
Bagi Chef Martin Praja, rumah tumbuh dari masa kecilnya di Bogor, tradisi keluarga Tionghoa, hingga cita rasa Manado yang kemudian menjadi bagian dari kehidupan keluarganya. Melalui kolaborasi bersama Noesaka, cerita-cerita tersebut kini hadir kembali di meja makan, bukan dalam bentuk yang sama, tetapi melalui interpretasi yang memberi ruang bagi kenangan untuk tumbuh menjadi sesuatu yang baru.
Bertajuk Cerita Dapur Martin Praja di Noesaka, kolaborasi ini hadir di Noesaka Pacific Place sebagai bagian dari pembukaan gerai keempat Noesaka di Jakarta. Sejumlah hidangan yang memiliki kedekatan personal dengan Martin diterjemahkan kembali melalui karakter dapur Noesaka yang mengolah cita rasa Nusantara secara kontemporer. Hasilnya terasa seperti perjalanan pulang yang mengambil rute berbeda, ketika hidangan yang akrab tidak sekadar disajikan kembali, tetapi diberi kesempatan untuk menceritakan asal-usulnya dengan cara yang lebih modern.
Rumah dalam Terjemahan Rasa


Beberapa rasa memang sulit dipisahkan dari orang yang pertama kali membuatnya. Udang Goreng Asam Jawa, misalnya, berangkat dari hidangan ayam asam jawa buatan ibu Martin. Di Noesaka, ayam tersebut digantikan dengan udang tanpa menghilangkan karakter manis, asam, dan gurih yang menjadi inti rasanya. Perubahan sederhana ini justru memperlihatkan bagaimana sebuah resep keluarga dapat bergerak mengikuti zaman tanpa kehilangan hubungan dengan sumber kenangannya.
Cerita yang sama hadir melalui Ngo Hiang Ayam Udang, yang terinspirasi dari tradisi keluarga Tionghoa Martin, serta Sate Cungkring dan Iga Sapi Soup yang berkaitan dengan masa kecilnya di Bogor. Ketiganya memperlihatkan bahwa makanan dapat menjadi arsip yang sangat personal. Ia menyimpan bukan hanya apa yang pernah dimakan, tetapi juga tempat seseorang tumbuh dan rasa yang membentuk ingatannya.
Ruang, Rasa, dan Kebersamaan



Pengalaman makan di Noesaka pun tidak berhenti pada apa yang tersaji di piring. Interiornya membawa nuansa Nusantara melalui ruang yang hangat dan modern, menciptakan suasana yang terasa lebih intim daripada sekadar ruang makan. Konsep tersebut menghidupkan kebiasaan yang begitu dekat dengan budaya makan Indonesia, ketika makanan diletakkan di tengah dan dinikmati bersama sambil berbagi cerita di antara suapan.
Kesan kekeluargaan itu semakin kuat melalui ragam hidangan yang ditawarkan dalam kolaborasi ini. Ayam Tinorangsak membawa pengaruh kuliner Manado dari keluarga sang istri, sedangkan Terong Bakar Taoco dan Brokoli Sambal Roa memperlihatkan bagaimana bahan sederhana dapat memiliki rasa yang kuat. Untuk menutup pengalaman, Klappertart dan Es Teler menghadirkan dua hidangan manis yang sama-sama akrab bagi lidah Indonesia, dengan penyajian yang memberi sentuhan baru tanpa menjauh dari rasa yang dikenali.
Nostalgia dalam Bentuk yang Baru

Hal yang membuat kolaborasi ini menarik adalah cara nostalgia tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang harus dipertahankan persis seperti dulu. Kenangan justru diberi kesempatan untuk bergerak, ketika resep keluarga Martin bertemu dengan pendekatan Noesaka yang membawa kuliner Nusantara ke dalam interpretasi yang lebih modern. Rasa yang lahir dari masa lalu pun tidak berhenti sebagai kenangan, tetapi kembali hadir melalui bentuk, penyajian, dan pengalaman bersantap yang berbeda.
Cerita Dapur Martin Praja di Noesaka menjadi cara untuk membawa rasa rumah ke tempat yang baru. Hidangan yang berangkat dari Bogor, tradisi keluarga Tionghoa, dan cita rasa Manado dipertemukan dengan karakter Noesaka untuk menciptakan pengalaman yang menghubungkan masa lalu dengan meja makan hari ini. Rumah, dalam kolaborasi ini, tidak lagi sekadar tempat untuk kembali, tetapi rasa yang dapat dibawa, diolah, dan dinikmati di mana saja.
Teks: Cut Rashya Zebina L. Shiddiqie
Editor: Akib Aryo Utomo