
Di tangan Joko Anwar, penjara tidak pernah hanya menjadi ruang fisik. Dalam Ghost in the Cell (2026), Labuhan Angsana bukan sekadar latar, melainkan miniatur masyarakat, lengkap dengan hierarki, kekuasaan, dan kekerasan yang diam-diam terasa familiar.
Cerita dimulai dengan kedatangan Dimas (Endy Arfian), seorang jurnalis yang menjadi napi baru. Kehadirannya bertepatan dengan serangkaian pembunuhan brutal di Blok C: mayat-mayat yang ditemukan dalam posisi ganjil, nyaris seperti instalasi seni yang grotesk, seolah “dipajang” oleh sesuatu yang tak kasatmata.
Di tengah teror itu, para napi dari berbagai kelompok yang sebelumnya saling bermusuhan dipaksa untuk bekerja sama. Bukan untuk melawan manusia lain, melainkan sesuatu yang bahkan tidak bisa mereka lihat.
Humor di tengah Horor
Yang membuat Ghost in the Cell terasa berbeda adalah keberanian film ini untuk tetap lucu, bahkan di tengah kekacauan dan kematian. Dialog-dialognya tajam, satir, dan sering kali muncul di momen yang tidak terduga.
Salah satu adegan paling sederhana namun efektif terjadi ketika Anggoro (Abimana Aryasatya) dikunjungi anak-anaknya. Suasana yang awalnya emosional tiba-tiba bergeser ketika sang anak sulung berkata ia takut ibunya akan menikah lagi—bukan karena kehilangan ayahnya, tetapi karena calon suami baru itu “jelek”, meski namanya Alexander terdengar gagah. Perubahan nada yang tiba-tiba ini bukan hanya lucu, tetapi juga terasa sangat manusiawi.
Humor lain muncul dari percakapan antar napi. Ketika mereka berkumpul di satu titik, Anggoro melontarkan komentar, “Ngapain lo ngumpul di tengah kayak kuning telor?”—sebuah kalimat sederhana yang justru menjadi pelepas ketegangan.
Angkara yang Membawa Petaka
Mayoritas tokoh dalam film ini adalah laki-laki dengan karakter keras, penuh ego, dan terbiasa menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Namun menariknya, Ghost in the Cell justru membongkar maskulinitas itu dengan apik.
Ketika ancaman datang dari sesuatu yang tak bisa dilawan dengan otot, para napi dipaksa menegosiasi ulang cara mereka bertahan. Mereka belajar menahan amarah, menurunkan ego, bahkan bekerja sama dengan musuh.
Salah satu elemen paling menarik adalah gagasan tentan “aura buruk”. Six (Yoga Pratama), karakter ‘indigo’ di antara mereka, bisa melihat bahwa entitas supranatural ini tertarik pada energi negatif, yakni amarah, kebencian, kekerasan.
Angkara hanya akan membawa petaka; dan karena itulah, setiap kali konflik memuncak ketika kawan-kawannya berkelahi, Six akan berteriak, “Merah! Merah!” sebagai peringatan bahwa seseorang menjadi target berikutnya. Alih-alih melawan, para napi akhirnya belajar menahan diri.
Teror yang Grotesk
Namun di luar humor dan dinamika karakter, satu hal yang benar-benar menonjol adalah bagaimana film ini memperlakukan tubuh.
Mayat-mayat dalam Ghost in the Cell tidak sekadar menjadi korban. Mereka menjadi objek visual yang dirancang dengan sangat detail. Joko Anwar bahkan bekerja sama dengan enam ilustrator, yakni Anwita Citriya, Benediktus Budi, Benny Bennos Kusnoto, Coki Greenway, Hafidzjudin, dan Rudy AO, untuk menciptakan pose-pose tubuh yang terasa artistik sekaligus mengerikan.
Hasilnya adalah visual yang sulit dilupakan: grotesk, indah, dan mengganggu dalam waktu yang bersamaan. Tubuh yang seharusnya menjadi tanda akhir justru diubah menjadi pernyataan visual.
Horor yang Humoris
Ghost in the Cell bukan sekadar film horor. Ia adalah eksperimen genre yang menggabungkan satire, komedi, dan kritik sosial dalam satu ruang yang sempit: penjara.
Di balik tawa dan adegan brutal, film ini berbicara tentang sesuatu yang lebih dalam: tentang manusia yang dipaksa menghadapi dirinya sendiri. Tentang bagaimana kekerasan tidak selalu datang dari luar, tetapi juga dari dalam. Dan mungkin, seperti yang ditunjukkan film ini, yang paling menakutkan bukanlah hantu di dalam sel, melainkan energi yang kita bawa ke dalamnya.