Tiga Busana yang Menandai Debut Bridal Matières Fécales untuk Gabbriette
Cindy Gozali: Mengapa Lebih Mudah bagi Kita untuk Membayangkan Skenario Terburuk?

Cindy Gozali: Mengapa Lebih Mudah bagi Kita untuk Membayangkan Skenario Terburuk?

Jika pikiran kita mampu membayangkan kemungkinan terburuk dengan begitu rinci, mengapa kita tidak melatihnya untuk membayangkan kemungkinan terbaik dengan cara yang sama?
DEWI Website Terbaru (8)
Cindy Gozali, Hypnotherapist & Meditation Facilitator dari Jivaraga, mengajak kita berefleksi: mengapa kita begitu mudah terjebak dalam worst-case scenario dan bagaimana harapan dapat menjadi cara baru untuk memandang masa depan

Setiap hari kita terpapar berita yang datang tanpa henti. Kondisi ekonomi pun tidak selalu menentu, dan kita masih harus menghadapi berbagai ketidakpastian dalam kehidupan pribadi. Tidak heran jika banyak dari kita terbiasa mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk, “Duh, apa lagi, ya setelah ini?”

Sebenarnya ini adalah respons yang manusiawi, tetapi tanpa sadar, kita menganggap kewaspadaan sebagai bentuk perlindungan. Padahal, ketika pikiran terus hidup dalam mode bertahan, kita perlahan kehilangan kemampuan untuk melihat kemungkinan lain yang sama nyatanya: bahwa sesuatu juga bisa berjalan dengan baik.

Ketika Pikiran Terlalu Lama Hidup dalam Mode Bertahan

Menurut Hypnotherapist & Meditation Facilitator dari Jivaraga, Cindy Gozali, salah satu tanda bahwa seseorang terlalu lama hidup dalam skenario terburuk adalah kelelahan mental yang kronis. Tubuh terus berada dalam kondisi siaga, meski tidak ada ancaman yang benar-benar hadir di depan mata.

Advertisement

“Kita menjadi mudah cemas, kehilangan antusiasme terhadap peluang baru, dan mengambil keputusan lebih karena takut kehilangan daripada ingin bertumbuh,” jelas Cindy. 

Bahkan, sebagian perempuan tanpa sadar merasa tidak aman untuk berhasil. Takut dikucilkan, takut menjadi berbeda dari lingkungan, atau takut kesuksesan justru membawa beban baru. Akibatnya, hidup terasa seperti daftar tugas yang harus diselesaikan, bukan pengalaman yang bisa dinikmati.

Melatih Pikiran Melihat Kemungkinan

Namun, memberi ruang bagi harapan bukan berarti mengabaikan kenyataan. Cindy justru mengajak kita menggunakan harapan sebagai strategi kognitif. Jika otak mampu menyusun berbagai skenario kegagalan secara detail, maka ia juga memiliki kapasitas yang sama untuk membayangkan keberhasilan.

Salah satu latihan sederhana yang ia sarankan adalah mengganti pertanyaan “Bagaimana jika gagal?” menjadi “Bagaimana jika berhasil?” Pertanyaan ini bukan bentuk optimisme yang naif, melainkan cara melatih pikiran agar tidak hanya peka terhadap risiko, tetapi juga terhadap peluang. Sebelum membayangkan hasilnya, kita juga bisa bertanya pada diri sendiri mengapa impian itu penting bagi kita. Ketika alasan di balik sebuah tujuan terasa bermakna, harapan menjadi lebih kokoh dan tidak sekadar bergantung pada hasil akhirnya.

Berharap Tanpa Kehilangan Jejak di Bumi

Harapan yang sehat berbeda dengan ekspektasi yang menekan. Harapan memberi ruang bagi proses, sementara ekspektasi sering kali menggantungkan rasa cukup pada hasil akhir. Ketika hasilnya berbeda dari yang kita bayangkan, harapan mengajak kita melihatnya sebagai redirection, bukan penolakan atau kegagalan.

Agar tetap grounded, Cindy mengajak kita memadukan dua hal: aksi nyata dan rasa. Di satu sisi, kita tetap membuat rencana, mempertimbangkan risiko, dan mengambil langkah-langkah kecil setiap hari. Di sisi lain, kita juga merawat kondisi tubuh dan sistem saraf agar tetap merasa aman selama menjalani proses tersebut. “Saat tubuh merasa aman dan kita merasa berdaya, kita lebih mudah melihat peluang serta membangun masa depan dengan harapan,” ujarnya.

***

Ketidakpastian dalam hidup tentu membuat kita gelisah, tetapi bisa jadi yang paling kita butuhkan hari ini bukan kepastian, melainkan keberanian untuk tidak selalu hidup dalam skenario terburuk. Harapan bukan tentang menutup mata dari kenyataan, melainkan membuka mata pada kemungkinan yang selama ini luput kita lihat. Sebab sering kali, masa depan yang kita impikan tidak dimulai ketika semua jawaban sudah tersedia, tetapi ketika kita bersedia mengambil satu langkah kecil sambil berkata, “Bagaimana jika kali ini semuanya berjalan lebih baik?”

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post
gabriette

Tiga Busana yang Menandai Debut Bridal Matières Fécales untuk Gabbriette

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.