
Berawal dari pemaknaan Samatra dalam bahasa Bali yang menyimbolkan ketulusan lewat suguhan sederhana, sapaan singkat, hingga keikhlasan memberi secukupnya, Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud menghadirkan pameran kelompok SAMATRA: Quiet Gestures yang menampilkan karya A. Jasmine, Dyah Ayu Wulandari, Made Virgie Avianthy, Novieta Tourisia, dan Studio Estéh.
Eksplorasi mediumnya beragam, mulai dari ritual warisan, ingatan terpelihara, hingga perbincangan organis antara tanah, tumbuhan, dan tubuh manusia., pameran ini mengajak publik menyadari bahwa tindakan sederhana sehari-hari memiliki kekuatan besar untuk membentuk keharmonisan dengan alam sekaligus menandai proses pertumbuhan hidup yang bermakna.
Studio Esteh: Menelusuri Batas Cara Pandang

Studio Estéh menghadirkan mempersembahkan karyanya yang bertajuk A Thinking Framework (Sebuah Kerangka Berpikir), dengan menggabungkan struktur jaring kawat besi yang meliuk-liuk dengan rajutan benang berbentuk bunga dan dedaunan yang penuh warna-warni menggambarkan bagaimana pola pikir manusia bekerja, antara batas pola pikir dan kebebasan rasa.
Melihat rajutan bunga yang tumbuh menembus sela-sela kawat, kita seolah diingatkan betapa seringnya pikiran kita terkurung dalam prasangka sendiri. Namun, Studio Estéh tidak berniat memberi jawaban pasti. Lewat karya ini, mereka hanya ingin mengajak pengunjung jeda sejenak dari hiruk-pikuk, melihat realitas dari kacamata yang lebih luas, dan pelan-pelan menjalin ulang rasa peduli pada lingkungan sekitar.
Novieta Tourisia: Menjaga Siklus Kehidupan dan Dialog Alam

Berpengalaman mengolah dialog antara medium dan lingkungan, Novieta Tourisia mendefinisikan hubungan manusia dan alam sebagai satu siklus yang berkelanjutan. Dalam pameran ini, ia menggabungkan elemen tanah, tumbuhan, dan kain yang menyatu erat dengan raga kita, di mana merajut sebuah narasi visual tentang keterikatan utuh antara manusia dan lingkungan tempatnya berpijak.
Kebanggaan terbesarnya adalah ketika percakapan organis ini mampu terus selaras dan membekas dalam kesadaran publik. Bagi Novieta, pencapaian tertinggi dalam berkarya adalah saat karya yang diciptakan mampu menghadirkan keharmonisan yang menembus batasan medium itu sendiri.
Made Virgie Avianthy: Merawat Ingatan dan Ritual Warisan

Bagi Made Virgie Avianthy, esensi keberlanjutan hidup tak diukur dari seberapa besar panggung yang ia pijak, melainkan seberapa dalam ingatan, cerita, dan ritual warisan tetap dirawat. Karya video instalasi yang ia bawa, bertajuk Melaut Melayat / Grief To The Sea, menelusuri bagaimana ingatan kolektif kita dan tradisi mampu menjadi jembatan penghubung antara masa lalu dan masa kini.
Ia memegang teguh prinsip bahwa keberadaan seseorang akan terus bertahan melalui memori yang senantiasa dihidupkan. Mengajak pengunjung untuk meresapi kembali ritual-ritual sederhana keluarga serta narasi lisan yang diwariskan dapat membuktikan bahwa merawat ingatan adalah bentuk penghormatan paling sunyi namun mendalam terhadap perjalanan hidup.
A. Jasmine: Menemukan Cahaya dalam Kegelapan

A. Jasmine memberikan sudut pandang mengenai memori dan harapan melalui seri karya cetak fotografis bertajuk Hide and Ascend Series. Jasmine memperlihatkan bahwa mengingat masa lalu tidak selalu harus dengan melukis utuh, melainkan bisa lewat proses ‘menghapus’. Gambar-gambarnya yang samar dan bertumpuk mengajak kita untuk lebih jeli melihat pesan tersirat yang ada di dalamnya.
Pendekatan berkaryanya menyampaikan pesan mendalam bahwa di balik setiap pengalaman atau masa-masa paling pekat sekalipun, selalu ada ruang bagi cahaya dan harapan untuk tumbuh. Bagi Jasmine, seni menjadi sarana kontemplatif untuk menyadarkan kita bahwa proses memaafkan, melepaskan, dan mengingat kembali adalah bagian utuh dari perjalanan menemukan kedamaian diri ini.
Dyah Ayu Wulandari: Melangkah dengan Kesadaran Penuh terhadap Bumi

Karya Dyah Ayu Wulandari hadir memberikan pengingat bahwa setiap langkah manusia pada hakikatnya selalu berpijak pada bumi yang sama. Dalam pameran ini, ia mempersembahkan karya kain yang terurai lengkap dengan elemen pijakan berbentuk kaki dari tanah liat, menggambarkan interaksi langsung antara ragam gestur tubuh manusia dan bumi.
Melalui karyanya, ia menegaskan bahwa setiap tindakan kecil yang kita ambil memiliki kuasa nyata—baik untuk menghidupi maupun merusak kehidupan di sekitar kita. Bagi Dyah Ayu, keberanian untuk melangkah dengan penuh kesadaran dan kehati-hatian inilah yang menjadi inti utama dari perjalanannya. Ia mengundang pengunjung untuk kembali menyadari tiap jejak yang kita tinggalkan di atas bumi, agar senantiasa dirawat dengan rasa hormat dan kepedulian.
Buki Gallery at Bumi Kinar memadukan keindahan lanskap hijau Ubud dengan arsitektur tradisional Bali yang elegan. Lewat pameran SAMATRA: Quiet Gestures, galeri ini memperluas peran ruangnya—menjadikannya wadah untuk merayakan keindahan visual sekaligus memberi tempat bagi gestur-gestur sederhana yang menuntun kita pada kesadaran merawat bumi.
Lewat pameran ini, Buki Gallery kembali menjadi tempat berbagi ide dan cara pandang baru. Kali ini, Buki GalleryRuang ini mengajak pengunjung untuk melihat kembali kebiasaan-kebiasaan kecil sehari-hari. Hal-hal sederhana yang dilakukan dengan penuh perhatian dan rasa peduli sejatinya bisa memberi pengaruh nyata bagi sekitar.
Pameran seni SAMATRA: Quiet Gestures hadir di Buki Gallery at Bumi Kinar selama periode 25 Juli hingga 3 Oktober 2026.