
Film Frankenstein arahan sutradara Guillermo del Toro memenangkan piala Oscar untuk kategori Best Costume Design. Penghargaan ini menjadi kemenangan Academy Awards pertama bagi desainer kostum asal Selandia Baru, Kate Hawley.
Sebelumnya, Hawley dikenal lewat karya visual yang kuat dalam film-film fantasi dan periodik seperti Pacific Rim (2013), Crimson Peak (2015), The Lovely Bones (2009), trilogi The Hobbit (2012), serta Edge of Tomorrow(2014).
Dalam film Frankenstein, Hawley kembali berkolaborasi dengan del Toro. Kali ini untuk menciptakan dunia visual yang mengambil latar 1850-an, masa ketika penemuan medis dan teknologi berkembang pesat yang memperkuat tema eksperimen ilmiah dan kemanusiaan dalam cerita.
Pendekatan Baru pada Estetika Gotik
Desain kostum film Frankenstein menghadirkan pendekatan yang lebih segar dibanding estetika gotik klasik. Palet hitam dan abu-abu yang umumnya mendominasi digantikan dengan warna yang lebih ekspresif untuk menggambarkan emosi, identitas, serta transformasi karakter.
Inspirasi visual datang dari gerakan Art Nouveau, arsip perhiasan Tiffany & Co., serta bentuk organik dari alam dan biologi. Referensi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai detail desain, mulai dari motif tulang belakang, pola menyerupai struktur sel, hingga tekstur yang mengingatkan pada sayap serangga yang berulang dalam kostum.
Di Balik Kostum Para Karakter


Inspirasi ilmiah terlihat jelas pada karakter Elizabeth yang diperankan Mia Goth. Hawley merancang gaun-gaunnya menggunakan duchess silk satin, organza, dan lapisan sheer silk yang transparan. Salah satu desainnya dikenal sebagai “X-ray dress”, sebuah gaun berlapis yang seolah memperlihatkan struktur tubuh manusia. Pendekatan ini mencerminkan ketertarikan Elizabeth pada dunia biologi dan entomologi sekaligus menonjolkan sisi rapuh dan emosional dari karakternya.

Sementara itu, karakter Creature yang diperankan Jacob Elordi dirancang dengan tampilan yang lebih humanis. Hawley membayangkannya seperti makhluk yang baru lahir dengan kualitas visual yang lembut dan hampir transparan, sehingga menghadirkan rasa empati yang lebih kuat terhadap sosok tersebut.

Untuk karakter Victor Frankenstein yang dimainkan Oscar Isaac, Hawley memadukan estetika Romantis abad ke-19 dengan sentuhan yang lebih ekspresif. Siluet blus penyair yang dramatis menjadi salah satu elemen penting dalam tampilannya. Inspirasi visual karakter ini juga mengambil referensi dari figur musik seperti Mick Jagger dan David Bowie, menciptakan karakter sosok ilmuwan yang karismatik sekaligus eksentrik.
Melalui perpaduan referensi sejarah, seni, sains, dan budaya pop, desain kostum Hawley memperkuat narasi film dan menjadikan busana sebagai bagian penting dalam membangun emosi serta perjalanan karakter di dalam cerita.