PORCELAIN COUTURE: The Afterlife of Materials, kolaborasi BIYAN dan GAYA CERAMIC, mengajak kita menengok kembali tekstil atelier BIYAN dan serpihan porselen dari GAYA CERAMIC, lalu menyaksikan keduanya hadir dalam suatu karya baru yang inovatif.

Di BIYAN Gallery, Jakarta, pameran PORCELAIN COUTURE dapat dikunjungi hingga Desember 2026. Kolaborasi ini dikembangkan oleh Direktur Kreatif Biyan Wanaatmadja dan Michela Foppiani bersama para perancang dan perajin GAYA CERAMIC. Di dalamnya, bahasa kreatif yang berbeda bertemu: presisi porselen bertemu kelenturan tekstil.
Di tangan para perancang dan perajin ini, sisa produksi dari pembuatan porselen dan busana mendapat identitas baru. Alih-alih ditinggalkan, bahan-bahan ini ditafsirkan ulang, dirangkai, dan disempurnakan dengan cermat menjadi kreasi tunggal. Hasilnya bukan sekadar objek pameran, melainkan kategori objek baru yang berada di antara keramik, mode, seni, dan desain.
Merangkai Kehidupan Kedua dari yang Tersisa

PORCELAIN COUTURE menelisik bagaimana material yang terabaikan dapat menemukan kehidupan kedua. Lebih dari itu, kolaborasi ini menunjukkan bahwa tanggung jawab terhadap lingkungan, keahlian para perancang dan perajin, serta kemewahan dapat hidup berdampingan.
Dalam proses penciptaannya, BIYAN menghadirkan tekstil bersulam, kain adibusana, dan sisa bahan yang dirawat dengan saksama dari atelier-nya. Sementara itu, GAYA CERAMIC menyumbangkan serpihan porselen, prototipe, dan pecahan dari tungku pembakaran. Bahan-bahan ini kemudian dikerjakan dengan tangan melalui pemotongan, perakitan, pelapisan, penyelesaian akhir, hingga dekorasi.
Kemewahan Baru dalam Porcelain Couture BIYAN

Tantangan utama proyek ini bukan terletak pada teknik, melainkan pada cara pandang. Sisa bahan dipandang sebagai sumber daya, ketidaksempurnaan sebagai keunikan, dan dua disiplin yang semula terpisah menjadi satu bahasa kreatif.
Dari pergeseran itu, PORCELAIN COUTURE menawarkan cara lain untuk memaknai kemewahan. Kemewahan tak lagi diukur semata dari kelangkaan, tetapi juga dari keahlian tangan yang mampu mengubah sesuatu yang semula dianggap tak bernilai karya yang berharga. Di titik itulah kemewahan menemukan wujud barunya: kepingan kenangan yang lahir kembali.