
Pameran bertajuk Figur di Galeri Salihara menghadirkan lintasan karya dari 12 pematung lintas generasi, merentang dari tokoh senior seperti G. Sidharta Soegijo, Nyoman Nuarta, Dolorosa Sinaga, dan Yani Mariani Sastranegara, hingga nama-nama perupa muda seperti Alfiah Rahdini dan Dzikra Afifah. Melalui 24 karya yang dihadirkan, pameran ini merekam bagaimana figur tidak sekadar diperlakukan sebagai tiruan wujud manusia, melainkan medium bertolak untuk mengeksplorasi gagasan, bentuk, dan eksperimentasi material.
Dari Pahat Batu hingga Eksplorasi Kontemporer (1950–1970-an)
Menurut Asikin Hasan, kurator pameran ini, perjalanan seni patung modern Indonesia mencatat pengolahan figur yang terus bertransformasi seiring zaman.
“Seni patung itu sendiri mempunyai sejarah yang unik dalam perkembangan seni rupa di Indonesia. Dia dimulai sekitar tahun 1950-an ketika Sanggar Pelukis Rakyat menampilkan karya-karya pahat batu… Kemudian generasi Edhi Sunarso… Dan berlanjut pada generasi Sidharta, dan sampai sekarang.”
Eksplorasi ini bermula dari ketelitian teknik pahat batu bertema kerakyatan oleh Sanggar Pelukis Rakyat dan Edhi Sunarso pada era 1950-an. Bahasa bentuk seni tiga dimensi kemudian mulai bergeser pada dekade 1970-an ketika G. Sidharta dan Gerakan Seni Rupa Baru memperkenalkan pendekatan kontemporer yang lebih bebas.
Penjelajahan Material dan Bahasa Post-Sculpture (1980–2020-an)
Lebih lanjut, Asikin menjelaskan bahwa penjelajahan medium kian kaya pada rentang 1980–1990-an melalui keberanian Nyoman Nuarta memanfaatkan teknologi CAD untuk monumen publik, ekspresi sosial-politik bertubuh terpiuh karya Dolorosa Sinaga, serta interpretasi ruang dan kenangan lewat olahan serat gelas Yani Mariani. Memasuki era 2020-an, seniman muda seperti Alfiah Rahdini dan Dzikra Afifah memperluas batas ini lewat pendekatan post-sculpture seperti mulai dari cetak tubuh gipsum yang bersinggungan dengan ikon budaya populer hingga keramik surealistik yang menghadirkan wujud terfragmentasi.
Eksplorasi Medium dan Kesejarahan
Eksplorasi yang ditunjukkan para pematung bergerak sejajar dengan perkembangan sejarah material, mulai dari pahat kayu dan batu andesit tradisional, pengecoran logam, serat gelas, keramik, hingga teknik cetak tubuh (post-sculpture). Menanggapi dinamika bentuk dan perjalanan seni tiga dimensi ini, kurator Asikin Hasan menyampaikan:
“Jadi pameran ini mencoba merekam secara random perjalanan seni patung modern di Indonesia,” jelas Asikin “Patung-patung figur itu awalnya mengikuti anatomi formal, tapi di sini pematungnya membuat distorsi atau pemiuhan yang lebih terkait kepada gagasan artistiknya. Kesejarahan dan kearsipan itu penting bagi kami, dan pameran khusus yang membentangkan seni patung seperti ini cukup langka.”
xxx
Kehadiran ruang pamer khusus seni tiga dimensi ini memberikan kesempatan untuk membaca kembali dinamika seni patung yang kerap hadir terbatas dalam kancah seni rupa kontemporer. Pameran Figur berlangsung di Galeri Salihara mulai 1 Oktober hingga 22 November 2026.
Teks : Bunga Aurelia
Editor : Mardyana Ulva