Arief Suditomo dan Dunia Dalam Media
Dari penggunaan mesin tik hingga televisi digital, Arief Suditomo telah menjadi saksi perkembangan media yang pesat. Lahir dan besar di lingkungan media, Arief punya rencana menghabiskan masa pensiunnya di dunia yang membesarkannya.
24 Mar 2020




Berada di depan layar tak pernah menjadi cita-cita Arief Suditomo. “Rasa percaya diri saya sangat rendah. Saya pemalu, introvert, sangat private, tidak suka dapat banyak perhatian,” cerita Arief. Ketika kecil pilihan karier masa depannya kerap berganti. “Namanya anak kecil, cita-cita saya gantiganti. Saat ke bandara, saya langsung mau jadi pilot, saat ke bioskop saya ingin jadi tukang sobek karcis, dan masih banyak sekali,” katanya. Hidup memang penuh kejutan karena setelah menyelesaikan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, ia langsung terjun menjadi wartawan. Nama Arief Suditomo mulai dikenal luas semenjak ia menjadi pembaca berita televisi Liputan 6 SCTV. Mulai mengudara pada 20 Mei 1996, paras Arief yang menawan berhasil memikat hati para wanita. Selama bekerja di SCTV, Arief melakukan tugas produser, peliputan berita, dan penyiar berita. Ia pernah mendapat penghargaan Panasonic Awards tahun 2002.

Arief kemudian berekspansi dari muncul di layar kaca menjadi penanggung jawab di belakang layar. Ini dimulai pada saat ia bekerja di stasiun televisi RCTI pada 2003 menjadi programming manager. Namun Arief kembali terjun ke dunia penyiar berita sejak tanggal 11 Maret 2004 saat menjadi wakil pemimpin redaksi di Seputar Indonesia RCTI. Karier Arief menanjak menjadi pemimpin redaksi di Seputar Indonesia RCTI sejak tanggal 1 Januari 2005.

Menggeluti profesi wartawan, Arief pun kembali menimba ilmu pascasarjana di bidang komunikasi. Tapi ternyata ia kemudian menjadi politikus. Duduk di Senayan sebagai Ketua Kelompok Fraksi Hanura di Komisi I DPR RI hingga tahun 2016 dan kemudian sebagai anggota Komisi VIII DPR RI. Tapi pada akhirnya ia kembali ke dunia yang membesarkannya sebagai Pemimpin Redaksi dan News Director Metro TV. Hidup memang selalu penuh kejutan.

 “Jurnalisme adalah cinta pertama saya dan akan selalu begitu. Saya pernah meninggalkan dunia itu dan mencoba untuk menjadikannya masa lalu, ternyata nasib selalu menghantarkan saya kembali pada jurnalisme. Jadi, ya, jurnalisme adalah passion saya, cinta saya dan juga masa depan saya.” Terjun sebagai wartawan awalnya iseng saja, tetapi menjadi jurnalis muda ternyata menyadarkan Arief tentang banyak hal yang belum ia ketahui, khususnya dalam bidang sosial politik.

“Anda bayangkan, saya lahir dari keluarga kelas menengah zaman Orde Baru yang berkecukupan” ujar Arief. Ayahnya bekerja sebagai pegawai negeri sipil dan ibunya bekerja di BUMN. Sebagian besar kerabatnya pun demikian, ada yang seperti orangtuanya atau bekerja di TNI dan Polri. Menurut pengakuan Arief, ia adalah mahasiswa yang kesibukannya hanya belajar dan dugem, tidak aktif dalam organisasi kampus, apalagi ikut demonstrasi, menyuarakan tuntutan rakyat. “Bisa Anda bayangkan betapa abainya saya pada kondisi sosial di luar lingkaran pribadi saya. Begitu jadi wartawan, saya terpapar dengan banyak sekali fakta-fakta ketidakadilan sosial dan politik yang selama ini sama sekali tidak saya perhatikan atau bahkan menarik minat saya untuk sekadar tahu. Sebagai jurnalis, saya meliput mereka, menulis kisah mereka,” kata Arief. Ketika tulisannya dibaca lalu direspons orang banyak, ia seperti mendapat panggilan, jurnalisme adalah masa depannya, bukan batu loncatan untuk karier yang sesungguhnya.

Pada awalnya ia tidak terlalu peduli atas dampak yang hadir bersamaan dengan karya jurnalistiknya. Tapi lama kelamaan iamenyadari juga bahwa tulisan dan kemunculannya di layar telah memengaruhi pihak lain. “Banyak anak-anak muda yang bilang bila kehadiran saya di layar dulu membuat mereka ingin jadi jurnalis,” Arief bercerita.

 

 

Author

DEWI INDONESIA