Sulit Tidur Meski Lelah? Coba 5 Tips Ini Agar Istirahat Lebih Nyenyak
Ubud Food Festival 2026: Memuliakan Tani, Merayakan Boga

Ubud Food Festival 2026: Memuliakan Tani, Merayakan Boga

Ubud Food Festival 2026 bertajuk "Farmers: Guardians of the Land and Sea" mengundang petani, chef, dan mixologist merayakan rantai pasok pangan.
Pendiri Ubud Food Festival, Janet de Neefe, berpose dengan peraih Lifetime Achievement Award, Helianti Hilman, pendiri Javara; dalam malam pembukaan Ubud Food Festival 2026.

Ubud Food Festival 2026 baru saja selesai digelar awal bulan ini di Taman Kuliner, Ubud, Bali. Bertajuk “Farmers: Guardians of the Land and Sea”, festival ini merayakan petani sebagai saka guru gastronomi.

Memuliakan tani, merayakan boga

Selama empat hari, Ubud semarak dengan perayaan gastronomi. Ubud Food Festival memiliki beberapa format acara. Taman Kuliner, pusat aktivitas festival ini, menjadi tuan rumah berbagai diskusi panel untuk memperbincangkan topik-topik terkini gastronomi; masterclass, lokakarya memasak bersama pegiat gastronomi; serta pekan kuliner dari berbagai restoran, jenama, dan juru masak.

Selain itu, berbagai restoran dan bar di Ubud menjadi tuan rumah acara-acara andrawina empat tangan dan acaraki tamu. Para chef dan mixologist mancanegara didapuk memperkenalkan racikan terbaik mereka, menghidangkan padu-padan sajian dua budaya. Cita rasa yang dikecap, lantas, menjadi selebrasi yang semarak: khazanah kuliner Nusantara diinterpretasi dalam lidah yang beragam.

Advertisement

Ajang berkumpulnya pegiat pangan dan boga mancanegara

Festival berskala internasional ini mengundang tidak hanya chef dan mixologist mancanegara, melainkan juga petani, nelayan, bahkan komunitas adat.

Beberapa di antaranya adalah Helianti Hilman, pegiat pangan adat dan peraih Lifetime Achievement Award; Kate Reid dari Lune Croissanterie yang memulai obsesi global terhadap croissant; Joe Napol, chef peraih bintang Michelin dari Bangkok; dan Darren Leaney dari Caretaker’s Cottage, acaraki pujaan hati Melbourne.

Salah satu sosok bintang dalam festival ini adalah Kate Reid. Puan ini adalah pendiri Lune Croissanterie, bakery yang konon memiliki croissant terbaik di dunia. Sejak dibangun empat belas tahun lalu oleh Kate sendiri, Lune telah memiliki lebih dari 20 gerai di Melbourne dan mempekerjakan hingga 300 orang. Demikian masyhur Kate hingga didapuk menjadi juri kompetisi croissant yang dimenangkan oleh Stray Dog, cafe dan recording store di Kuta.

Menariknya, Kate tidak memulai karir dari awal dalam bidang gastronomi. Kate justru berawal sebagai seorang insinyur untuk Formula 1, sebelum memutuskan banting setir menggulung croissant. Sepak terjang Kate ia tuliskan dalam memoarnya, Destination Moon.

Selain itu, turut hadir Darren Leaney, acaraki dari bar pujaan hati wargi Melbourne, Caretaker’s Cottage. Memiliki pembawaan yang santai pun ramah, Darren membesut Caretaker’s Cottage sebagai pengalaman bersulang yang liyan. Karakter ini tertuang dalam koktail Darren yang relatif kohesif: tidak banyak ornamentasi dan kontras, pun berpadu selaras dengan gradasi nuansa yang subtil.

Salah satu racikan yang paling terkenal, “Nod to Nothing”,  memadukan Citadelle gin dengan liqueur aprikot, lillet blanc, jus yuzu, dan menariknya sirup melati. Hasilnya adalah koktai bening dalam nuansa gading keemasan yang ringan, manis, pun segar, pas disajikan sore hari dalam sesi Sundown Session yang dijamu oleh DEWI untuk menutup Ubud Food Festival.

Dari jajanan ke andrawina: berbagai hidangan untuk disantap

Andrawina-andrawina yang menyemarakkan Ubud Food Festival menyajikan cita rasa yang menarik. 

Joe Napol, chef asal Bangkok peraih dua bintang Michelin untuk Nawa dan Michelin Guide untuk Samlor, menghidangkan interpretasinya terhadap kulinaria Nusantara. Digelar di Indus Restaurant, masakan Bali diracik dengan bumbu Thai, menghasilkan gegar budaya yang unik.

Di Four Seasons Resort at Sayan, tersaji reuni antara sepasang guru dan murid: Frank Camorra dari MoVida, Melbourne, dan Andres Becerra dari Santanera, Bali. Keduanya mengolah sajian bahari dalam ragam tekstur, warna, dan rasa. Aperitif membuka andrawina dengan impresif: krim keju dengan kepiting suwir, disendok dengan keripik pisang renyah.

Malam terakhir Ubud Food Festival ditutup oleh chef kenamaan Ubud peraih bintang Michelin, Syrco Bakker dari Syrco BASÈ; yang menyajikan andrawina empat tangan bersama Ben Devlin dari Pipit, restoran kesayangan Melbourne.

Mengecap sajian Ubud Food Festival 2026 dan berbincang dengan pakar boga dan pangan, kita diundang memaknai Tanah Air dengan lebih mendalam. Idiom yang sudah sering kita dengar ini, sejatinya, mengingatkan bahwa yang mengasupi kita berasal dari pulau-pulau dan lautan yang merangkai Nusantara. Tiap bulir nasi tidak akan tersuap tanpa petani-petani yang memunggawangi tradisi agrikultur kita.

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post
Sulit Tidur Meski Lelah? Coba 5 Tips Ini Agar Istirahat Lebih Nyenyak

Sulit Tidur Meski Lelah? Coba 5 Tips Ini Agar Istirahat Lebih Nyenyak

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.