Mencicipi 3 Seri The Grange, Vintage Wine Andalan Penfolds

DEWI mencicipi seri vintage wine andalan Penfolds, The Grange, dari tiga dekade berbeda; mendalami masyhur anggur legendaris Australia ini.
WEB HERO HEADER (12)

Penfolds. Kita semua pernah mendengar jenama wine asal Australia ini. Pun, berapa banyak dari kita tahu pasti vintage wine mereka yang cakap untuk diicipi? DEWI berkesempatan mengicipi vintage wine andalan Penfolds, The Grange, dari tiga dekade berbeda. Ketiganya disajikan dalam perayaan 75 tahun anggur shiraz ini dalam makan siang eksklusif di Bel Étage, The St. Regis Jakarta, Jumat, 25 September 2026.

Tentang The Grange, seri andalan Penfolds

IMG_2311

The reward of patience–buah hasil kesabaran, demikian The Grange menyebut dirinya sendiri. Seri ini adalah kreasi Chief Winemaker Penfolds di tahun 1950-an, Max Schubert. Alkisah, Max Schubert mengunjungi Bordeaux, Prancis, pada tahun 1950. Mencicipi berbagai anggur kondang daerah ini, terbersit dalam benaknya untuk meracik anggur Australia menjadi wine yang vintage seiring usia.

Ini adalah transformasi radikal mengingat sebelumya Penfolds dikenal sebagai penghasil fortified wine seperti sherry nan legit. Tetapi, Max Schuber bersikukuh, mengembangkan anggur ini selama bertahun-tahun dalam barel-barel kecil. Hingga pada akhirnya pada tahun 1986, botol pertama Penfolds Grange dipasarkan. Penfolds Grange pun mencetak sejarah sebagai first growth pertama Australia–anggur yang khas dihasilkan benua Down Under ini.

Advertisement

Penfolds Grange masyhur akan gaya yang khas. Anggur merah ini dikenal akan warna yang pekat dan dalam, dengan aroma cokelat dan beri yang intens. Cita rasa yang halus, dengan intensitas yang naik bak kresendo orkestra, menghiasi tekstur tanin yang kokoh pun mulus bak beludru. Anggur ini akan menjelma halus selama penyimpanan dalam botol, membuatnya menjadi vintage wine Australia yang langka. 

Dari berbagai wilayah di dunia, dengan cita rasa yang khas

Menariknya, Penfolds Grange bukan berasal dari vineyard tunggal (single-vineyard). Ia dihasilkan dari berbagai jenis vineyard di seluruh dunia, semuanya dipilih karena menghasilkan cita rasa Penfolds Grange yang khas.

Penfolds memiliki sejumlah vineyard kunci yang tersebar di seluruh dunia. Di Australia, anggur terutama didapatkan dari Australia Selatan seperti Adelaide, Eden Valley, dan Coonawara; serta Victoria, Tasmania, dan New South Wales. Sedangkan Amerika Serikat, anggur terpusat di California, seperti Napa Valley dan Paso Robles. Di Prancis, titik kunci cukup tersebar, dari Champagne, Bordeaux, hingga Languedoc dan Rhône. Penfolds juga memiliki vineyard di Tiongkok, tepatnya di Shangri-La dan Ningxia.

Menarik bahwa titik-titik vineyard ini tersebar di seluruh wilayah penghasil wine, dari Old World, New World, hingga New Latitudes. Josh Yim, Brand Ambassador dan Executive Sommelier Penfolds, menjelaskan alasan di balik tiap wilayah. Josh menjelaskan bahwa Penfolds tidak membatasi sumber anggur mereka. Bagi tim winemakers Penfolds, yang terpenting adalah cita rasa yang disuling sesuai dengan gaya khas Penfolds.

MAXR1751
Josh Yim, Brand Ambassador dan Executive Sommelier Penfolds.

“California pada awalnya dipilih karena lanskap geografisnya pas untuk bereksperimen,” tutur Josh kepada DEWI. “California memiliki sinar matahari berlimpah dan tanah kuno dengan mineral yang sama seperti Australia Selatan, sehingga kami bisa bereksperimen dengan varietas yang akan ditumbuhkan di Australia.”

Prancis sendiri dipilih karena menjadi inspirasi asli Penfolds; ketika mereka hendak menyuling champagne, praktis wilayah di Prancis ini menjadi rujukan utama. Sedangkan Tiongkok dipilih secara strategis mengingat besarnya pasar Penfolds di sana, berdampingan dengan perkembangan industri wine Tiongkok.

Apakah Penfolds akan mengembangkan wilayah lain? Josh tertawa: belum, karena untuk saat ini, tim mereka sudah harus bolak-balik dari belahan bumi selatan ke utara. “Tangan kami sudah penuh saat ini,” kelakar Josh.

Ulasan: Tiga The Grange merah dan satu The Grange putih

DEWI mencicipi tiga tahun vintage wine The Grange dari Penfolds, masing-masing dipilih dari dekade yang berbeda. Ketiganya adalah tahun 1999, 2009, dan 2018. Josh memilih dekade yang berbeda agar DEWI bisa mendapatkan gambaran komprehensif akan gaya vintage wine The Grange. Selain The Grange, turut disajikan anggur putih chardonnay khas Penfolds, Yattarna 144. DEWI mengulas tiap sesap.

Yattarna 144, 2019

100% Chardonnay

Pertama kali dituang, DEWI terpukau dengan warna emas pucat yang membiaskan cahaya dengan sangat cantik. Manis, pun dengan soliditas yang membalut mulut dengan penuh. Notasi sitrus melapisi sensasi vanilla dan almond dengan halus di anggur chardonnay ini. Begitu menyenangkan, sangat pas didampingi canape, amuse-bouche, hingga appetizer yang memiliki kandungan keju semi-manis. Keanggunan cita rasanya membuat Yattarna 144 disebut sebagai “The Grange putih”.

The Grange, 1999

100% Shiraz

Harum; ini impresi pertama DEWI ketika menghirup dan menyesap anggur ini. Full-bodied dengan warna merah pekat yang mengesankan. Cita rasanya pun mengesankan sesuatu yang berat dan pekat, dengan tannin yang kuat. Ada kesan cokelat yang kuat di dalam lapisan cita rasanya, berbaur dengan rempah manis, dengan sensasi mawar.

The Grange, 2009

98% Shiraz, 2% Cabernet Sauvignon

Tahun ini adalah favorit DEWI. Ia masih memiliki kekhasan The Grange: full-bodied dengan aroma rempah, tetapi lebih ringan, lebih manis, lebih subtil. Anggur merah satu ini cocok sekali untuk diminum begitu saja tanpa pairing. Apalagi untuk bersantai dalam petang penghujung minggu bersama puan-puan sahabat.

The Grange, 2018

97% Shiraz, 3% Cabernet Sauvignon

Barangkali adalah tahun The Grange yang paling atraktif. Ia tetap full-bodied dengan kepekatan yang mirip dengan tahun 1999. Akan tetapi, ia semarak oleh nuansa fruity yang meledak di mulut bahkan dalam sesap pertama. Sensasi kecut-asam ini pas sekali untuk didampingi makan berat berlemak seperti steak dan french fries yang disajikan oleh Bel Étage.

Penfolds Grange memiliki cita rasa, tekstur, dan aroma yang sangat khas. Dari mencicipi tiga dekade anggur ini, DEWI memahami status legendaris yang dicapai oleh sang anggur ikonis. Sungguh, kesempurnaan demikian hanya mampu didapatkan lewat ketekunan dan keahlian selama berwindu-windu. Persis seperti tajuknya: a reward for patience.

Previous Post
chintia kirana (1)

Still to Draw Near: Chintia Kirana Menelusuri Arti Rumah dan Ingatan

Advertisement
Sign in