
Selama hampir dua dekade, Abell Octovan dikenal melalui art toy, desain, serta karya resin yang kerap memadukan karakter budaya populer dengan humor dan satire; seperti karikatur tentang apa-apa yang ia kritisi, yang dihadirkan kembali dalam bentuk rekaannya yang jenaka. Kini, perjalanan tersebut memasuki babak baru melalui Am I an Artist, pameran solo perdana Abell di JP LIVE SPACE, Jakarta, yang menampilkan 25 karya dua dan tiga dimensi.
Mempertanyakan Identitas sebagai Seniman
Judul Am I an Artist berangkat dari pertanyaan yang cukup personal. Pameran ini memperlihatkan cara Abell menempatkan gagasan-gagasan yang berlawanan dalam satu karya, sekaligus melihat kembali proses pembentukan dirinya sebagai seniman. Catatan kuratorial Detty Wulandari menyebut perjalanan tersebut sebagai pergeseran dari keraguan terhadap diri menuju keyakinan dalam memasuki babak baru sebagai seniman visual.
Pendekatan itu terlihat melalui karya dua dimensi yang membawa refleksi personal serta karya tiga dimensi yang menghadirkan komentar sosial. Kontras menjadi salah satu cara Abell menyampaikan gagasan. Tema yang berat kemudian dipertemukan dengan bentuk yang elegan, penuh warna, humor, dan lebih mudah didekati. Cara tersebut meneruskan kecenderungan Abell menggunakan humor dan budaya populer untuk membicarakan berbagai persoalan sosial.
Ketika Humor Bertemu Refleksi
Beberapa karya dalam pameran memperlihatkan bagaimana benda sehari-hari dapat membawa makna baru. Temple of Dreams, misalnya, menghadirkan bantal putih dari resin sebagai gambaran tentang mimpi, ingatan, harapan, dan imajinasi. Sementara Bless the Cash menampilkan dua tangan yang memegang uang kertas dari pahatan marmer, merujuk pada perjalanan dan usaha di balik uang yang diperoleh.
Kecenderungan Abell menggabungkan dua gagasan juga terlihat dalam Seeing the Other Side. Seekor burung yang datang melalui jendela disambut oleh tangan terbuka, menggambarkan keterbukaan terhadap pengetahuan dan perspektif baru. Elemen jendela kemudian menjadi ruang transisi, membawa gagasan tentang proses belajar dan pertumbuhan menuju kedewasaan.
Membuka Babak Baru
Bagi Abell, Am I an Artist menjadi kesempatan untuk mempertemukan berbagai sisi praktik yang telah ia jalani selama bertahun-tahun. Dari art toy dan desain hingga lukisan serta patung, medium yang berbeda ditempatkan dalam satu percakapan mengenai identitas, pengalaman, dan cara melihat dunia.
Pameran ini juga memperlihatkan perubahan posisi Abell dalam perjalanan kreatifnya. Jika karya-karya terdahulu banyak dikenal melalui karakter populer dan satire sosial, debut solonya memberi ruang lebih luas untuk melihat gagasan personal yang berada di baliknya. Am I an Artist menjadi catatan tentang seorang perupa yang masih terus mengeksplorasi bentuk, medium, dan pertanyaan tentang dirinya sendiri sebagai seniman.