
Di Grand Ballroom Hotel Mulia Senayan, Jakarta, TOTON membuka presentasi koleksi terbarunya dalam gelaran Mulia in Fashion 2027 dengan scenography berupa instalasi ogoh-ogoh dari Bali yang menciptakan atmosfer dramatis di sepanjang runway. Latar tersebut menjadi titik awal narasi koleksi jenama mode Indonesia tersebut, yang musim ini mengangkat Kala, sebuah tema yang berangkat dari sosok Batara Kala, penguasa waktu sekaligus kerusakan dalam mitologi Nusantara.
Alih-alih menerjemahkan Batara Kala secara harfiah, desainer Toton Januar melihatnya sebagai cara untuk memahami bagaimana waktu bekerja dalam kehidupan. Baginya, waktu bukan sekadar hitungan, tetapi kekuatan yang mampu membentuk, mengubah, sekaligus menghancurkan ketika manusia tidak mampu menghargainya. Gagasan tersebut kemudian berkembang menjadi narasi yang diterjemahkan ke dalam setiap tampilan di atas runway.

“Batara Kala merupakan penguasa waktu sekaligus kerusakan. Filosofi yang ingin diangkat adalah bagaimana manusia akan dihancurkan oleh waktu ketika tidak mampu menghargai atau mengelola waktu dengan baik.” ujar Toton Januar, sang perancang di balik label busana TOTON.
Tema tersebut juga lahir dari refleksi Toton terhadap berbagai peristiwa yang terjadi beberapa waktu terakhir. Berawal dari ide koleksi yang sempat dikembangkan untuk Dewi Fashion Knights dengan inspirasi Sumatra dan Aceh, Toton kemudian menyaksikan bencana yang terjadi di wilayah tersebut. Momen itu membuatnya melihat bahwa dunia sedang berada dalam fase yang penuh ketidakpastian. Dari sanalah muncul keinginan untuk mencari ritme di balik kekacauan, lalu menerjemahkannya menjadi sebuah koleksi.
Kala sebagai Perjalanan TOTON

Berbeda dari koleksi yang berfokus pada eksplorasi teknik baru, koleksi TOTON 2027 justru menjadi ruang bagi Toton untuk menengok kembali perjalanan label yang telah ia bangun selama bertahun-tahun.
“Koleksi ini lebih banyak mengeksplorasi arsip dan teknik-teknik TOTON yang sudah berkembang dari waktu ke waktu. Jadi bukan menciptakan sesuatu yang benar-benar baru, tetapi menyempurnakan dan mengeksplorasinya kembali.” ujar Toton lagi
Pendekatan tersebut terlihat dari berbagai teknik yang selama ini menjadi ciri khas TOTON, mulai dari permainan tekstur, eksplorasi bordir, hingga detail-detail craft yang kembali dihadirkan dalam bentuk baru. Alih-alih menghadirkan sesuatu yang sepenuhnya berbeda, koleksi ini justru menjadi penanda bagaimana bahasa desain TOTON terus berkembang tanpa kehilangan identitasnya.
Jejak Personal Lewat Sosok Kucing

Di balik konsep Kala, Toton turut menyisipkan kisah yang jauh lebih personal. Salah satu detail yang paling menarik perhatian adalah kehadiran nuansa kucing di berbagai elemen koleksi. Bukan sekadar ornamen, kehadirannya menjadi bagian dari perjalanan waktu yang membentuk kehidupan sang desainer.
“Nuansa kucing menjadi salah satu elemen personal dalam koleksi ini. Terinspirasi dari kucing-kucing peliharaan yang menemani perjalanan TOTON dari waktu ke waktu, kehadirannya diterjemahkan melalui berbagai detail, mulai dari busana, perhiasan, aksesori, hingga sentuhan beauty di atas runway.” ujar Toton Januar lagi
Wajah-wajah kucing tersebut muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari detail pada busana, aksesori, perhiasan, hingga tampilan beauty. Kehadirannya menjadi penanda bahwa perjalanan waktu tidak hanya dibentuk oleh peristiwa besar, tetapi juga oleh momen-momen sederhana yang menemani kehidupan sehari-hari.

Lewat TOTON 2027, Toton Januar tidak sekadar mengangkat kisah tentang Batara Kala, melainkan menghadirkan refleksi mengenai waktu melalui perjalanan sebuah label, pengalaman pribadi, hingga simbol-simbol yang paling dekat dengan kehidupannya. Di antara berbagai detail yang hadir di atas runway, koleksi ini memperlihatkan bahwa setiap perjalanan, sekecil apa pun, selalu meninggalkan jejak yang membentuk siapa diri kita hari ini.