
Natalie Sasi Organ merasa ada bagian dari dirinya yang tidak sepenuhnya diterima di konteks tertentu. Lahir dari orang tua Thailand dan Inggris, ia merasa seperti berada di tengah-tengah: tidak sepenuhnya di dalam, tapi juga tidak di luar masing-masing budaya ini. Natalie Sasi Organ adalah perempuan perupa yang berbasis di Bangkok, yang baru saja membuka pameran seni tunggal perdananya di ara contemporary.
Melalui pameran ini, Natalie tidak hanya menampilkan karya, tapi juga membuka lapisan-lapisan dirinya: tentang keluarga, tubuh, ingatan, dan identitas yang terus berubah.
“Saya rasa ini seperti membagikan semuanya,” katanya. “Seperti membuka hati, tapi juga berharap orang lain bisa menemukan bagian dari dirinya sendiri di dalamnya.”
Perempuan, Api, dan Warisan yang Diturunkan

Natalie mengeksplorasi relasi antar perempuan lintas generasi dalam pameran ini; ibu, nenek, dan buyut. Lewat karya lukis dan instalasinya, ia menuturkan pengalaman mereka membentuk dirinya hari ini.
Api dan pinang kerap hadir dalam karya Natalie dalam pameran ini. Baginya, api bukan hanya tentang kehancuran. “Saya ingin melihatnya sebagai sesuatu yang memberi kehidupan. Bagian dari siklus lahir, hidup, dan mati,” jelasnya.
Ia juga mengangkat praktik tradisional seperti yu fai, sebuah ritual pasca melahirkan di mana perempuan harus berada di dekat api selama berhari-hari. Praktik ini pernah dilarang, tapi bagi Natalie, ia membuka percakapan tentang tubuh perempuan, perawatan, dan tradisi yang sering disalahpahami.
Karya instalasinya bahkan menghidupkan kembali ingatan personal. Seperti kipas yang digunakan buyutnya untuk “mendidik” anak-anak agar menunjukkan rasa hormat. “Itu memori yang sangat fisik,” katanya. “Dan aku ingin orang bisa merasakannya, bukan hanya melihat.”
Menyimpan yang Tidak Lagi Ada

Dalam lukisan-lukisannya, Natalie sering menghadirkan dirinya sendiri, namun tidak secara utuh. Sosoknya tampak transparan, seolah setengah hadir.
“Aku merasa ada bagian dari diriku yang tidak sepenuhnya diterima di konteks tertentu,” katanya. “Seperti berada di tengah—tidak sepenuhnya di dalam, tapi juga tidak di luar.”
Banyak objek dalam karyanya adalah benda-benda yang dulu disentuh oleh orang-orang yang kini sudah tidak ada. Ia mencoba “menyimpan” ingatan itu, meski sadar bahwa tidak semuanya bisa dipertahankan.
“Seperti mencoba menahan sesuatu yang perlahan hilang,” ujarnya.
Melalui pameran ini, Natalie tidak hanya menampilkan karya, tapi juga membuka lapisan-lapisan dirinya, yakni tentang keluarga, tubuh, ingatan, dan identitas yang terus berubah. “Saya merasa ini seperti membagikan semuanya,” katanya. “Seperti membuka hati, tapi juga berharap orang lain bisa menemukan bagian dari dirinya sendiri di dalamnya.”
***
“She Lit My Mouth without a Word”
Pameran solo perdana Natalie Sasi Organ
11 April–9 Mei 2026
📍 ara contemporary
Jl. Tulodong Bawah I No.16, Senayan,
Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan