
Di zaman yang serba cepat dan mengukur keberhasilan dari seberapa banyak yang kita hasilkan, banyak perempuan terbiasa mengukur hari dari daftar tugas yang berhasil diselesaikan. Tidak mengherankan jika akhirnya banyak orang menganggap tidur sebagai satu target lain yang harus dicapai. Padahal, menurut Mira Madjid, dokter gigi spesialis periodontologi sekaligus pendiri Bodhicitta Circle, tidur yang berkualitas justru bukan sesuatu yang bisa dipaksa. “Tidur bukanlah sebuah pencapaian yang harus Anda kejar, melainkan sesuatu yang justru harus Anda lepaskan,” ujarnya.
Mengapa Kita Sulit Tidur Nyenyak?
Bagi Mira, kualitas tidur sering kali mencerminkan bagaimana kita menjalani hidup saat terjaga. Ketika pikiran dipenuhi target, tanggung jawab, dan berbagai hal yang ingin dikendalikan, tubuh pun kesulitan benar-benar beristirahat.
Menurutnya, kondisi ini menjadi semakin menantang bagi perempuan yang memasuki fase perimenopause dan menopause. Pada fase ini, perubahan hormon membuat tubuh lebih sensitif terhadap stres.
“Ketika hormon estrogen mulai menurun, perubahan tersebut membuat tubuh kita menjadi lebih sensitif dan tidur pun terasa lebih sulit,” jelasnya. “Jika kita tidak menjaga gaya hidup agar tetap seimbang dan hanya bergantung pada hormon estrogen yang sedang drop, kualitas tidur kita akan semakin memburuk.:
Ia juga menjelaskan bahwa banyak orang hidup terlalu lama dalam mode simpatetik, yaitu kondisi sistem saraf yang membuat tubuh terus bersiap untuk bekerja, berprestasi, dan menghadapi tantangan. Dalam keadaan ini, tubuh sulit berpindah ke mode parasimpatetik yang bertugas membantu kita beristirahat, tidur, dan merasa aman.
“Ada kalanya kita perlu ngegas agar kita bisa bekerja dan berprestasi. Namun, jangan lupa, kita juga harus memiliki kemampuan untuk ‘menginjak rem’,” katanya.
Belajar Melepaskan Melalui Tubuh

Menurut Mira, kemampuan untuk beristirahat sejatinya tidak hanya dimulai dari pikiran, tetapi juga dari tubuh. Karena itu, praktik somatik seperti latihan napas, meditasi, yoga, atau body scanning dapat membantu sistem saraf kembali merasa aman. Salah satu teknik yang ia rekomendasikan adalah memperpanjang embusan napas dibanding tarikan napas untuk membantu mengaktifkan respons relaksasi tubuh.
Namun lebih dari sekadar teknik, yang terpenting adalah membangun kebiasaan berserah dalam keseharian. Mengurangi stimulasi berlebih, membatasi paparan layar sebelum tidur, serta memberi ruang bagi emosi untuk diproses menjadi bagian dari praktik tersebut.
Yang terpenting adalah membangun kebiasaan berserah dalam keseharian.
“Semakin hidup kita dilingkupi rasa takut, tidur justru akan terasa semakin sulit,” ujarnya.
“Di Bodhicitta, saya selalu ingin memberikan tools sekaligus edukasi singkat, karena memahami dinamika ini sangat penting bagi kehidupan kita,” katanya lagi. “Tidur yang berkualitas sangat krusial, terutama bagi para high-functioning performers. Dan saya yakin, teman-teman yang hadir di sini termasuk di dalamnya.”
Pada akhirnya, tidur yang nyenyak bukanlah hasil dari usaha yang lebih keras, melainkan kemampuan untuk melepaskan apa yang tidak lagi perlu kita bawa. Di tengah kehidupan yang penuh tuntutan, mungkin bentuk self-care yang paling sederhana adalah memberi diri sendiri izin untuk berhenti sejenak, memperlambat ritme, dan percaya bahwa tidak semua hal harus diselesaikan hari ini.