Inspirasi Wastra dalam Arsitektur Crowne Plaza Labuan Bajo 

Crowne Plaza Labuan Bajo adalah gerbang menjelajah budaya Flores: dari arsitektur terinspirasi wastra, pengalaman kuliner, hingga tualang bahari.

Crowne Plaza Labuan Bajo mengembuskan sebuah angin segar ke repertoar hotel terbaru dari grup IHG. Hotel yang biasanya dikenal untuk pelancong bisnis ini kini menyulap diri menjadi sebuah tetirah untuk melebur ke dalam budaya Flores–salah satunya, lewat arsitektur terinspirasi wastra.

Songke, wastra khas Flores, dalam saling-silang struktur

Wastra yang mengemuka adalah songke, kain tradisi khas Manggarai di barat Flores. Tenun ini memiliki latar utama hitam berhias corak wajik warna-warni. Menariknya, motif ini dihasilkan lewat teknik sulam yang mendampingi teknik tenun. Terdapat tiga corak kain songke: Jok Lamba Leda, Congkar, dan Rembong.

Apresiasi terhadap kain songke diterjemahkan oleh firma arsitektur Hadiprana lewat interior. Di tiap kamar, wallpaper menerjemahkan motif songke dalam garis rancang yang lebih modern. Latar biru nilam bercorak wajik keemasan menciptakan nuansa anggun yang tenang. 

Advertisement

Menariknya, tiap kamar Crowne Plaza Labuan Bajo dibagi ke tiga area: area kerja (meja kerja), area istirahat (tempat tidur), area bersantai (kursi lounge). Pembagian yang halus namun kentara ini membuat mood beradaptasi baik dengan ruang. Crowne Plaza Labuan Bajo juga memiliki kamar khusus penyandang disabilitas di tiap sayap gedung; tinggi kasur, furnitur, hingga peralatan mandi dikustomisasi sesuai kebutuhan.

Sarwa wastra juga diterjemahkan lewat pusparagam kriya lainnya. Bantal-bantalan dengan berbagai kain, dari shibori ke tenun, turut menghiasi seluruh area Crowne Plaza Labuan Baju. Semuanya berpadu senada dengan motif karpet yang dibesut dalam gurat-gurat bak tenun. Di balairung MICE, panel cahaya di langit-langit dibesut dalam motif wajik kain songke bak corak yang berpendar.

Lebih lanjut, detail seperti anyaman dan makrame di kursi, menguatkan kesan kriya di seluruh hotel. Aksentuasi ini terutama mengemuka di Uluwae Lobby Bar, yang menyambut tamu begitu melangkah masuk. Lobby bar ini dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan pelancong bisnis lewat kubikel anyaman nan unik dan meja kerja panjang. Seluruh panel dinding terbuat dari kayu yang diukir dalam garis-garis geometris–seakan para empu Flores menenun songke dengan bilah-bilah kayu, kompleks dan mengagumkan.

Gerbang budaya Flores, langsung dari bibir bandara

Arsitektur ini seakan membingkai kehadiran Crowne Plaza Labuan Bajo sebagai gerbang budaya Flores. Istilah yang tepat, mengingat hotel ini berlokasi hanya lima menit dari bibir bandara. Bahkan, dari jendela kamar, kita bisa menyaksikan lintasan hangar dengan pesawat yang lalu lalang.

Sebuah instalasi kapal phinisi dari tembaga menyambut begitu memasuki latar. Upacara tiba moka, ketika kain songke dikalungkan ke tamu istimewa, diteruskan dengan menyantap minuman herbal dan kukusan umbi khas Flores–muatan budaya yang prasaja pun begitu kuat.

Kentalnya budaya Flores yang diangkat turut diterjemahkan dalam pengalaman-pengalaman yang ditawarkan–termasuk gastronomi. Restoran Pamakka dengan all-day dining meracik resep-resep khas Flores ke dalam cita rasa modern; pas seperti asal namanya dari upacara menyambut tamu lewat jamuan. Hajatan Crowne Plaza Social, misalnya, mengundang tamu untuk bercengkerama sambil menikmati kue kompiang khas Flores dengan kopi Manggarai.

Crowne Plaza Labuan Bajo juga akan menghadirkan berbagai ekskursi bagi pelancong yang ingin menjelajah Flores lebih jauh. Pelancong akan diajari cara meracik resep tradisional Flores di Dapur Tara. Dari memetik bahan pangan hingga menumbuk lauk, pengalaman ini mengajarkan siklus pangan dan mendorong bersantap dengan mindful.

Selain itu, island hopping membawa kita berkembara di pulau-pulau Bajo. Dari mendaki puncak Pulau Padar, berburu komodo di Pulau Komodo, berenang di atol Taka Makassar, dan snorkel mencari manta di Manta Point; pelancong dibawa melebur dalam budaya bahari Flores yang semarak.

Di akhir hari, ini adalah Labuan Bajo, dengan pantai perawan dan perairan gemilang. Bahkan pelancong bisnis paling ulet pun tidak mungkin melewatkan keindahan alam Nusa Tenggara…

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post
Sarita Ibnoe: tentang Perjalanan, Batas, dan Rwa Bhineda di Art Jakarta Gardens 2026

Sarita Ibnoe: tentang Perjalanan, Batas, dan Rwa Bhineda di Art Jakarta Gardens 2026

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.