Menjemput Jeda Sore di ERRE & Urrechu Jakarta

Di bilangan Setiabudi, restoran kuliner Basque ERRE & Urrechu menjelma sebuah suaka untuk menikmati jeda kesibukan di sore hari.
WEB HERO HEADER (5)

Sore itu, bias surya Jakarta bersinar keemasan, sisa-sisa dari musim penghujan yang kelak beralih ke kemarau panjang. Seperti biasa, bilangan Setiabudi selalu padat. Akan tetapi, di salah satu sudutnya, mobil saya melangkah masuk ke taman yang teduh oleh rindang kanopi-kanopi pohon. ERRE & Urrechu di Gran Melia Jakarta menyambut, tidak hanya dengan damai bak sebuah suaka yang akrab, melainkan dengan santai santapan di penghujung hari yang panjang. Tiap suap menemani tiap perbincangan dengan akrab.

Amuse-bouche dan appetizer: gigitan yang gurih, segar, dan ringan

ERRE & URRECHU

Nama ERRE & Urrechu memang sudah tidak asing lagi. Cabang Jakarta ini merupakan restoran pertama besutan Chef Inigo Urrechu di luar Spanyol. Yang ia sajikan adalah hidangan Basque, salah satu anak kulinaria Spanyol dari wilayah bergunung di kaki Pegunungan Pyrenees.

Tak ayal, masakan yang disajikan mungkin agak berbeda dari ekspektasi hidangan Latin pada umumnya. ERRE & Urrechu dikenal akan teknik panggang dengan kayu bakar dalam tungku khas Spanyol. Dari sayur-mayur hingga daging-dagingan, semua dipanggang untuk menghasilkan cita rasa charred yang khas.

Advertisement

Akan tetapi, apabila di tahun awalnya ERRE & Urrechu lebih dikenal akan panggang daging nan berat, tahun ini sajian menunya disulap. Seakan menyesuaikan suasana, segala makanan diubah lebih ringan dan segar. Tidak terlalu berat untuk sore hari yang malas, pun mengenyangkan untuk penutup hari yang panjang.

Restoran ini senantiasa cantik dalam arsitektur bak rumah kaca besutan CMV Architects. Atap kaca dengan tirai yang dapat menghalau terik matahari, memayungi pohon-pohon zaitun asli yang tumbuh di dalam ruang makan. Benar ini Jakarta, tetapi kasualnya terasa bak Mediterania.

Kami memulai hidangan dengan koktail: toh, sore ini, niat kami adalah untuk berbincang santai. Tanpa meninggalkan identitas Basque, setusuk gilda pintxo alias sate Spanyol disajikan di piring kami. Sayur-mayur, dipanggang dalam kematangan yang pas tanpa mengeringkan saripati di dalam dagingnya, disajikan berdampingan dengan keripik kentang renyah dan saus tomat pilpil bak sambal.

Agak lebih berat: salad tomat yang dibakar di atas bara api. Segar, masih dengan kecut tomat, pun manis karena marinasinya. Bola-bola croquetas berisi potongan cumi bersaus tinta melumuri lidah dengan rasa gurih aioli panggang bawang yang kaya. Dengan sebongkah roti gandum khas Spanyol yang prasaja, lidah kami paripurna dipersiapkan untuk course selanjutnya.

Main course: suapan yang substantif, kompleks, dan mengisi

GMELIA-DAY2-0080 1-KEY

Pramusaji menyendok seporsi makanan utama: gnocchi bersaus krim yang disajikan dengan barramundi panggang. Padu-padan antara krim yang pekat dengan barramundi yang ringan berdecak pas di lidah.

Untuk memenuhi ekspektasi penikmat masakan Spanyol di Jakarta, ERRE & Urrechu kini menyajikan paella. Nasi arroz Bomba yang berbalut saus bahari, cita rasa belacan udangnya khas, segera memenuhi mulut dengan rayuan umami. Potong-potongan kakap merahnya pun dermawan.

Bukan ERRE & Urrechu tanpa panggang daging, sehingga tetap hadirlah panggang daging Latin yang khas. Tiga jenis garam mendampingi potong-potongan daging kami. Tak ingin mengecewakan lidah Nusantara, semangkuk kecil sambal ala Spanyol pun tersaji.

Dessert dan petit-fours: potongan yang legit, manis, dan membahagiakan

GMELIA-DAY2-0075 2-KEY

Kami sudah kenyang, tetapi lidah masih berdecak meminta dimanja. Sepotong Basque cheesecake yang masyhur pun datang. Lembut, dengan lapisan luar berkerak renyah, dengan potongan stroberi dan blueberry untuk memperkaya tekstur.

Kulinaria Spanyol tidak lengkap tanpa errechurros; dan racikan ERRE & Urrechu adalah salah satu yang terbaik yang pernah saya makin. Begitu renyah, pun tetap lembut di dalam; ringan, tidak terlalu ngiung, sehingga pas dicocol ke cokelat cair yang pekat. Bersama dengan cangkir kopi, disajikanlah petit fours dengan cokelat legit yang pas mendampingi pahit kopi.

Surya makin condong ke barat, menandakan akhir bincang-bincang siang kami, ketika waktunya bersiap jelang agenda andrawina malam. Ketika berpamitan, saya melirik sekilas bias cahaya matahari yang jatuh di atas lantai mosaik ERRE & Urrechu. Ah, terlalu cantik; membuat saya sudah rindu menjemput jeda sore lagi di sini…

Previous Post
1

Gedung Kaca: 20 Tahun The Papilion Kemang

Next Post
luxina nusae (1)

Bincang Desain: Kapan Eksplorasi Budaya Berubah Menjadi Eksploitasi?

Advertisement
Sign in