Teater Koma: Rumah Sakit Jiwa, Kenapa Gen Z Masih Bisa Merasa Dekat dengan Naskah Tahun 1991?
Buki Gallery di Ubud Hadirkan Pameran Seni “Samatra” Karya Lima Seniman

Buki Gallery di Ubud Hadirkan Pameran Seni “Samatra” Karya Lima Seniman

Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud menghadirkan pameran kelompok "SAMATRA: Quiet Gestures" yang menampilkan karya lima seniman. Melalui eksplorasi medium yang beragam, pameran ini mengajak publik menyadari bahwa tindakan sederhana sehari-hari memiliki kekuatan besar untuk membentuk keharmonisan dengan alam.
Artworks by Novieta Tourisia
Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud menghadirkan pameran “SAMATRA: Quiet Gestures”, di mana lima seniman mengangkat filosofi Bali tentang ketulusan dan kepedulian secukupnya. Pameran ini mengajak kita jeda sejenak untuk menyadari bahwa menjaga bumi tidak selalu butuh aksi besar, melainkan lewat kebiasaan kecil sehari-hari yang mampu menciptakan hubungan selaras dengan alam.

Berawal dari pemaknaan Samatra dalam bahasa Bali yang menyimbolkan ketulusan lewat suguhan sederhana, sapaan singkat, hingga keikhlasan memberi secukupnya, Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud menghadirkan pameran kelompok SAMATRA: Quiet Gestures yang menampilkan karya A. Jasmine, Dyah Ayu Wulandari, Made Virgie Avianthy, Novieta Tourisia, dan Studio Estéh.

Eksplorasi mediumnya beragam, mulai dari ritual warisan, ingatan terpelihara, hingga perbincangan organis antara tanah, tumbuhan, dan tubuh manusia., pameran ini mengajak publik menyadari bahwa tindakan sederhana sehari-hari memiliki kekuatan besar untuk membentuk keharmonisan dengan alam sekaligus menandai proses pertumbuhan hidup yang bermakna.

Studio Esteh: Menelusuri Batas Cara Pandang

samatra
Studio Estéh membawa karya A Thinking Framework (Sebuah Kerangka Berpikir), yang memadukan jaring kawat besi meliuk dengan rajutan bunga dan daun warna-warni. Karya ini menyimbolkan pola pikir serta batas cara pandang manusia, sekaligus mengajak kita jeda sejenak untuk menumbuhkan kembali kepedulian pada alam sekitar.

Studio Estéh menghadirkan mempersembahkan karyanya yang bertajuk A Thinking Framework (Sebuah Kerangka Berpikir), dengan menggabungkan struktur jaring kawat besi yang meliuk-liuk dengan rajutan benang berbentuk bunga dan dedaunan yang penuh warna-warni menggambarkan bagaimana pola pikir manusia bekerja, antara batas pola pikir dan kebebasan rasa.

Advertisement

Melihat rajutan bunga yang tumbuh menembus sela-sela kawat, kita seolah diingatkan betapa seringnya pikiran kita terkurung dalam prasangka sendiri. Namun, Studio Estéh tidak berniat memberi jawaban pasti. Lewat karya ini, mereka hanya ingin mengajak pengunjung jeda sejenak dari hiruk-pikuk, melihat realitas dari kacamata yang lebih luas, dan pelan-pelan menjalin ulang rasa peduli pada lingkungan sekitar.

Novieta Tourisia: Menjaga Siklus Kehidupan dan Dialog Alam

samatra (2)
Novieta Tourisia membawa karya narasi visual yang menggabungkan elemen tanah, tumbuhan, dan kain. Karyanya merajut pesan tentang hubungan manusia dan alam sebagai satu siklus yang berkelanjutan serta saling terikat utuh.

Berpengalaman mengolah dialog antara medium dan lingkungan, Novieta Tourisia mendefinisikan hubungan manusia dan alam sebagai satu siklus yang berkelanjutan. Dalam pameran ini, ia menggabungkan elemen tanah, tumbuhan, dan kain yang menyatu erat dengan raga kita, di mana merajut sebuah narasi visual tentang keterikatan utuh antara manusia dan lingkungan tempatnya berpijak.

Kebanggaan terbesarnya adalah ketika percakapan organis ini mampu terus selaras dan membekas dalam kesadaran publik. Bagi Novieta, pencapaian tertinggi dalam berkarya adalah saat karya yang diciptakan mampu menghadirkan keharmonisan yang menembus batasan medium itu sendiri.

Made Virgie Avianthy: Merawat Ingatan dan Ritual Warisan

samatra (3)
Made Virgie Avianthy membawa karya video instalasi bertajuk Melaut Melayat / Grief To The Sea. Melalui karya ini, ia menelusuri bagaimana ingatan kolektif, cerita, dan ritual warisan keluarga dirawat untuk menjadi jembatan penghubung antara masa lalu dan masa kini.

Bagi Made Virgie Avianthy, esensi keberlanjutan hidup tak diukur dari seberapa besar panggung yang ia pijak, melainkan seberapa dalam ingatan, cerita, dan ritual warisan tetap dirawat. Karya video instalasi yang ia bawa, bertajuk Melaut Melayat / Grief To The Sea, menelusuri bagaimana ingatan kolektif kita dan tradisi mampu menjadi jembatan penghubung antara masa lalu dan masa kini.

Ia memegang teguh prinsip bahwa keberadaan seseorang akan terus bertahan melalui memori yang senantiasa dihidupkan. Mengajak pengunjung untuk meresapi kembali ritual-ritual sederhana keluarga serta narasi lisan yang diwariskan dapat membuktikan bahwa merawat ingatan adalah bentuk penghormatan paling sunyi namun mendalam terhadap perjalanan hidup. 

A. Jasmine: Menemukan Cahaya dalam Kegelapan

samatra (5)
Lewat seri cetak fotografis Hide and Ascend Series, A. Jasmine menampilkan visual samar dan bertumpuk tentang memori dan harapan. Karyanya mengajak kita merenungkan proses memaafkan serta melepaskan sebagai jalan menemukan kedamaian diri.

A. Jasmine memberikan sudut pandang mengenai memori dan harapan melalui seri karya cetak fotografis bertajuk Hide and Ascend Series. Jasmine memperlihatkan bahwa mengingat masa lalu tidak selalu harus dengan melukis utuh, melainkan bisa lewat proses ‘menghapus’. Gambar-gambarnya yang samar dan bertumpuk mengajak kita untuk lebih jeli melihat pesan tersirat yang ada di dalamnya.

Pendekatan berkaryanya menyampaikan pesan mendalam bahwa di balik setiap pengalaman atau masa-masa paling pekat sekalipun, selalu ada ruang bagi cahaya dan harapan untuk tumbuh. Bagi Jasmine, seni menjadi sarana kontemplatif untuk menyadarkan kita bahwa proses memaafkan, melepaskan, dan mengingat kembali adalah bagian utuh dari perjalanan menemukan kedamaian diri ini. 

Dyah Ayu Wulandari: Melangkah dengan Kesadaran Penuh terhadap Bumi

samatra (4)
Dyah Ayu Wulandari menghadirkan karya kain terurai dan elemen pijakan kaki dari tanah liat yang menggambarkan interaksi tubuh dengan bumi. Karyanya mengingatkan kita untuk selalu melangkah dengan penuh kesadaran dan merawat setiap jejak yang ditinggalkan.

Karya Dyah Ayu Wulandari hadir memberikan pengingat bahwa setiap langkah manusia pada hakikatnya selalu berpijak pada bumi yang sama. Dalam pameran ini, ia mempersembahkan karya kain yang terurai lengkap dengan elemen pijakan berbentuk kaki dari tanah liat, menggambarkan interaksi langsung antara ragam gestur tubuh manusia dan bumi.

Melalui karyanya, ia menegaskan bahwa setiap tindakan kecil yang kita ambil memiliki kuasa nyata—baik untuk menghidupi maupun merusak kehidupan di sekitar kita. Bagi Dyah Ayu, keberanian untuk melangkah dengan penuh kesadaran dan kehati-hatian inilah yang menjadi inti utama dari perjalanannya. Ia mengundang pengunjung untuk kembali menyadari tiap jejak yang kita tinggalkan di atas bumi, agar senantiasa dirawat dengan rasa hormat dan kepedulian.

Buki Gallery at Bumi Kinar memadukan keindahan lanskap hijau Ubud dengan arsitektur tradisional Bali yang elegan. Lewat pameran SAMATRA: Quiet Gestures, galeri ini memperluas peran ruangnya—menjadikannya wadah untuk merayakan keindahan visual sekaligus memberi tempat bagi gestur-gestur sederhana yang menuntun kita pada kesadaran merawat bumi.

Lewat pameran ini, Buki Gallery kembali menjadi tempat berbagi ide dan cara pandang baru. Kali ini, Buki GalleryRuang ini mengajak pengunjung untuk melihat kembali kebiasaan-kebiasaan kecil sehari-hari. Hal-hal sederhana yang dilakukan dengan penuh perhatian dan rasa peduli sejatinya bisa memberi pengaruh nyata bagi sekitar. 

Pameran seni SAMATRA: Quiet Gestures hadir di  Buki Gallery at Bumi Kinar selama periode 25 Juli hingga 3 Oktober 2026.

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post
Pementasan Rumah Sakit Jiwa oleh Teater Koma-4

Teater Koma: Rumah Sakit Jiwa, Kenapa Gen Z Masih Bisa Merasa Dekat dengan Naskah Tahun 1991?

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.