Hutan Kabel Agnes Hansella di Art Jakarta 2026

Agnes Hansella mengolah limbah kabel menjadi instalasi yang terinspirasi dari jaringan mikoriza dan pengalaman pulangnya ke Kalimantan.
Art Jakarta 2026 – Agnes Hansella iForte
Berawal dari audio untuk film, Agnes Hansella menemukan makrame sebagai cara untuk mengistirahatkan telinga dan bekerja dengan tangan. Sepuluh tahun kemudian, teknik tersebut membawanya pada Hutan Kabel (Wood Wide Web), sebuah instalasi yang mempertemukan kabel, suara, teknologi, dan ingatan tentang hutan Kalimantan.

Ajang seni tahunan Art Jakarta kembali hadir pada 2–4 Oktober mendatang di JIExpo Kemayoran, mempertemukan 75 galeri dari berbagai kota di Asia bersama seniman, institusi, komunitas, dan publik seni. Salah satu presentasi khusus yang hadir dalam edisi tahun ini adalah Hutan Kabel (Wood Wide Web) karya Agnes Hansella, yang didukung iForte.

Terinspirasi dari kepulangannya ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Agnes mengolah kabel dan limbah telekomunikasi menjadi instalasi menyerupai kanopi hutan dengan pohon-pohon makrame yang terbuat dari kabel, lengkap dengan serat optik dan sensor yang merespons pergerakan pengunjung. Karya tersebut berangkat dari pengamatannya terhadap pohon Ficus dan jaringan mikoriza yang menghubungkan akar-akar di bawah tanah. Konsep wood wide web kemudian dipertemukan dengan jaringan internet yang menjadi bagian dari kehidupan manusia.

“Manusia sering kali meniru alam, tetapi kita hanya melihat pola-pola tertentu tanpa memahami keseluruhannya,” ujar Agnes. Dari sini, Hutan Kabel mengajak kita melihat kembali alam yang membangun hubungan, berbagi sumber daya, dan bertahan melalui jaringan yang tidak selalu terlihat.

Advertisement

Dari Suara Film ke Simpul Makrame

Perjalanan Agnes menuju karya ini berawal dari dunia audio. Ia mempelajari audio untuk film di Institut Kesenian Jakarta dan melanjutkan spesialisasi sound design selama satu tahun di Vancouver. Namun, pekerjaan yang terus menuntutnya mendengarkan suara dan mengolahnya untuk mendukung gambar perlahan membuatnya lelah.

“Kalau di film, suara itu selalu punya fungsi dan tujuan. Kita tidak bisa membuat suara terlalu lepas dari visual karena peran suara pada dasarnya adalah menopang gambar,” katanya. “Namun karena saya jadi terus berpikir ‘Oh, suara ini, bisa menjadi apa, ya?” lama-kelamaan saya jadi nggak bisa menikmati momen.”

Untuk mengistirahatkan telinga, Agnes mulai mencoba makrame sekitar 10 tahun lalu, mengikuti ibunya yang juga sedang mempelajari teknik tersebut. Dari tali katun dan poliester, eksplorasinya kemudian berkembang menuju berbagai material, termasuk benang glow in the dark dan kabel.

“Saya merasa bahan katun atau tali ini terlalu ‘nurut’. Saat saya ingin membentuk A, jadinya persis A. Saya merasa kurang tertantang dan ingin mencoba material lain,” ujarnya. Eksplorasi dengan kabel dimulai sekitar 2023 dan membuka kemungkinan baru karena sifatnya yang lentur sekaligus membal membuat bentuk akhir tidak sepenuhnya dapat dikendalikan.

Ketika Kabel Mengikuti Karakternya Sendiri

Dalam proses tersebut, Agnes memilih mengikuti kecenderungan material daripada memaksanya mengikuti bentuk tertentu. Kabel yang digunakan untuk Hutan Kabel ini, misalnya, memiliki sifat yang berbeda dari tali biasa, sehingga simpul-simpul yang terbentuk berkembang menjadi bentuk organik.

“Kalau materialnya mau ke arah sana, ya sudah saya ikuti,” katanya. Pendekatan tersebut membuat proses berkarya terasa organik: seperti menemukan bentuk bersama material, dengan kejutan sebagai salah satu bagian yang paling ia nikmati.

Pengalaman pulang ke Kalimantan setelah sekitar delapan tahun pun turut memberi arah pada karya ini. Agnes yang tumbuh di Palangkaraya kembali mengamati pepohonan tua dan lanskap hutan, sekaligus membaca kembali gagasan tentang jaringan mikoriza. Limbah kabel yang digunakan dalam instalasi disediakan oleh iForte, sehingga material yang sebelumnya menjadi bagian dari infrastruktur telekomunikasi mendapatkan bentuk baru sebagai gambaran jaringan alam.

Membawa Pulang Suara Kalimantan

Eksplorasi Agnes kemudian kembali bertemu dengan dunia audio yang pernah ia tinggalkan. Saat mengunjungi rumahnya di Kalimantan, ia membawa perangkat rekam untuk menangkap suasana hutan, termasuk suara tonggeret yang menurutnya memiliki karakter berbeda dari tonggeret di Jakarta. Rekaman tersebut kemudian dipadukan dengan suara yang dihasilkan melalui MIDI dan proses penyuntingan digital.

“Audio yang awalnya sempat saya tinggalkan kini saya lakukan lagi. Membuka kembali perangkat lunak penyunting audio dan mengingat shortcut-nya terasa sangat seru karena memberikan kebebasan,” tuturnya.

Kembalinya Agnes pada audio berlangsung dari sudut pandang yang berbeda. Jika dahulu suara harus mendukung gambar dalam produksi film, kini ia mengeksplorasinya sebagai elemen yang dapat berdiri sendiri dalam konteks seni rupa. Bersamaan dengan itu, makrame tetap menjadi teknik yang ingin ia teruskan.

“Saya sudah mantap bahwa makrame adalah teknik yang akan saya geluti seterusnya. Makrame telah menyelamatkan saya dari banyak hal, termasuk melewati masa pandemi. Bagi saya, makrame terasa sangat terapeutik dan memberi banyak ide,” pungkasnya.

***

Hutan Kabel (Wood Wide Web) mempertemukan pengalaman personal sang seniman, pengamatan terhadap alam, keterampilan makrame, limbah teknologi, dan eksplorasi suara dalam satu karya. Instalasi ini memperlihatkan bahwa sebuah jaringan dapat dipahami melalui bentuk yang terlihat, bunyi yang terdengar, maupun hubungan yang berlangsung tanpa disadari. Bagi Agnes, kembali melihat hutan di tanah kelahirannya sekaligus membuka kembali dunia audio menjadi cara untuk menemukan kemungkinan baru dalam praktik yang telah ia jalani selama satu dekade.

Previous Post
ALICE x Mauri Event Documentation-125

Saat Puglia Berlabuh di ALICE, The Langham Jakarta Menutup Perayaan Lima Tahun

Advertisement
Sign in