Train Dreams (2025): Elegi tentang Manusia, Alam, dan Kehilangan
5 Fakta Menarik Oscars 2026: Dari Rekor Emma Stone hingga Kembalinya Suara Mary Shelley

5 Fakta Menarik Oscars 2026: Dari Rekor Emma Stone hingga Kembalinya Suara Mary Shelley

Dari pemecahan rekor oleh Emma Stone hingga adaptasi sastra klasik yang melampaui zaman, berikut adalah lima fakta menarik yang membuktikan bahwa tahun ini adalah milik para perempuan hebat.
Di perhelatan The Academy Awards tahun ini, Emma Stone resmi menjadi perempuan termuda dalam sejarah yang mengoleksi tujuh nominasi Oscar, melampaui rekor Meryl Streep yang memegang gelar tersebut di usia 38 tahun.

Tahun ini, antisipasi malam penghargaan The Academy Awards atau Oscar terasa jauh lebih besar. Bukan hanya karena Sinners memecahkan rekor dengan 16 nominasi, melampaui TitanicLa La Land, dan All About Eve yang sebelumnya bertengger di angka 14 . Bukan pula karena persaingan ketat antara film-film besar seperti One Battle After Another dan Train Dreams (2025) .

Bagi kita yang percaya bahwa sinema adalah cermin kemanusiaan, tahun ini menawarkan banyak kisah yang layak direnungkan. Dari rekor Emma Stone yang melampaui Meryl Streep, hingga gaung suara novelis Mary Shelley yang baru benar-benar didengar dua abad kemudian; semuanya berbicara tentang satu hal: perjalanan panjang perempuan untuk didengar, diakui, dan dirayakan.

Berikut adalah enam fakta menarik yang membuktikan bahwa tahun ini adalah panggung bagi para perempuan hebat:lensa perempuan.

Advertisement

1. Emma Stone Mengoleksi Tujuh Nominasi Oscar

Nama Emma Stone kembali masuk dalam nominasi Aktris Terbaik yang bersaing untuk Piala Oscar 2026. Tak sekadar berakting, ia juga menjadi produser di film Bugonia arahan sutradara Yorgos Lanthimos ini.

Di usianya yang ke-37, Emma Stone tidak hanya sekadar aktris berbakat; ia adalah fenomena. Tahun ini, sang bintang film Bugonia arahan sutradara Yorgos Lanthimos ini resmi menjadi perempuan termuda dalam sejarah yang mengoleksi tujuh nominasi Oscar.

Pencapaiannya di Oscar tahun ini melampaui rekor aktris Meryl Streep yang memegang gelar tersebut di usia 38 tahun. Stone juga menjadi satu-satunya aktris yang lima nominasi Oscar pertamanya berasal dari film yang juga masuk kategori Best Picture. Dalam kurun waktu 11 tahun, ia mendapat pengakuan lewat Birdman, The Favourite, Bugonia, La La Land, dan Poor Things—dua di antaranya memberinya kemenangan Oscar.

2. Frankenstein: Suara Mary Shelley yang Kembali Bergema Setelah Dua Abad

Guillermo del Toro Del Toro konon membaca novel Frankenstein berulang kali dan memutuskan bahwa adaptasinya harus kembali ke akar: kisah tentang makhluk yang hanya ingin dicintai.

Ada jeda waktu 207 tahun antara terbitnya novel Frankenstein karya Mary Shelley pada tahun 1818 dan film adaptasi Guillermo del Toro yang tayang di Netflix tahun 2025. Jeda ini menempatkan Frankenstein ini sebagai salah satu adaptasi dengan rentang waktu terpanjang dalam sejarah Oscar; hanya kalah dari Tom Jones (214 tahun), Hamlet (395 tahun), dan O Brother Where Art Thou (2.700 tahun dari mitologi Yunani).

Namun selama dua abad, kisahnya lebih sering diceritakan melalui sudut pandang laki-laki. Victor Frankenstein-lah yang menjadi pusat narasi; ciptaannya yang malang menjadi simbol kengerian; sementara suara Mary Shelley sendiri sering tenggelam dalam bayang-bayang para penerjemah dan adaptor laki-laki.

Barulah di tahun 2025, Guillermo del Toro—seorang sutradara laki-laki—menghadirkan adaptasi yang konon paling setia pada visi asli Shelley. Del Toro, dengan segala kepekaannya terhadap “para monster” yang kesepian, disebut-sebut berhasil menangkap esensi novel tersebut: bukan sekadar kisah horor tentang makhluk mengerikan, melainkan fabel tentang kemampuan memaafkan, tentang pencarian jati diri, dan tentang kebutuhan paling dasar manusia untuk dicintai.

3. Kolaborasi yang Setia antara Sutradara dengan Sang Aktris

Alih-alih memilih proyek komersial yang menjanjikan box office, Emma Stone justru terus kembali bekerja dengan Yorgos Lanthimos, sutradara dengan gaya dialog datar, framing canggung, dan karakter tak terduga; karena di situlah ia bisa menantang batas aktingnya.

Salah satu tren menarik tahun ini adalah tingginya tingkat loyalitas antara aktor/aktris dan sutradara. Empat nominasi akting utama tahun ini berasal dari film yang disutradarai oleh kolaborator jangka panjang mereka.

Dari keempat pasangan tersebut, dua di antaranya melibatkan aktris yang memilih untuk terus bekerja dengan sutradara yang memahami mereka secara kreatif. Emma Stone dan Yorgos Lanthimos telah bekerja sama dalam lima film. Renate Reinsve dan Joachim Trier telah tiga kali berkolaborasi—termasuk dalam film Sentimental Value (2025) yang membawa Reinsve masuk nominasi tahun ini.

4. Jessie Buckley: Menjemput Sejarah untuk Irlandia

Irlandia belum pernah memiliki pemenang Aktris Terbaik dalam sejarah Oscar. Saoirse Ronan sudah empat kali mencoba, Ruth Negga sekali, tapi piala itu selalu luput. Brenda Fricker memang menang Aktris Pendukung pada 1989, tapi kategori utama masih menjadi mimpi yang belum terwujud.

Tahun ini, Jessie Buckley hampir dipastikan akan mengubah sejarah tersebut.

Aktris kelahiran Kerry ini telah menyapu bersih semua ajang penghargaan utama: Critics Choice, Golden Globe, Bafta, dan Actor Awards. Tinggal satu langkah lagi menuju Oscar. Jika menang, ia akan menjadi aktris pertama yang “memenangkan semua” sejak Renée Zellweger untuk Judy pada 2020.

5. Musik yang Menyatukan Shakespeare dan EastEnders

Film Hamnet (2025) karya sutradara Chloé Zhao juga membawa fakta menarik tersendiri. Meski film tersebut memiliki musik orisinal, Zhao memilih menggunakan komposisi berusia dua dekade untuk adegan penutupnya: “On the Nature of Daylight” karya Max Richter.

Komposisi yang sangat emosional ini sudah digunakan oleh banyak film dan serial dalam 20 tahun terakhir, termasuk Arrival, Shutter Island, The Last of Us, The Handmaid’s Tale, hingga Stranger Than Fiction. Bahkan musik ini juga pernah muncul dalam serial Inggris EastEnders pada Februari 2020, dalam episode yang menandai kematian Dennis Rickman Jr. setelah insiden kapal yang tragis.

Kisah di balik pemilihan lagu ini pun tak kalah menarik. Jessie Buckley-lah yang mengirimkan lagu tersebut kepada Chloé Zhao saat proses syuting tinggal empat hari. “Ini membuka akhir cerita untuknya,” kata Richter kepada IndieWire. Zhao, yang sedang dalam perjalanan menuju lokasi syuting, tiba-tiba mendapatkan pencerahan. “Lupakan semua yang rencanakan, kita akan lakukan sesuatu yang berbeda.” Adegan “meraih tangan” yang ikonik di akhir film lahir langsung dari inspirasi musik ini 

***

Bagi industri film dunia, The Academy Awards atau Oscar bukan sekadar ajang pemberian piala berlapis emas; ia adalah salah satu tolok ukur pencapaian artistik tertinggi dan perayaan atas berbagai narasi yang membentuk kemanusiaan kita.

Namun lebih dari pada itu, para pengamat menyebut bahwa tahun ini The Academy Awards mengusung tema “kemanusiaan.” “Semuanya terinspirasi oleh sentuhan manusia,” kata produser eksekutif Raj Kapoor. Direktur musik Michael Bearden menambahkan, “Kami merayakan sentuhan manusia, koneksi antarmanusia, dan kecerdasan yang sesungguhnya—bukan kecerdasan buatan”


Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post
Train Dreams (2025): Elegi tentang Manusia, Alam, dan Kehilangan

Train Dreams (2025): Elegi tentang Manusia, Alam, dan Kehilangan

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.