Club HUE dan Warna Baru dari Seni Beristirahat

Club HUE membawa filosofi rehat Korea ke sebuah private members club di tengah geliat budaya Koreatown, tempat jeda terasa sama menariknya dengan kehidupan yang melingkupinya.
Club HUE – The Bar
Club HUE, bar yang menjadi titik temu suasana.

Di tengah Los Angeles yang tak pernah benar-benar berhenti, ada ruang yang justru mengajak kita untuk melambat. Club HUE, private members’ club terbaru di historic Chapman Plaza, Koreatown, hadir sebagai ruang budaya yang mempertemukan dua lanskap Timur dan Barat melalui desain, seni, dining, dan nightlife. Dibangun untuk mereka yang terbiasa berpindah antara Los Angeles, Seoul, Hong Kong, dan kota-kota lainnya, HUE menawarkan tempat untuk beristirahat tanpa harus meninggalkan energi kota.

Gagasan tersebut berangkat dari hueshik (휴식), konsep Korea tentang jeda dan pemulihan. Filosofi ini diterjemahkan lewat interior yang hangat dan tenang, dengan tekstur berlapis, pencahayaan lembut, detail sculptural, serta sentuhan hijau. Nuansa golden age of travel kemudian diolah kembali melalui pendekatan yang memadukan pengaruh Timur dan Barat secara kontemporer.

Advertisement

Seni dan Identitas HUE

Club HUE – Interior 1
Interior Club HUE dalam suasana hangat dan intim.

Cerita HUE juga hadir melalui seninya. Mural karya Michael Haight mengambil inspirasi dari hangang huesik, momen menikmati waktu luang di sepanjang Sungai Han, sementara karya RETNA menambah karakter pada ruang. Dikurasi oleh Jane Lee, karya-karya ini mempertemukan referensi Korea dengan lanskap budaya Los Angeles secara understated.

Pilihan lokasinya terasa sama intentional-nya. Berada di Chapman Plaza, landmark Koreatown sejak 1929, HUE hadir di tengah kawasan yang kini menjadi pertemuan kuliner, fashion, seni, dan kehidupan malam.

Menikmati HUE hingga Malam

Club HUE – Karaoke Lounge B
Club HUE, Karaoke Lounge.

Di HUE, dining menjadi bagian penting dari pengalaman. Executive Chef Hiroo Nagahara menghadirkan hidangan Asia dengan pendekatan progresif, memadukan bahan-bahan musiman, rasa yang berlapis, dan sajian yang terasa pas untuk dinikmati bersama. Bar melanjutkannya dengan koktail klasik yang diberi sentuhan Asia, lengkap dengan pilihan wine dan spirits dari berbagai negara.

Menjelang malam, central sculptural bar, area makan privat, dan ruang karaoke privat mulai mengambil alih suasana. Atmosfernya menjadi lebih hidup, namun tetap terasa intim, membuat makan malam mengalir menjadi percakapan panjang hingga larut.

Sebuah Lingkar yang Terpilih

Club HUE – Dining – Pano
Club HUE, ruang makan yang merangkum kehangatan.

HUE sengaja menjaga lingkar anggotanya tetap terbatas, mempertemukan para kreator, pengusaha, penggerak budaya, serta mereka yang terbiasa melintasi kota dan kebudayaan dalam kesehariannya. Keanggotaan dimulai dari USD 7.500, dengan akses ke klub privat di berbagai penjuru dunia, hotel mitra, layanan perjalanan personal, pengalaman bersantap, hingga rangkaian program budaya eksklusif.

Semuanya kembali pada prinsip yang menjadi landasan HUE sejak awal yaitu, hueshik, sebuah jeda yang memberi ruang untuk kembali kepada diri sendiri. Di tengah kehidupan yang senantiasa bergerak, HUE menghadirkan cara yang lebih berkelas untuk berhenti sejenak, menikmati hidangan yang baik, percakapan yang tidak lekas usai, karya seni yang menghidupkan ruang, dan malam yang rasanya sayang untuk segera diakhiri.

Teks: Cut Rashya Zebina L. Shiddiqie

Editor: Akib Aryo Utomo

Previous Post
Majalah DEWI – Micro Mindfulness RANU Retreat Labuan Bajo

Ranu Retreat: tentang Body Reset dan Cara Rekalibrasi Tubuh dan Pikiran agar Lebih Tenang

Next Post

Dapur Bali Mula: Darma Dalam Hidangan, Sesaji Dalam Sajian

Advertisement
Sign in