
Bagi seniman dan printmaker asal Bali, Kadek Dwi Darmawan, tradisi bukanlah sesuatu yang dipertahankan dalam bentuk yang utuh. Ia melihatnya sebagai pengetahuan yang terus hidup, dapat ditafsirkan kembali, sekaligus menjadi ruang untuk mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru. Gagasan tersebut ia hadirkan melalui kolaborasinya bersama jenama perhiasan TULOLA dan arsitek, penata panggung, sekaligus kurator Trianzani Sulshi dalam sebuah instalasi artistik yang terbagi ke dalam empat bab: “Persembahan”, “Ekspresi”, “Nilai”, dan “Transformasi”.
Kolaborasi di TULOLA: Kawan Nusantara
Dikenal sebagai seniman otodidak yang berbasis di Bali, Kadek mengawali ketertarikannya pada seni grafis dari poster konser dan sampul album musik. Kini, praktik berkaryanya banyak memadukan filosofi Sekala–Niskala dengan bahasa visual seni grafis, relief Bali, hingga pendekatan lowbrow art melalui teknik cukil lino.
Untuk proyek di acara Kawan Nusantara ini ini, Kadek meninggalkan bidang dua dimensi yang selama ini menjadi ruang eksplorasinya dan menerjemahkan bahasa visual tersebut ke dalam relief dinding.
“Biasanya saya memulai dari drawing, lalu mentransformasikannya ke medium lino cut,” jelasnya kepada DEWI di acara TULOLA: Kawan Nusantara, pada Kamis (23/7) siang di The Dharmawangsa.
“Di proyek ini saya mencoba mengorelasikan proses tersebut dengan relief dan tradisi ukir di Bali,” sambungnya. “Sebagai perupa yang terbiasa bekerja dalam dua dimensi, ini menjadi tantangan yang menarik sekaligus kesempatan untuk mencoba kemungkinan-kemungkinan baru.”
Empat Instalasi, Dari Persembahan Menuju Transformasi

Empat instalasi yang dihadirkan Kadek dalam kolaborasi ini membentuk sebuah narasi yang saling berkesinambungan. Instalasi pertama, “Persembahan”, menghadirkan From Sun to Shine, mengangkat matahari sebagai metafora sumber kehidupan sekaligus spiritualitas. Melalui karya ini, ia mengajak pengunjung melihat bahwa makna sebuah persembahan tidak hanya lahir dari hasil akhirnya, tetapi juga dari semangat dedikasi yang menyertainya.
Narasi tersebut berlanjut pada instalasi kedua, “Ekspresi”, yang juga dilengkapi dengan relief karyanya, Wings of Wisdom, yang dipadukan dengan subeng karya Tulola bermotif bunga teratai. Simbol angsa dan sayap pada relief menjadi medium untuk mempertemukan ekspresi artistik kontemporer dengan warisan visual Bali. Alih-alih menghadirkan tradisi sebagai sesuatu yang beku, Kadek melihatnya sebagai percakapan yang terus berlangsung.
“Bukan meromantisasi masa lalu, tetapi bagaimana saya berkomunikasi lewat rupa, lalu mencoba memaknai kembali esensi, nilai, maupun bentuknya,” katanya.
Pada instalasi ketiga, yakni “Nilai”, ia menghadirkan relief “Doors of Hope” yang mengeksplorasi gagasan tentang wadah sebagai simbol kelahiran kembali. Instalasi berbentuk pintu tersebut mengajak pengunjung meninggalkan prasangka lama sekaligus membuka kemungkinan baru dengan berangkat dari nilai-nilai yang diwariskan budaya.
Seluruh gagasan tersebut kemudian bermuara pada instalasi terakhir, “Transformasi”, yang menghadirkan karya subeng bertuliskan “Evolusi”. Instalasi ini menjadi simpul dari tiga bab sebelumnya—persembahan, ekspresi, dan nilai—yang akhirnya berujung pada perubahan.
Bagi Kadek, transformasi bukan semata-mata soal perkembangan atau kemajuan. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa dialog dengan tradisi, kebebasan berekspresi, dan nilai-nilai yang diwariskan tetap berjalan selaras.
Tradisi yang Terus Berdialog dengan Perubahan Zaman
Industri kreatif banyak mengambil inspirasi dari budaya lokal. Kadek pun menyadari bahwa selalu ada batas tipis antara merawat dan mengeksploitasi warisan budaya. Namun baginya, keduanya tidak harus saling bertentangan.
“Sebagai perupa, kita banyak terinspirasi dari alam dan budaya. Tantangannya adalah bagaimana pelestarian dan eksplorasi itu bisa berjalan selaras dengan imajinasi, pemikiran, dan tindakan kita,” ujarnya.
Pandangan tersebut juga tercermin dalam praktik artistiknya yang terus mempertemukan teknik cukil lino, relief, dan tradisi ukir Bali. Bukan untuk menghidupkan kembali masa lalu secara utuh, melainkan membuka ruang dialog baru agar pengetahuan dan nilai budaya tetap relevan di tengah praktik seni kontemporer.