readers Festival. Tumbuh di tengah festival literasi internasional yang didirikan keluarganya, buku bukan sekadar hobi bagi Laksmi, melainkan ruang yang membentuk cara pandangnya terhadap dunia. Kini, setelah masa baktinya sebagai Putri Indonesia berakhir, ia memilih kembali ke tempat yang sejak awal terasa paling dekat dengannya: literasi.
Dari Festival Sastra Menuju Shelf Therapy
Kecintaan Laksmi pada dunia literasi menemukan bentuk baru melalui Shelf Therapy, sebuah platform klub buku yang ia kembangkan sejak akhir 2024. Gagasan ini sebenarnya lahir jauh lebih awal, tepatnya pada masa pandemi 2020 ketika ia tinggal di Italia setelah menyelesaikan magang di sebuah rumah mode di Paris. Saat itu, ia membantu menghidupkan kembali akun Instagram Ubud Writers & Readers Festival dengan mengadakan sesi bedah buku melalui Instagram Live, membaca satu buku setiap minggu selama berbulan-bulan.
Setelah menyelesaikan tugasnya sebagai Putri Indonesia, ia memutuskan menghidupkan kembali konsep tersebut dalam format yang lebih berkelanjutan. Shelf Therapy kini menghadirkan podcast bersama para penulis dari berbagai negara, mulai dari Ratih Kumala, penulis Gadis Kretek, biksu Zen asal Jepang Shokei Matsumoto, hingga sejumlah penulis dari Korea Selatan. “Saya juga ingin orang-orang menikmati membaca, lalu bisa berkumpul dan mendiskusikan buku bersama. Sesederhana itu,” ujarnya.
Jarak Membuat Indonesia Lebih Dekat
Keinginannya mengampanyekan literasi justru semakin kuat ketika tinggal di luar negeri. Saat menempuh studi Fashion Business di Polimoda, Italia, Laksmi terkejut mendapati salah satu perpustakaan mode terbesar di negara itu hanya memiliki satu buku tentang desainer Indonesia. Ironisnya, banyak buku mengenai Bali dan Indonesia justru ditulis oleh penulis asing.
“Momen itu membuatku sadar bahwa Indonesia punya begitu banyak cerita yang seharusnya bisa kita ceritakan sendiri lewat buku,” katanya. Kesadaran itu diperkuat oleh pengalaman menjadi relawan di sebuah pusat belajar di Bali, tempat ia bertemu anak-anak yang masih mengalami buta huruf. Di sisi lain, ia juga melihat banyak teman sebayanya yang memiliki akses terhadap buku, tetapi tidak tertarik membaca. Baginya, tantangannya bukan hanya soal akses, tetapi juga bagaimana membuat membaca kembali terasa menyenangkan.
Membaca sebagai Cara Memahami Dunia
Laksmi mengaku dulu ia begitu larut membaca buku-buku sejarah, yang membawanya melihat dunia. Ketertarikan Laksmi pada sejarah juga tercermin dari buku-buku yang mengisi rak bacaannya. Ia menyukai novel bergenre magical realism, terutama One Hundred Years of Solitude karya Gabriel García Márquez yang memadukan sejarah dengan kisah lintas generasi. Namun, jika harus merekomendasikan satu buku kepada pembaca yang baru ingin membangun kebiasaan membaca, pilihannya jatuh pada The Alchemist karya Paulo Coelho.
“Kalau novel favorit, salah satunya One Hundred Years of Solitude. Tapi kalau ada yang minta rekomendasi buku, aku hampir selalu bilang The Alchemist. Menurutku bukunya mudah diikuti, ringan dibaca, tapi pesannya tetap terasa.”
Laksmi juga menyebut Sapiens karya Yuval Noah Harari sebagai salah satu buku yang paling membekas dalam hidupnya. “Rasanya itu pertama kalinya aku benar-benar memahami kenapa dunia bisa menjadi seperti sekarang lewat cara sejarah bekerja. Aku beli bukunya waktu di Paris, lalu kubaca di bus, dan aku benar-benar larut sampai lupa waktu.”
Meski sesekali menikmati buku pengembangan diri, ia memilih untuk tidak membacanya secara berlebihan. Menurutnya, terlalu banyak membaca buku self-help justru bisa membuat seseorang terlalu sibuk memikirkan dirinya sendiri.
Proyek-Proyek baru Laksmi
Laksmi mengaku tidak pernah membayangkan hidupnya akan berjalan ke arah seperti sekarang. Awalnya ia membayangkan akan kembali ke dunia fashion atau membangun bisnis keluarga di Bali. Namun pengalaman sebagai Putri Indonesia justru mempertemukannya dengan banyak kesempatan baru, mulai dari mengembangkan advokasi literasi dengan mendongeng untuk anak-anak di Perpustakaan Taman Ismail Marzuki (TIM), hingga bekerja sama dengan berbagai yayasan yang membangun perpustakaan dan melatih guru agar kegiatan membaca menjadi lebih interaktif.
Kini, babak baru itu terus berkembang. Selain membangun Shelf Therapy, Laksmi tengah mempersiapkan sebuah studio wellness di Ubud yang terinspirasi dari pengalaman memulihkan diri setelah mengalami burnout usai Miss Universe. Di waktu yang hampir bersamaan, ia juga mendapat kesempatan pertama bermain dalam sebuah produksi film Amerika, sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia rencanakan.
Meski jalannya terus berubah, benang merahnya tetap sama. Baik melalui buku, ruang diskusi, maupun proyek-proyek baru yang sedang ia bangun, Laksmi percaya bahwa rasa ingin tahu adalah awal dari banyak kemungkinan. Dan baginya, membaca selalu menjadi salah satu cara terbaik untuk memulainya.