
Indonesia menjadi lokasi pertama dalam fase baru Max Mara Art Prize for Women (2025–2027), yang untuk pertama kalinya mengadopsi format nomadik dan berpindah ke negara berbeda di setiap edisinya. Dalam tahap awal ini, lima seniman perempuan—Betty Adii, Dzikra Afifah, Ipeh Nur, Mira Rizki, dan Dian Suci—terpilih sebagai finalis.
Keragaman Praktik Lima Finalis
Ketua dewan juri Max Mara Art Prize for Women, Cecilia Alemani, menyoroti keberagaman pendekatan artistik yang dibawa oleh para finalis. Menurutnya, karya-karya mereka bergerak di antara teknik yang berakar pada tradisi dan praktik kontemporer—mulai dari proses keramik yang menyimpan jejak pengetahuan leluhur, kisah-kisah mitologi maritim, hingga eksplorasi bahasa artistik yang lebih mutakhir seperti soundscape dan video.
Namun bagi Alemani, kekuatan para seniman ini tidak hanya terletak pada kemampuan teknis mereka. Ia melihat bagaimana karya-karya tersebut mampu menghubungkan cerita personal dengan persoalan yang lebih luas.
“Yang menarik, mereka dapat merangkai kisah-kisah yang sangat pribadi, seperti tentang kehidupan domestik dan pengalaman sehari-hari, dengan refleksi yang lebih besar tentang sejarah politik dan keadilan sosial,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa penghargaan ini dirancang untuk memberi ruang bagi salah satu dari mereka untuk mengembangkan gagasannya secara lebih mendalam.
“Melalui residensi dan dukungan yang diberikan, seniman memiliki waktu dan struktur yang diperlukan untuk mewujudkan visinya,” lanjut Alemani. “Dengan membangun jembatan budaya antara Italia dan Indonesia, kami tidak hanya memperkenalkan lima praktik artistik yang menarik, tetapi juga membuka ruang bagi suara-suara yang berpotensi memperkaya percakapan seni di tingkat global.”
Lima Praktik Artistik, Lima Cara Membaca Dunia
Betty Adii, seniman asal Papua yang kini tinggal di Yogyakarta, dikenal melalui karya-karya yang berangkat dari pengalaman perempuan Papua. Tanpa pendidikan seni formal, praktiknya berkembang secara otodidak melalui gambar, lukisan, dan instalasi yang merangkai narasi personal dengan sejarah kolektif. Dalam karyanya, ia kerap memadukan referensi budaya tradisional dengan bentuk visual kontemporer untuk menantang narasi dominan tentang Papua sekaligus menghadirkan suara perempuan dari wilayah tersebut.
Di Bandung, Dzikra Afifah bekerja terutama dengan keramik melalui proses yang tidak biasa. Ia membentuk massa tanah liat padat sebelum perlahan mengosongkannya dari dalam. Proses ini membuat bentuk karya berubah dan kadang tak terduga saat pembakaran. Bagi Afifah, kerja fisik—menguleni, memahat, dan memindahkan material—menjadi bagian penting dari proses artistiknya, membuka ruang negosiasi antara tubuh seniman dan materi.
Sementara itu, Ipeh Nur, perupa asal Yogyakarta, membangun praktik yang bergerak di antara memori, mitologi, dan sejarah lisan. Ia bekerja melalui berbagai medium seperti gambar, lukisan, batik, keramik, instalasi, hingga video. Dalam beberapa tahun terakhir, penelitiannya berfokus pada budaya maritim Nusantara, menggali hubungan antara tubuh, material, dan ingatan kolektif yang tersimpan dalam kisah-kisah lama.
Pendekatan berbeda datang dari Mira Rizki, seniman multidisipliner dari Bandung yang mengeksplorasi suara sebagai medium utama. Ia tertarik pada bagaimana memori dan lingkungan membentuk cara kita mendengar. Melalui eksperimen dengan soundscape dan instalasi interaktif, Mira menciptakan pengalaman imersif yang mengajak penonton menyadari bahwa setiap orang memiliki pengalaman mendengar yang berbeda.
Sementara itu, Dian Suci, yang tinggal dan bekerja di Yogyakarta, menghadirkan praktik yang berakar pada pengalaman personalnya sebagai ibu tunggal. Karyanya menyoroti hubungan antara ruang domestik dan kekuasaan politik. Melalui instalasi, lukisan, video, dan patung, Dian membahas isu patriarki, otoritarianisme, serta bagaimana struktur sosial memengaruhi kehidupan perempuan sehari-hari.
***
Didirikan pada 2005 oleh Max Mara Fashion Group, penghargaan ini berfokus pada dukungan bagi seniman perempuan yang berada pada tahap berkembang maupun pertengahan karier. Untuk edisi kali ini, proses seleksi dilakukan oleh dewan juri yang dipimpin kurator Cecilia Alemani, bersama Direktur Museum MACAN Venus Lau, kurator Amanda Ariawan, gallerist Megan Arlin, kolektor Evelyn Halim, dan seniman Melati Suryodarmo.
Seniman yang terpilih nantinya akan menjalani residensi selama enam bulan di Italia yang diselenggarakan oleh Collezione Maramotti. Selama masa residensi tersebut, mereka akan mengembangkan proyek artistik baru yang kemudian dipresentasikan dalam dua pameran tunggal, di Museum MACAN dan di Collezione Maramotti, yang juga akan mengakuisisi karya yang dihasilkan.