Bincang IdeaFest: Seberapa Banyak Teknologi yang Kita Butuhkan?

Di saat teknologi terus menawarkan cara untuk melakukan lebih banyak hal dengan lebih cepat, mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan justru: seberapa banyak yang sebenarnya kita butuhkan untuk hidup dengan baik?
Idea Fest – Afutami Tiza Mafira Gita Syahrani (1)
Dari IdeaFest 2026, sebuah percakapan tentang teknologi, bumi, dan arti “cukup” dalam menentukan bagaimana kita ingin hidup di masa depan.

Kemajuan teknologi kerap diterima sebagai sesuatu yang tidak terhindarkan. Namun, sebelum bertanya apa yang bisa dilakukan teknologi, ada pertanyaan yang lebih mendasar: dunia seperti apa yang sebenarnya ingin kita tinggali, dan seperti apa kehidupan yang ingin kita bangun di dalamnya?

Pertanyaan tersebut terasa semakin relevan bagi perempuan yang selama ini hidup dengan tuntutan untuk mengerjakan banyak hal dalam waktu yang sama. Menjadi produktif, responsif, hadir untuk keluarga, menjaga kesehatan, mengembangkan karier, mengelola rumah tangga, sekaligus tetap memiliki waktu untuk diri sendiri. Teknologi kemudian datang dengan berbagai janji efisiensi, seolah setiap pekerjaan dapat diselesaikan lebih cepat dan setiap menit dapat dimanfaatkan dengan lebih optimal.

Namun, ketika segala sesuatu dapat dilakukan dengan lebih cepat, muncul pertanyaan lain: apakah kita memang ingin melakukan lebih banyak hal, atau sebenarnya kita ingin memiliki lebih banyak ruang untuk hidup?

Advertisement

Pertanyaan tentang posisi manusia terhadap teknologi inilah yang dibicarakan dalam sesi Back To The Roots: Designing Modernity Without Breaking the Mother Earth’s Heart di IdeaFest 2026. Menghadirkan Andhyta F. Utami, Chief Experiment Officer Think Policy, Tiza Mafira, Direktur Eksekutif Dietplastik Indonesia, Gita Syahrani, Founder BLESS Indonesia dan Head of Executive Board Koalisi Ekonomi Membumi (KEM), serta Puri Anindita, News Anchor & Communication Strategist, sebagai moderator, diskusi tersebut mengajak peserta melihat kembali hubungan antara kemajuan, kebutuhan, dan daya dukung bumi.

Efisiensi Tidak Selalu Berarti Kehidupan yang Lebih Baik

Idea Fest – Afutami Tiza Mafira Gita Syahrani (2)
Gita Syahrani, Tiza Mafira, Afu Utami, dan Puri Anindita dalam sesi Back To The Roots di IdeaFest 2026, membicarakan bagaimana teknologi seharusnya membantu menciptakan kehidupan yang kita inginkan, bukan sekadar membuat kita mampu melakukan lebih banyak hal.

Bagi Tiza Mafira, membicarakan teknologi seharusnya dimulai dari imajinasi tentang masa depan yang ingin dibangun. Teknologi kemudian ditempatkan sebagai alat untuk mewujudkan visi tersebut, bukan sebagai sesuatu yang otomatis menentukan bentuk kehidupan manusia.

“Kalau bicara teknologi kita semua, tuh, harus punya imajinasi, ya. Kita harus punya visi dunia yang kita inginkan di masa depan itu seperti apa sih, apa yang kita rasakan dan apa yang kita alami di masa depan yang ideal menurut kita. Kemudian teknologi di situ di dunia tersebut itu gunanya untuk apa,” ujarnya.

Pertanyaan tersebut membawa kita kembali pada sesuatu yang sering hilang dalam percakapan tentang inovasi: siapa yang menentukan bentuk masa depan? Ketika teknologi baru hadir, manusia sering kali langsung beradaptasi dengan apa yang tersedia. Akal Imitasi berkembang, lalu kita mencari sebanyak mungkin cara untuk menggunakannya. Platform menawarkan kemudahan, lalu ritme hidup perlahan menyesuaikan diri dengan tuntutan platform tersebut.

Bagi perempuan, pola ini dapat terasa semakin akrab. Teknologi dapat membantu mengatur jadwal anak, menyelesaikan pekerjaan administratif, mencari resep, merencanakan perjalanan, menjawab pesan pekerjaan, hingga menghasilkan tulisan dalam hitungan detik. Tetapi ketika semakin banyak hal dapat dibantu, standar tentang apa yang seharusnya mampu dilakukan juga dapat ikut meningkat.

Seorang perempuan yang dahulu dianggap produktif ketika menyelesaikan sepuluh hal dalam sehari dapat merasa perlu menyelesaikan dua puluh hal ketika teknologi membuat sebagian pekerjaan menjadi lebih cepat.

Di sinilah janji efisiensi perlu dilihat kembali. Jika waktu yang berhasil dihemat selalu dikonversi menjadi pekerjaan baru, kemudahan teknologi belum tentu menghadirkan ruang yang lebih luas untuk menjalani kehidupan.

Tiza menegaskan bahwa sikap kritis tersebut tidak berarti menjadi anti-teknologi. Yang diperlukan adalah posisi yang berdaya, ketika manusia tetap memiliki kendali atas hasil yang ingin diciptakan teknologi.

“Bukan stance yang anti teknologi ya, tapi stance di mana kita mengambil kendali atas apa yang sebenarnya teknologi itu hasilkan buat kita,” katanya.

Pertanyaan tentang ‘Dampak Bersih’

Idea Fest – Afutami Tiza Mafira Gita Syahrani (3)
Afu mengajak peserta IdeaFest 2026 melihat teknologi melalui pertanyaan yang lebih mendasar: bukan sekadar apa sisi positif dan negatifnya, tetapi apakah dampak akhirnya membawa kita pada kebaikan atau justru sebaliknya.

Afu kemudian membawa gagasan tersebut ke cara yang lebih konkret untuk menilai teknologi. Menurutnya, pembicaraan tentang dampak teknologi sering berhenti pada pernyataan bahwa setiap teknologi memiliki sisi positif dan negatif. Ia percaya, pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana keseluruhan dampaknya ketika ditempatkan dalam konteks kehidupan yang nyata.

“Kadang-kadang kalau kita ngomongin teknologi kan kayak, ‘Oh ini AI ada positifnya, ada negatifnya.’ Pertanyaan yang seharusnya diutarakan adalah soal netnya, net positif atau net negatif,” ujar Afu.

Dengan kerangka tersebut, sebuah teknologi tidak dinilai berdasarkan labelnya semata. Akal Imitasi tidak otomatis baik ataupun buruk. Nilainya bergantung pada tujuan, cara penggunaan, serta dampak yang dihasilkan.

Afu memberikan contoh sederhana. Jika Akal Imitasi digunakan untuk menggantikan kemampuan manusia menulis atau berhitung hingga kemampuan kognitif tersebut semakin jarang dilatih, dampaknya dapat dianggap negatif. Sebaliknya, ketika teknologi digunakan untuk meningkatkan efisiensi proses produksi yang memang membutuhkan otomasi, dampaknya dapat menjadi positif.

Cara pandang ini juga membuka pertanyaan tentang bentuk bantuan seperti apa yang sebenarnya dibutuhkan manusia. Apakah teknologi digunakan untuk mengurangi beban yang memang tidak perlu ditanggung, atau justru untuk membuat seseorang mampu menanggung lebih banyak beban?

Bagi perempuan, pertanyaan tersebut memiliki konteks yang dekat. Teknologi yang membantu mengelola pekerjaan domestik, pekerjaan profesional, dan kebutuhan sehari-hari memang dapat memberikan kemudahan. Namun, manfaat tersebut kehilangan maknanya jika waktu yang dihemat segera diisi dengan ekspektasi baru untuk bekerja, merawat, mengurus, dan menghasilkan lebih banyak.

Karena itu, teknologi membutuhkan intensi. Ia perlu ditempatkan dalam batas penggunaan yang jelas, dengan kesadaran bahwa tidak semua hal yang dapat dilakukan sebuah teknologi harus dilakukan.

Cara berpikir tersebut membawa percakapan kembali pada pertanyaan yang diajukan Tiza: jika kita dapat menentukan dunia yang kita inginkan, mengapa teknologi harus menentukan dunia tersebut untuk kita?

Ketika “Cukup” Menjadi Cara Memilih

Idea Fest – Afutami Tiza Mafira Gita Syahrani (4)
Gita Syahrani mengajak kita melihat “cukup” sebagai bagian dari setiap keputusan, termasuk dalam memilih teknologi: tentang apa yang benar-benar dibutuhkan, untuk apa digunakan, dan dampak yang ditinggalkannya.

Gita Syahrani membawa percakapan tersebut ke wilayah yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Jika Tiza berbicara tentang imajinasi dan kendali, sementara Afu menawarkan kerangka net positive dan net negative, Gita mengajukan satu ukuran yang sederhana tetapi luas: cukup.

“Balik lagi ke cara orang memilih. Kita punya cukup kesadaran atau tidak untuk mengamini cara berpikir bahwa kita ini satu, harus mengerti arti cukup,” katanya.

Bagi Gita, pengertian tentang cukup tidak berhenti pada kebutuhan manusia. Ia perlu mempertimbangkan ekosistem yang menopang kehidupan serta makhluk lain yang hidup di dalamnya.

“Cukupnya bukan cuma buat kita, tapi juga bagaimana ekosistem yang menopang semua kebutuhan, bukan cuma kita sebagai manusia, tapi all of the other beings that exist within and outside us itu juga tercukupi kebutuhannya untuk periode yang selama mungkin,” ujarnya.

Di sini, gagasan tentang keberlanjutan menjadi sangat personal. “Cukup” tidak lagi terdengar seperti konsep yang hanya relevan bagi kebijakan lingkungan atau strategi bisnis. Ia menjadi cara untuk mengambil keputusan, termasuk ketika seseorang memilih teknologi yang digunakan setiap hari.

Gita memberi contoh penggunaan Akal Imitasi. Menggunakannya untuk membuat meme kucing ketika teknologi tersebut membutuhkan sumber daya besar untuk bekerja tentu dapat dipertanyakan manfaatnya. Namun, penggunaan teknologi untuk data crawling yang membantu mempertemukan kasus hukum dengan lembaga bantuan hukum yang memiliki kapasitas untuk menanganinya dapat memiliki tujuan yang lebih jelas.

Then you have a purpose behind using this thing yang kamu juga tahu itu butuh sumber daya yang sangat besar. Karena balik lagi ini memang seperti Pandora Box,” katanya.

Yang menjadi penting bukan larangan terhadap teknologi, melainkan kesadaran mengenai kapan, mengapa, dan untuk apa teknologi digunakan.

Perempuan dan Beban untuk Selalu Lebih Efisien

Pertanyaan tentang “cukup” memiliki resonansi tersendiri dalam kehidupan perempuan. Banyak bagian dari kehidupan modern dibangun di atas tuntutan untuk menghemat waktu, meningkatkan produktivitas, mengelola lebih banyak hal, dan tetap hadir untuk orang lain. Teknologi kemudian hadir menawarkan bantuan untuk melakukan semuanya dengan lebih cepat.

Kemudahan tersebut tentu memiliki nilai. Perangkat digital dapat mengurangi pekerjaan administratif, Akal Imitasi dapat membantu mengolah informasi, dan berbagai teknologi dapat membuat pekerjaan yang sebelumnya menyita waktu menjadi lebih sederhana. Namun, ketika efisiensi terus dijadikan ukuran utama, muncul pertanyaan lain: waktu yang berhasil dihemat itu kemudian digunakan untuk apa?

Jika setiap menit yang kosong segera diisi dengan pekerjaan baru, produktivitas tambahan, atau tuntutan baru untuk menjadi lebih baik, efisiensi tidak selalu menghasilkan kehidupan yang terasa lebih utuh.

Hal ini menjadi semakin relevan ketika melihat bagaimana perempuan kerap dibentuk oleh budaya untuk terus mengoptimalkan dirinya. Ada tuntutan untuk menjadi produktif dalam pekerjaan, hadir dalam keluarga, menjaga tubuh, mengelola rumah, merawat relasi, dan tetap memiliki ruang untuk berkembang. Ketika teknologi membuat semua itu terasa semakin mungkin, batas kemampuan manusia justru dapat bergeser semakin jauh.

Memahami “cukup” kemudian dapat menjadi bentuk perhatian terhadap diri sendiri. Ada titik ketika teknologi membantu seseorang menjalani hidup, dan ada titik ketika kehidupan mulai disusun untuk memenuhi tuntutan teknologi, platform, atau ukuran produktivitas yang terus meningkat.

Dalam konteks ini, memilih untuk tidak menggunakan sebuah teknologi untuk hal tertentu juga merupakan pilihan yang sah. Memilih teknologi yang sesuai dengan nilai yang ingin dipertahankan pun merupakan bentuk agensi.

***

Percakapan di IdeaFest tersebut tidak menawarkan satu jawaban tentang teknologi mana yang harus diterima dan mana yang harus ditolak. Ketiganya bertemu pada satu gagasan bahwa masa depan tidak perlu diterima sebagai sesuatu yang sudah selesai ditentukan. Ada ruang untuk memilih, membatasi, mengarahkan, dan mengatakan tidak.

Bagi kehidupan sehari-hari, barangkali pertanyaannya dapat dimulai dari hal yang sederhana: teknologi apa yang benar-benar membantu kita hidup sesuai nilai yang kita percaya, dan teknologi apa yang kita gunakan hanya karena semua orang menggunakannya?

Memahami “cukup” memberi kita kesempatan untuk berhenti mengejar setiap kemungkinan hanya karena kemungkinan itu tersedia. Ia mengembalikan perhatian kepada kebutuhan, tujuan, dan konsekuensi. Dalam hubungan kita dengan Akal Imitasi, teknologi, pekerjaan, konsumsi, bahkan cara kita membayangkan kemajuan, kesadaran tersebut menjadi ruang untuk memilih dengan lebih sengaja.

Sebab masa depan yang baik tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa jauh teknologi dapat membawa kita. Ia juga ditentukan oleh ke mana kita ingin pergi, siapa yang ikut hidup di dalamnya, dan kapan kita memiliki keberanian untuk berkata: ini sudah cukup.

Previous Post
9

Huda Beauty Hadir di Indonesia dengan Pop-Up Booth Pertama di Grand Indonesia

Next Post
Sahabat Kian Podcast x Osteria Gia – perimenopause (2)

Mengenali Perimenopause bersama Sahabat Kian: Saatnya Lebih Peka pada Perubahan Tubuh

Advertisement
Sign in