Gundala, Pembuka Jagat Sinema yang Pas
Meski belum sempurna, Joko Anwar cukup berhasil membuat pijakan jagat sinema pahlawan super pertama Indonesia.


Gundala menjadi film pembuka yang pas untuk Jagat Sinema Bumilangit dan berhasil menarik 1.000.000 penoton dalam waktu satu minggu penayangannya.



Film perdana Jagat Sinema Bumilangit, Gundala hadir dengan gegap gempita dan pemasaran yang cukup besar-besaran. Belum lagi sederet pemain film papan atas yang diumumkan turut meramaikan film garapan Joko Anwar tersebut. Namun pengalaman mengajarkan kita bahwa hype belum tentu sejalan dengan kualitas—misalnya adaptasi ulang Wiro Sableng yang kurang berhasil memanfaatkan momentum investasi dari Fox pada 2018. Maka dari itu, ada baiknya Anda menjaga ekspektasi ketika hendak menonton film perdana dari Jagat Sinema Bumilangit ini.

 

Ada hal-hal yang rasanya bisa kita tuntut dari film garapan Joko Anwar ini. Misalnya desain produksi world building, dan sinematografi yang tentunya matang. Gundala hadir dengan visual noir ala Kala. Ini senada dengan narasi gelap yang hendak disampaikan Joko Anwar kepada publik tentang pahlawan supernya. Membuat film ini meskipun secara strategi pemasaran mengikuti Marvel habis-habisan, tetapi rasanya lebih banyak mengadaptasi DC dalam hal pengembangan cerita dan karakter.

 

Singkatnya Joko Anwar cukup berhasil membangun sebuah dunia alternatif yang menjadi latar Jagat Sinema Bumilangit: Jakarta yang lain, yang lebih gelap dan kacau lewat desain produksi dan sinematografi.

 

Yang masih mengganjal justru hal-hal seperti pengembangan karakter dan cerita yang terasa belum dieksplorasi secara maksimal. Karakter Sancaka misalnya. Meski mendapatkan jatah hampir 1/3 bagian pertama film untuk menceritakan latar belakangnya, karakter Sancaka (Abimana Aryasatya) masih terasa mengambang. Seluruh trauma dan kenangan masa kecilnya muncul dengan cara-cara yang literal di masa dewasanya. Mulai dari ucapan Pak Agung (Pritt Timothy) yang menegaskan argumen Awang (Faris Fadjar Munggalan) tentang bagaimana ia harus mengurusi urusannya sendiri sampai omongan Wulan (Tara Basro) tentang keadilan yang sama persis dengan omongan bapaknya.

 

Tapi yang tak muncul secara gamblang justru bagaimana Sancaka bisa mendapatkan kekuatan dari petir dan menggunakannya? Memang ada sedikit dialog yang mengatakan hujan belum akan turun dan Sancaka sudah nampak kelelahan. Tapi tidak dijelaskan apakah Sancaka hanya bisa menggunakan kekuatannya setelah disambar petir? Semacam di-charger begitu? Ataukah justru ia bisa sampai memanggil petir untuk bekerja atas kehendaknya?

 

Tidak hanya Sancaka, dua karakter lain yang terasa belum digarap dengan maksimal adalah Pengkor (Bront Palarae) dan Ghani Zulham (Ario Bayu). Ya, Joko memang menampilkan sekilas masa lalu Pengkor. Tapi justru ia belum berhasil memperlihatkan dualitas Pengkor yang dinyatakan sejak awal: bahwa ia mafia bagi sebagian orang, tapi sekaligus layaknya Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang bagi sebagian lainnya. Sayang, karakter Pengkor justru terasa agak datar, picik tok.

 

Mungkin, ada baiknya jika Pengkor tak muncul dulu di film ini. Biarkan ia menjadi “Bapak” yang tak tersentuh di film pertama ini dan baru muncul kemudian. Dan biarkan para jenderal anak-anak kesayangan Bapak yang melawan Sancaka satu per satu didampingi Ghani Zulham sebagai tangan kanannya. Meskipun di film ini juga kurang jelas bagaimana hubungan antara Ghazul dan Pengkor. Rekan bisnis? Anak buah? Ini pula yang membuat adegan terakhir film yang cukup berkesan jadi kekurangan efek “nendang”.

 

Bagian film lain yang juga mengganjal adalah cerita utama tentang serum amoral. Hal ini cukup mengganggu saya karena rasanya terlalu pretensius. Memangnya bisa moral dipengaruhi serum? Akan lebih masuk akal jika serum itu bisa menyebabkan kematian janin atau membuat janin jadi menyakiti sang ibu. Belum lagi adegan Sancaka kecil yang hampir diadopsi orang asing yang baru pertama ditemuinya di jalan, bagian ini terasa kaku dan tak masuk akal. Mengapa tidak sekalian ia masuk panti asuhan tetapi menolak ketika ada yang datang hendak mengadopsi?

 

Terakhir, adalah pertarungan puncak yang rasanya terlalu rapi dan membuang-buang karakter dengan percuma. Saat pertarungan puncak itu Sancaka dihadapkan dengan para jenderal, anak-anak emas Bapak. Tentunya Sancaka menang dengan cukup mudah. Yang menjadi masalah adalah karakter-karakter itu mestinya tidak hanya muncul di 15 menit terakhir film. Kenapa kemunculan mereka tidak disebar sepanjang film? Bukankah sayang karakter-karakter yang mestinya kuat tersebut, dan dibintangi oleh bintang-bintang ternama, hanya jadi sentuhan akhir yang tidak punya cerita?

 

Sebagai film pahlawan super Indonesia perdana, Joko Anwar dan timnya tentu masih meraba-raba formula yang tepat untuk menyajikan Gundala.  Secara keseluruhan, film ini boleh dibilang jadi pembuka yang pas. Terlepas dari beberapa kekurangannya, Joko Anwar cukup berhasil membangun fondasi yang solid untuk pengembangan Jagat Sinema Bumilangit. Gundala memberikan tontonan yang cukup menyenangkan dan menghibur serta cukup membuat penonton penasaran dan menantikan kelanjutan Jagat Sinema Bumilangit. (SIR). Foto: Dok. Istimewa
 

 


Topic

Movies

Author

DEWI INDONESIA