
Seniwati asal Yogyakarta, Dian Suci, terpilih sebagai pemenang Max Mara Art Prize for Women edisi 2025–2027. Pengumuman tersebut disampaikan pada 7 Mei 2026, bertepatan dengan pembukaan La Biennale di Venezia di Italia.
Nama Dian sebelumnya masuk dalam daftar lima finalis bersama Betty Adii, Dzikra Afifah, Ipeh Nur, dan Mira Rizki. Penghargaan ini berfokus pada dukungan bagi perupa perempuan di tahap berkembang maupun pertengahan karier, melalui program residensi dan pengembangan proyek baru.
Kriya, Tubuh, dan Spiritualitas dalam Proposal Dian Suci
Dalam praktiknya, Dian banyak membicarakan hubungan antara ruang domestik dan kekuasaan politik. Berangkat dari pengalamannya sebagai ibu tunggal, ia kerap mengangkat isu patriarki, otoritarianisme, hingga tekanan sosial yang dialami perempuan sehari-hari melalui medium instalasi, lukisan, patung, dan video.
Proposal yang membawanya memenangkan penghargaan ini berjudul Crafting Spirit: Cultural Dialogues in Heritage and Practice. Lewat proyek tersebut, Dian ingin menelusuri hubungan antara spiritualitas, kerja kriya, dan sistem kapitalisme melalui riset antara Indonesia dan Italia. Ia akan mempelajari bagaimana benda-benda religius dan objek nazar diproduksi, digunakan, hingga berubah menjadi bagian dari budaya konsumsi kontemporer.
Bagi Dian, proyek ini lahir dari pengalaman yang dekat dengan tubuh dan keseharian perempuan perajin. “Proposal saya lahir dari kisah-kisah tubuh dan ingatan dalam kehidupan dan gerak para perempuan perajin, yang pekerjaannya sering kali berada di antara devosi dan keberlangsungan hidup,” ujarnya, dikutip dari keterangan resmi Museum MACAN.
Ia melihat praktik kriya bukan hanya sebagai teknik membuat benda, tetapi juga sebagai ruang penyimpanan ingatan budaya. “Saya ingin belajar dari tradisi dan ritual yang menyimpan spiritualitas dalam tubuh-tubuh yang menciptakan,” lanjutnya.
Residensi Italia dan Pengembangan Riset Baru
Sebagai bagian dari penghargaan, Dian akan menjalani residensi selama enam bulan di Italia yang dirancang khusus untuk pengembangan proyeknya. Program ini akan membawanya ke beberapa kota seperti Assisi, Roma, Lecce, dan Firenze untuk melakukan riset sekaligus mempelajari praktik-praktik kriya lokal.
Di Assisi, ia akan mempelajari kehidupan religius dan hubungan antara keyakinan dengan komersialisasi. Sementara di Lecce dan Firenze, ia dijadwalkan mendalami teknik papier-mâché, tempera telur, hingga tenun tangan tradisional. Seluruh perjalanan ini nantinya menjadi bagian dari pengembangan karya baru yang akan dipresentasikan di Jakarta dan Italia pada 2027.
Bagi Dian, kesempatan ini bukan hanya tentang produksi karya baru, tetapi juga proses mendengar dan memahami pengalaman orang lain. “Saya menerima kesempatan ini dengan rasa syukur dan komitmen untuk mendengarkan, untuk belajar, dan untuk menerjemahkan perjumpaan-perjumpaan ini ke dalam bentuk-bentuk yang menghormati keintiman kerja manusia dan kesinambungan budaya,” katanya.
***
Kemenangan Dian Suci menambah perhatian terhadap praktik seni Indonesia yang berangkat dari pengalaman sehari-hari, kerja tangan, dan tubuh perempuan. Melalui proyek ini, ia tidak hanya membawa isu tentang spiritualitas dan kriya ke ruang seni internasional, tetapi juga membuka percakapan tentang bagaimana tradisi, tenaga kerja, dan keyakinan terus bernegosiasi dengan perubahan zaman.