
Karya instalasi Etalase (1994) karya Arahmaiani resmi menjadi bagian dari koleksi permanen Galeri Nasional Indonesia (Galnas). Pengumuman tersebut disampaikan dalam Program Lecture Pameran IWA #4: ON THE MAP – The Significance of Women Artists in Indonesian Historiography pada pertengahan April lalu, bersama Dewan Kurator Galeri Nasional Indonesia Agung Hujatnikajennong dan Citra Smara Dewi.
Representasi Perempuan Perupa di Galnas

Agung menyebut akuisisi ini sebagai bagian dari upaya memperluas representasi seniman perempuan dalam koleksi institusi seni di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa versi pertama Etalase kini berada dalam koleksi National Gallery Singapore, sementara versi lain pernah dipresentasikan di museum di Amerika Serikat.
“Yang kami tampilkan di sini adalah versi awal dari karya tersebut,” ujar Agung. Kini, versi terbaru karya tersebut dipajang di lantai dua Galeri Nasional sebagai bagian dari koleksi permanen mereka.
Di dalam instalasi itu, berbagai objek ditempatkan berdampingan: patung Buddha, angklung, tata bunga, kipas, Coca-Cola, hingga rebana. Benda-benda yang tampak akrab itu justru menjadi pintu masuk bagi kritik yang lebih besar tentang agama, budaya, dan kapitalisme global.
Kontroversi “Etalase” dan Kritik terhadap Kapitalisme
Saat pertama kali dipamerkan di Jakarta pada 1994, Etalase memicu kontroversi. Arahmaiani menceritakan bahwa karya tersebut sempat dituduh menghina agama Islam karena menempatkan Al-Quran di dekat kotak kondom.
“Saya bingung juga,” katanya. “Padahal ide karya ini sebetulnya kritik saya terhadap sistem ekonomi global yang kapitalis yang menjadikan budaya dan keyakinan sekadar komoditas.”
Menurut Arahmaiani, kotak kondom yang digunakan dalam instalasi itu bukan sekadar simbol seksual, melainkan merujuk pada program Keluarga Berencana di era Orde Baru. Ia menyinggung bagaimana industri kondom saat itu juga terkait dengan kepentingan ekonomi dan kekuasaan. “Saya justru sedang membela agama Islam, bukan menghina,” ujarnya.
Bagi Arahmaiani, kritik dalam Etalase tidak hanya berbicara tentang satu agama. Kehadiran simbol Buddha, Islam, dan unsur budaya lain menunjukkan bagaimana masyarakat Indonesia selama ini hidup berdampingan di bawah prinsip Bhinneka Tunggal Ika. Namun menurutnya, situasi global hari ini memperlihatkan bagaimana politik dan kapitalisme terus memecah hubungan tersebut.
“Sekarang lihat apa yang terjadi di Timur Tengah. Perang terjadi di mana-mana. Kritik saya berhubungan dengan sistem global itu,” katanya. Ia menilai karya ini masih relevan untuk dibaca ulang, terutama oleh generasi muda.
Versi Terbaru Etalase di Galnas

Dalam versi terbaru Etalase, beberapa elemen karya juga mengalami perubahan mengikuti konteks zaman dan lokasi pameran. Patung Buddha laki-laki yang digunakan pada versi awal kini diganti menjadi figur Buddha perempuan. Menurut Arahmaiani, perubahan itu berkaitan dengan situasi sosial hari ini, termasuk menguatnya patriarki.
Elemen tanah yang dulu ditempatkan dalam kotak plastik kini disimpan dalam wadah kayu. Tanah, menurutnya, tetap menjadi simbol penting dalam praktiknya tentang lingkungan hidup dan eksploitasi bumi. “Sekarang semuanya mau dijual. Tanah juga dijual sampai rusak,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa beberapa material lain selalu disesuaikan dengan konteks budaya tempat karya dipamerkan. Kipas bergaya Tiongkok, misalnya, bisa diganti menjadi kipas bambu dan kayu ketika dipresentasikan di Indonesia. Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana Etalase terus bergerak mengikuti ruang sosial yang berbeda, tanpa kehilangan kritik utamanya.
***
Sebelum Etalase, nama Arahmaiani juga sempat menjadi sorotan lewat lukisan Lingga Yoni (1993), karya yang banyak dibicarakan karena mengangkat simbol tubuh, seksualitas, dan spiritualitas secara terbuka. Praktik artistiknya sejak awal memang sering berada di persimpangan antara agama, politik, tubuh perempuan, dan kritik sosial. Lewat karya-karyanya, Arahmaiani terus menghubungkan persoalan lingkungan, spiritualitas, kekuasaan, dan tubuh manusia sebagai bagian dari sistem yang saling terkait.