
Hidup sering terasa seperti rangkaian keputusan tanpa petunjuk yang jelas, apalagi di zaman yang serba cepat ini. Perubahan tanpa henti dan tuntutan untuk terus beradaptasi membuat banyak perempuan mempertanyakan arah karier, hubungan, atau bahkan kota tempat mereka ingin tinggal. “Haruskah saya mengambil pekerjaan baru?” atau “Apakah hubungan ini layak diperjuangkan?” Ada pula pertanyaan-pertanyaan seperti, “Perlukah saya pindah, memulai usaha sendiri, atau kembali berkuliah?”
Di saat yang sama, era modern ini seolah memberi kita banyak pilihan, yang sayangnya tidak selalu dibarengi dengan jawaban yang benar-benar memuaskan kita. Ironisnya, budaya populer pun terus menjual fantasi bahwa segala sesuatu harus jelas. Kita ingin hidup terasa serapi akhir film romantis atau sejelas algoritma yang bisa memprediksi lagu berikutnya di playlist kita.
Namun hidup jarang bergerak seperti itu.
Jika ada satu hal yang diajarkan oleh film-film seperti Before Sunrise (1995) hingga Past Lives (2023), kisah yang paling berkesan justru dimulai ketika seseorang berani melangkah tanpa mengetahui akhirnya. Sebuah percakapan dengan orang asing. Sebuah tiket yang dibeli secara impulsif. Sebuah keputusan untuk mengatakan “ya” pada sesuatu yang belum sepenuhnya dipahami. Semua berawal dari satu kata sederhana: mungkin.
Mengapa Kita Takut pada Kata “Mungkin”?
Kata “mungkin” sering terdengar seperti keraguan. Ia tidak menawarkan jaminan, tidak memberikan kepastian, dan tidak menjanjikan hasil yang kita inginkan. Karena itu, banyak orang berusaha menghindarinya. Padahal, hampir semua pengalaman yang membentuk hidup kita justru berawal dari sana.
Sahabat yang kini begitu dekat dulunya hanyalah orang asing yang mungkin akan kita sapa. Kisah cinta yang mengubah hidup pernah dimulai dari pesan pertama yang mungkin tidak pernah terkirim. Perjalanan yang paling berkesan bermula dari tiket yang mungkin tidak pernah dibeli. Setiap persahabatan, setiap petualangan, dan setiap babak penting dalam hidup pernah hidup di dalam sebuah kemungkinan yang belum terjawab.
Mungkin alasan kita takut pada kata “mungkin” adalah karena ia mengingatkan kita pada semua hal yang tidak bisa kita kendalikan. Film Past Lives misalnya, dibangun di atas satu pertanyaan yang tidak pernah benar-benar terjawab: bagaimana jika dua orang yang pernah saling mencintai bertemu kembali dalam kehidupan yang berbeda? Tidak ada jawaban pasti yang diberikan. Tidak ada kepastian tentang apa yang seharusnya terjadi. Namun justru di situlah letak keindahan ceritanya. Hidup tidak selalu menawarkan penutupan yang rapi. Kadang yang tersisa hanyalah kemungkinan dan cara kita berdamai dengannya.
Tidak ada kepastian tentang apa yang seharusnya terjadi. Namun justru di situlah letak keindahan ceritanya.
Di era algoritma yang berusaha memprediksi semuanya, mulai dari lagu yang akan kita sukai hingga pasangan yang dianggap cocok untuk kita, kata “mungkin” terasa semakin asing. Kita terbiasa mencari ulasan sebelum bepergian, membaca spoiler sebelum menonton film, bahkan menghitung risiko sebelum mengambil keputusan. Namun hidup yang paling berkesan sering kali justru terjadi di luar prediksi tersebut.
Di Dalam Kemungkinan, Hidup Menyimpan Keajaibannya

Ada alasan mengapa momen yang paling kita kenang sering kali lahir dari keputusan yang nyaris tidak kita ambil. Bukan karena kita tahu hasilnya akan baik, tetapi karena kita cukup berani untuk melangkah meski belum mengetahui akhirnya.
Sebuah “mungkin” adalah pintu yang belum terbuka. Sebuah masa depan yang belum memperkenalkan dirinya. Ia adalah langkah pertama menaiki pesawat, sapaan pertama kepada seseorang yang belum dikenal, atau mimpi yang belum terbukti. Di dalam kata itu tersimpan ruang bagi kejutan, pembelajaran, dan pertumbuhan yang tidak pernah bisa diberikan oleh kepastian.
Suatu hari nanti, kita mungkin akan menoleh ke belakang dan menyadari bahwa salah satu bab paling indah dalam hidup berawal dari ketidakpastian. Dari jalan yang belum pernah dilalui, percakapan yang belum dimulai, atau kesempatan yang hampir dilewatkan. Dan pada saat itu, kita akan bersyukur karena pernah mempercayai kemungkinan sedikit lebih lama. Sebab terkadang, kata paling indah di dunia bukanlah “ya”. Melainkan “mungkin”.
Jika Past Lives berbicara tentang kemungkinan yang tidak pernah sepenuhnya terwujud, Before Sunrise justru menunjukkan bagaimana hidup dapat berubah hanya karena satu keputusan sederhana. Jesse dan Céline tidak memiliki alasan kuat untuk turun dari kereta dan menghabiskan satu malam bersama di Wina. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi setelahnya. Namun seluruh cerita lahir dari keberanian untuk mengikuti rasa ingin tahu dan berkata, “mengapa tidak?” Dalam hidup, banyak pengalaman yang paling membekas juga berawal dari keputusan yang tampak kecil pada saat itu.
Suatu hari nanti, kita mungkin akan melihat kembali kehidupan kita seperti menonton film favorit untuk kedua kalinya. Kita baru menyadari bahwa bab yang paling mengubah hidup ternyata tidak dimulai dengan sebuah kepastian. Ia dimulai dengan sebuah pesan yang dikirim, tiket yang dibeli, pekerjaan yang diterima, atau seseorang yang kita putuskan untuk sapa. Sebuah mungkin yang, pada saat itu, terasa biasa saja.