Girl Math dan Seni Melatih Kesadaran Finansial
Ranu Retreat: tentang Body Reset dan Cara Rekalibrasi Tubuh dan Pikiran agar Lebih Tenang

Ranu Retreat: tentang Body Reset dan Cara Rekalibrasi Tubuh dan Pikiran agar Lebih Tenang

Ketika tubuh terlalu lama hidup dalam ritme yang penuh tuntutan, mungkin yang kita butuhkan bukan melakukan lebih banyak, melainkan memberi ruang untuk kembali mendengarkannya.
Majalah DEWI – Micro Mindfulness RANU Retreat Labuan Bajo
Melalui Ranu Retreat, Micro Mindfulness mengajak peserta melakukan body reset dan recalibration lewat gerakan mindful, nutrisi, istirahat, koneksi dengan alam, dan kesadaran terhadap kebutuhan tubuh dalam perjalanan empat hari tiga malam berlayar.

Belakangan ini, rasanya semakin banyak hal yang meminta perhatian kita dalam waktu bersamaan. Tuntutan pekerjaan semakin tinggi, tekanan untuk terus produktif tidak kunjung reda, sementara kabar tentang bencana alam, ketidakpastian ekonomi, dan berbagai persoalan sosial datang silih berganti melalui layar.

Kita tetap bekerja, membalas pesan, mengurus keluarga, dan menjalani rutinitas masing-masing, tetapi sering kali melakukannya dalam gelembung sendiri. Kita begitu terhubung secara digital, namun semakin jarang benar-benar terhubung dengan tubuh, alam, maupun orang-orang di sekitar kita.

Dalam kondisi seperti ini, keinginan untuk berhenti sejenak bukan berarti kita ingin meninggalkan kehidupan. Justru, mungkin kita sedang membutuhkan kesempatan untuk kembali hadir di dalamnya. Itulah yang coba ditawarkan “Ranu Retreat”, perjalanan wellness selama tiga malam empat hari oleh Micro Mindfulness yang diniatkan sebagai ruang untuk terhubung kembali kepada diri dengan sadar.

Advertisement

Memulihkan Kembali Kekuatan Tubuh

Berlayar menyusuri Labuan Bajo dan Kepulauan Komodo, para peserta tidak sekadar berpindah dari satu destinasi ke destinasi lain. Setiap aktivitasnya mengajak tubuh memperlambat ritmenya, mulai dari grounding yoga, latihan napas, meditasi pagi, mat Pilates, hingga yin yoga dan gratitude ritual. Menurut Isha Bella, co-founder Micro Mindfulness yang juga seorang ahli gizi bersertifikasi, pendekatan ini berangkat dari pemahaman bahwa tubuh manusia sebenarnya sangat adaptif.

“Badan kita sebenarnya sangat adaptif dan sangat pintar, sehingga bisa menyesuaikan dengan keadaan. Namun ada kalanya, badan kita nih kelelahan juga dan perlu istirahat untuk menyetel ulang kondisinya ke titik normal,” jelasnya.

Ketika Tubuh Membutuhkan Jeda

Dalam keseharian yang penuh demand, tubuh dapat terbiasa berada di bawah tekanan tanpa kita sadari. Karena itu, body reset yang dimaksud bukanlah proses mengubah atau memperbaiki tubuh secara instan, melainkan memberikan kesempatan untuk kembali pada kondisi yang lebih seimbang.

Ritme tersebut mulai dibangun sejak hari pertama melalui gentle grounding yoga dan latihan napas. Pagi berikutnya, meditasi dan intention setting dilanjutkan dengan mat Pilates. Tubuh kembali diajak bergerak melalui eksplorasi alam, gentle stretch, hingga mental wellbeing workshop. Pada hari ketiga, breath-led grounding, aktivitas tanpa alas kaki di Pink Beach, snorkeling, dan yin yoga memberi pengalaman yang berbeda untuk memperhatikan tubuh melalui gerakan, napas, sentuhan, dan lingkungan sekitar.

Bagi Bella, proses tersebut berkaitan erat dengan recalibration. “Recalibration itu sebenarnya nggak perlu jadi hal yang rumit. Malah, sebenarnya kita kembali ke hal-hal sederhana,” ujarnya. Tidur yang cukup, makanan seimbang, hidrasi, serta menurunkan tingkat stres menjadi bagian dari proses tersebut.

Namun, ada satu hal yang menurutnya paling penting, yaitu kembali membangun koneksi dengan tubuh.

“Dengan recalibration ini, yang paling penting sebenarnya adalah mengembalikan reconnection dengan tubuh kalian. Jadi, kita mulai membangun kesadaran tentang apa yang sebenarnya kita butuhkan. Misalnya, ‘Oh, sebenarnya saya lelah. Apakah saya butuh stimulasi lebih, atau sedang perlu istirahat?”

Mendengarkan, Bukan Mengontrol

Kesadaran terhadap tubuh juga berlaku pada hal-hal yang terasa sederhana, seperti rasa lapar. Dalam kehidupan sehari-hari, sinyal tubuh dapat bercampur dengan respons terhadap stres atau kelelahan. Karena itu, Isha mengajak peserta untuk mulai membedakan berbagai kebutuhan tersebut.

“Atau ketika kita lapar, kita perlu menyadari apakah kita lapar karena kita perlu makan, atau kita merasa lapar karena kita lelah dan stres?” ujarnya lagi. “Dengan kita reconnect dengan tubuh sendiri, kita jadi lebih tahu apa yang sebenarnya tubuh kita butuhkan.”

Pendekatan ini membuat recalibration terasa berbeda dari tradisi wellness yang sering berfokus pada kontrol. “Recalibration itu bukan soal mencoba mengendalikan tubuh kita, tetapi lebih kepada mendengarkan kebutuhan badan kita,” jelas Bella lagi.

Pendekatan tersebut juga tercermin melalui pengalaman makan selama retreat. Dalam sesi Eat Like an Islander: Ocean to Plate, makanan menjadi bagian dari pengalaman memahami hubungan antara tubuh, nutrisi, dan lingkungan.

Bagi Bella, seluruh aspek tersebut saling terhubung. Stres dapat memengaruhi nafsu makan, sementara kurang tidur juga dapat mengganggu sinyal lapar dan kenyang. Karena itu, tiga malam empat hari tersebut menjadi kesempatan untuk membangun rutinitas yang berbeda.

“Kita membangun rutinitas baru, menurunkan level stres kita, dan memberikan tubuh kita waktu untuk benar-benar beristirahat mendalam dan me-reset sistem saraf kita. ,” katanya.

Tujuannya bukan membawa pulang versi diri yang sepenuhnya baru, melainkan kembali ke kehidupan sehari-hari dengan kesadaran yang lebih baik terhadap kebutuhan tubuh.

Wellness yang Kembali ke Kehidupan Sehari-hari

Bagi Micro Mindfulness, proses ini tidak berdiri sendiri. Gerakan, nutrisi, istirahat, koneksi dengan alam, dan hubungan dengan orang lain dipandang sebagai bagian dari satu ekosistem wellness.

To sum it up, sebenarnya semuanya itu saling connected dan penting banget untuk dijalankan secara bersamaan,” jelas Bella. “Makanya, Micro Mindfulness itu holistic wellness platform, karena kita percaya semua pillars perlu dilakukan together untuk memberikan wellbeing yang juga sustainable.”

Pengalaman selama perjalanan ini menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai praktik tersebut. Ada meditasi saat matahari terbit, gerakan tubuh di atas kapal, perjalanan menuju pulau-pulau, makanan yang dinikmati bersama, waktu untuk beristirahat, hingga percakapan antarpeserta. Alam pun menjadi bagian dari proses tersebut, bukan sekadar latar perjalanan.

Bella juga ingin menggeser cara kita memahami wellness. Menurutnya, Wellness bukan berarti kita mencari cara untuk melakukan lebih banyak hal, tetapi justru memberikan ruang untuk tubuh dan diri kita.

“Pertanyaannya kemudian bukan berapa banyak ritual yang berhasil kita lakukan dalam sehari, tetapi bagaimana berbagai aspek kehidupan dapat berjalan bersama secara seimbang?” jelasnya lagi.

Itulah makna recalibration yang dibawa oleh Micro Mindfulness: bukan melarikan diri dari kehidupan yang sibuk, tetapi mengambil jarak sejenak agar kita bisa kembali mendengarkan apa yang selama ini coba disampaikan tubuh. Dan ketika perjalanan berakhir, praktik tersebut tidak harus ikut turun dari kapal. Latihan kesadaran ini bisa dibawa pulang dalam bentuk yang paling sederhana: tidur ketika lelah, makan ketika lapar, bernapas ketika kewalahan, bergerak ketika tubuh membutuhkannya, dan sesekali bertanya kepada diri sendiri, “Sebenarnya, apa yang aku butuhkan hari ini?”

Previous Post
pexels-karola-g-4968388

Girl Math dan Seni Melatih Kesadaran Finansial

Advertisement
Sign in