Frankenstein: Suara Mary Shelley yang Kembali Bergema Setelah Dua Abad

Ada jeda 207 tahun antara terbitnya novel asli Mary Shelley pada 1818 dengan visi del Toro di layar Netflix tahun 2025.
Jeda antara kelahiran novel dan filmnya mencapai 207 tahun. Ini menempatkan Frankenstein sebagai salah satu adaptasi dengan rentang waktu terpanjang dalam sejarah Oscar

Di antara film-film yang masuk nominasi Film Terbaik (Best Picture) di Academy Awards 2026, salah satu yang paling menarik perhatian adalah Frankenstein (2025) karya Guillermo del Toro. Film ini bukan sekadar adaptasi sastra klasik, tetapi juga sebuah perjalanan panjang dalam sejarah, karena ada jarak 207 tahun antara novel aslinya yang ditulis Mary Shelley pada 1818 dan adaptasi film yang akhirnya hadir di layar.

Rentang waktu itu menjadikan Frankenstein salah satu adaptasi dengan jeda terpanjang dalam sejarah Oscar. Hanya beberapa karya yang melampauinya, seperti Tom Jones (214 tahun), Hamlet (395 tahun), dan O Brother Where Art Thou yang terinspirasi dari epos Yunani kuno The Odyssey—dengan jarak hampir 2.700 tahun.

Namun lebih dari itu, versi adaptasi terbaru Frankenstein ini dan keberadaan film ini di panggung Oscar menunjukkan sesuatu yang lain: bahwa gagasan seorang penulis perempuan berusia 18 tahun pada abad ke-19 masih mampu berbicara kepada dunia hari ini.

Advertisement

Mary Shelley: Perempuan di Balik Monster Frankenstein

Ketika menulis Frankenstein, Mary Shelley baru berusia 18 tahun. Di usia yang sangat belia itu, ia menciptakan kisah yang kemudian dianggap sebagai salah satu fondasi fiksi ilmiah modern. Novel karangannya itu tidak hanya menghadirkan ikon horor yang tak lekang waktu, tetapi juga mengangkat pertanyaan besar tentang penciptaan, tanggung jawab moral, dan bahaya ambisi manusia yang tak terkendali.

Sejatinya, Frankenstein karangan Mary Shelley bukan hanya soal ikon horor, tetapi juga pertanyaan besar tentan penciptaan dan ambisi yang tak terkendali.

Ironisnya, selama lebih dari dua abad, kisah tersebut lebih sering diceritakan dari sudut pandang yang berbeda dari niat awal Shelley. Banyak adaptasi film menempatkan Victor Frankenstein sebagai pusat narasi, sementara sang Monster menjadi simbol teror semata. Dalam prosesnya, lapisan emosional yang ditulis Shelley, yakni tentang kesepian, penolakan, dan kebutuhan manusia untuk dicintai, justru sering kali terpinggirkan.

Barulah di tangan Guillermo del Toro, seorang sutradara yang sepanjang kariernya dikenal mencintai “para makhluk terpinggirkan,” suara Mary Shelley kembali menemukan ruangnya. Del Toro konon membaca novel ini berulang kali dan memutuskan bahwa adaptasinya harus kembali ke akar: kisah tentang makhluk yang hanya ingin dicintai.

Guillermo del Toro: Mencoba Mendengar Kembali Suara Mary Shelley

Guillermo del Toro Del Toro konon membaca novel Frankenstein berulang kali dan memutuskan bahwa adaptasinya harus kembali ke akar: kisah tentang makhluk yang hanya ingin dicintai.

Tentunya di sini ada ironi yang tak bisa diabaikan. Lagi-lagi, seorang sutradara laki-laki yang menjadi juru bicara bagi visi seorang penulis perempuan. Namun del Toro tidak sekadar “menerjemahkan” Mary Shelley. Ia memberi ruang lebih bagi tokoh Elizabeth, tunangan Viktor, yang diperankan Mia Goth.

Dalam Frankenstein versi del Toro ini, Elizabeth bukan sekadar korban pasif di akhir cerita. Ia memiliki ikatan istimewa dengan sang Monster—sebuah hubungan yang lahir dari rasa saling mengenali sebagai makhluk yang terpinggirkan. Elizabeth, seperti halnya monster, adalah “milik” Viktor yang tidak pernah benar-benar dilihat sebagai manusia utuh.

Inilah yang disebut del Toro sebagai “sisi feminin dari kisah Frankenstein”—sebuah lapisan yang selama ini tersembunyi di bawah narasi besar ambisi maskulin. Dengan memberinya ruang, del Toro secara tidak langsung memberikan penghormatan pada Mary Shelley: bahwa kisahnya selalu lebih kompleks dari sekadar “pria membuat monster.”

***

Kehadiran film ini di ajang Oscar 2026 seolah menjadi momen “kepulangan” bagi visi asli Shelley. Guillermo del Toro, yang dikenal sangat peka terhadap sosok-sosok yang terpinggirkan, kali ini tidak hanya mengejar elemen horor. Ia menggali esensi terdalam dari novelnya: sebuah fabel tentang duka, pencarian jati diri, dan keinginan mendasar setiap manusia untuk dicintai.

Meskipun butuh waktu dua abad bagi Hollywood untuk benar-benar “mendengarkan”, film ini menjadi bukti bahwa pesan yang ditulis seorang remaja perempuan di tahun 1818 masih menjadi kompas moral yang relevan hingga hari ini.

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post
Mengapa Film Sentimental Value (2025) Terasa Begitu Menghantui?

Mengapa Film Sentimental Value (2025) Terasa Begitu Menghantui?

Next Post
Sensatia Ramadan Pure Moments: Panduan Holistik Merawat Kulit Selama Berpuasa

Sensatia Ramadan Pure Moments: Panduan Holistik Merawat Kulit Selama Berpuasa

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.