
Di tepian barat Jakarta, mobil kami melipir dari jalan tol. Alih-alih pencakar langit, padang rumput dengan pepohonan yang melambai malas-malas menghambur. Sebuah bangunan tinggi berlapis kaca memantulkan cahaya sore nan jingga ke sebuah château di tepi danau ilalang. Panorama inilah yang menyambut DEWI ketika menyambangi Marqen, hotel teranyar di Puri Indah, mahakarya besutan Bill Susanto.
Visi paripurna Bill Susanto: keindahan dalam keramahan

Marqen didirikan oleh Bill Susanto terinspirasi dari pengalamannya tinggal di London dan Los Angeles, dua kota global yang menjadi melting pot budaya, ketika menuntut studi di Le Cordon Bleu London. Seorang host yang gemar mempertemukan orang lewat jamuan, Bill membayangkan sebuah hotel yang dapat meleburkan berbagai gaya: arsitektur, budaya, pelesir, dan gastronomi. Marqen menjadi ejawantah sebuah visi ini, berdiri sebagai hotel yang meleburkan semua fasade gaya hidup di satu destinasi utama.
“Saya mempercayai bahwa keramahtamahan terbaik bukan diukur dari rancang bangun sebuah tempat, melainkan perasaan orang yang melangkah memasukinya,” Bill menjelaskan visinya.

Menjelajah lebih dalam: sebuah lanskap klasik

Hotel ini didirikan di area seluas lima hektar di Puri Indah, area bisnis yang berkembang pesat di Jakarta Barat. Hotel gaya hidup mewah di area ini seakan memperkenalkan joie de vivre di tengah hiruk-pikuk urban. Filosofi desainnya terinspirasi spezzatura Italia: keanggunan yang prasaja, tanpa usaha.
Sebanyak 166 kamar menyambut tamu yang ingin menyamankan diri dalam yang terbaik di hidup ini. Tiap tamu memiliki Host yang berfungsi sebagai Iconmakers untuk memastikan sebuah pengalaman menginap nan ikonis. Tamu diundang melancong, bercengkerama, dan hidup dalam kenyamanan paripurna.



Kenyamanan hidup berarti juga menjaga kebugaran. Sebuah infinity pool mengundang pelancong untuk berenang di bawah teduh panorama Marqen. Selain itu, terdapat pusat kebugaran dan sauna. Menariknya, Marqen memiliki cold plunge sesuai tren kesehatan teranyar. Lanskap berbukit Marqen juga dihiasi track untuk jogging dan bersepeda.


Sebuah ruang istimewa: Le Château Marqen




Yang lebih istimewa, hotel ini memiliki sebuah piece de resistance: Le Château Marqen. Didapuk sebagai château pertama di Jakarta, bangunan ini adalah sebuah ballroom bergaya rumah pedesaan khas Bordeaux dari abad 17-19. Arsitektur klasik ini diinterpretasi ulang dengan siluet yang lebih kontemporer. Le Château Marqen dirancang untuk private gathering, executive meetings, dan perayaan berbagai bentuk. Sesuai dengan visi Marqen: bahwa setiap hal patut dirayakan dalam ruang istimewa.
Bersantap dan bersantai: restoran dan lounge pilihan

Hotel ini memiliki restoran khas: Cardo, dengan kulinaria Mediterania. Dari semenanjung Iberia di Spanyol hingga pesisir Côte d’Azur di Riviera Prancis, Cardo menyajikan menu khas seperti panggang daging asado yang dihidangkan makan tengah.

Sementara itu, The Living Room mengubah lobi hotel menjadi sebuah arena sosial untuk bertatap muka sambil menyesap minuman santai. The Terrace adalah pusat aktivitas ketika sore menjelang. Panorama matahari terbenam yang spektakuler dari pelataran Marqen didampingi oleh racikan koktail dan musik pilihan.
Marqen seakan memulai sebuah kultur yang liyan di Jakarta Barat. Kehidupan yang lebih lamban, khas santainya pelesir, pun semarak dengan selebrasi kultural… dan indah, selalu indah.