Mengapa Film Sentimental Value (2025) Terasa Begitu Menghantui?

Dinominasikan untuk Best Picture di Oscar 2026, cerita film ini bergerak melalui gestur, percakapan, dan ruang-ruang yang terasa penuh kenangan.
Gustav, sang ayah, kembali ke rumah keluarga setelah kematian istrinya. Namun kepulangannya bukan sekadar untuk berduka. Ia datang dengan rencana lain: menawarkan peran utama dalam film yang sedang ia tulis kepada Nora.

Film keenam karya Joachim Trier ini mengikuti kisah keluarga yang retak selama beberapa dekade: seorang ayah pembuat film yang terasing dari kedua putrinya, Nora dan Agnes. Nora (diperankan Renate Reinsve) adalah anak sulung yang tumbuh menjadi aktris. Karakternya kuat, tajam, tetapi emosionalnya tertutup. Sementara adiknya, Agnes (Inga Ibsdotter Lilleaas), menjalani kehidupan keluarga yang tampak lebih stabil.

Di tengah hubungan yang canggung itu, sang ayah, Gustav Borg (Stellan Skarsgård), yang merupakan seorang pembuat film, mencoba memperbaiki hubungan dengan Nora dengan cara yang ia kenal paling baik: menulis sebuah skenario film tentang masa lalu mereka.

Namun kekuatan film yang masuk nominasi Film Terbaik di Oscar 2026 ini bukan hanya pada ceritanya. Film ini terasa begitu efektif karena cara ia bercerita; yang begitu tenang, perlahan, dan intim.

Advertisement

Rumah, Wadah Memori Keluarga

Salah satu elemen paling mencolok dalam Sentimental Value adalah rumah keluarga Borg di Oslo. Jika di banyak film rumah menjadi latar cerita belaka, di film ini ruang-ruang di dalam rumah keluarga ini seperti wadah yang menyimpan banyak sekali memori keluarga.

Ada sebuah montase di film ini yang menampilkan rumah tersebut dari masa ke masa, menjadi saksi bisu atas generasi-generasi keluarga Borg yang datang dan pergi. Rumah ini menjadi arsip memori, menyimpan trauma, cinta, dan konflik yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Evolusi rumah tersebut, dari interior gelap awal abad ke-20 hingga minimalis modern, juga mencerminkan pergeseran emosi keluarga. Penggunaan ruang sebagai wadah memori inilah yang menciptakan rasa kontinuitas dan keterhubungan yang kuat antar generasi, serta menekankan bagaimana masa lalu terus menghantui masa kini.

Film dalam Film

Rachel (Elle Fanning) mulai merasakan ada sesuatu yang “ganjil” dari tawaran peran yang ia terima: sebuah beban emosional dari naskah Gustav yang ternyata jauh lebih personal daripada sekadar fiksi.

Gustav, seorang pembuat film, kembali ke rumah keluarganya setelah kematian mendiang istrinya. Ia rupanya punya agenda lain: mengajak putri sulungnya, Nora untuk memerankan karakter dalam film yang naskahnya sedang ia garap. Hilang tak tentu rimba, lalu sekonyong-konyong kembali, tentu ajakan ini ditolak mentah-mentah oleh Nora.

Ketika Nora menolak, Gustav akhirnya menawarkan peran itu kepada seorang bintang Hollywood muda, Rachel Kemp (Elle Fanning). Namun seiring waktu, Rachel mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres—seolah ia sedang masuk terlalu jauh ke dalam luka keluarga orang lain.

Beban Mental Si Anak Sulung

Nora adalah anak sulung yang sejak kecil dipaksa menjadi “batu karang” bagi keluarganya, tempat semua orang bersandar.

Salah satu adegan paling menyentuh adalah ketika Agnes meminta Nora membacakan naskah film yang ditulis oleh Gustav. Agnes memintanya membaca sebuah adegan tertentu, sebuah adegan ketika sang karakter (yang merupakan cerminan dari nenek mereka) menghadapi duka dan warisan traumatisnya.

Setelah membacanya, Nora, si kakak pertama yang sejak kecil dipaksa menjadi “batu karang” bagi keluarganya, bertanya pada adiknya, Agnes, bagaimana ia bisa tumbuh menjadi pribadi yang “normal” meski melalui masa kecil yang sama-sama traumatis.

Agnes tertegun melihat betapa adiknya tumbuh dewasa, lalu menikah dan menjadi ibu bagi seorang anak laki-laki. Mendengar sang kakak melontarkan pertanyaan ini, Agnes menjawab, “Aku memilikimu. Sejak dulu kamu membuatku merasa aman.”

***

Sentimental Value tidak memberi kita jalan keluar yang mudah atau “closure” yang manis . Ia meninggalkan kita dengan rasa getir yang lembut dan serangkaian pertanyaan rumit tentang cinta, seni, dan warisan luka yang tak terucapkan. Seperti halnya rumah tua di Oslo itu, film ini akan tinggal lama di benak kita, menggemakan bisik-bisik emosi yang tak pernah benar-benar padam.

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post
Ritual Kelembapan: 5 Moisturizer untuk Kulit Tetap Nyaman Selama Ramadan

Ritual Kelembapan: 5 Moisturizer untuk Kulit Tetap Nyaman Selama Ramadan

Next Post
Sensatia Ramadan Pure Moments: Panduan Holistik Merawat Kulit Selama Berpuasa

Sensatia Ramadan Pure Moments: Panduan Holistik Merawat Kulit Selama Berpuasa

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.