
Ajang seni tahunan Art Jakarta akan kembali hadir pada 2–4 Oktober mendatang; mempertemukan galeri, seniman, institusi, komunitas, dan publik seni di JIExpo Kemayoran. Menggandeng 75 galeri dari berbagai kota di Asia, edisi kali ini juga menghadirkan sejumlah presentasi khusus yang memperluas cara pengunjung berinteraksi dengan karya. Enin Supriyanto, Direktur Artistik Art Jakarta, juga menjelaskan bahwa sejumlah karya dipersiapkan secara khusus melalui kolaborasi dengan para mitra, sementara program lainnya memperkenalkan seniman dan ekosistem seni dari berbagai wilayah.
Dari Tubuh, Ingatan, hingga Pengalaman Personal
Salah satu presentasi yang menarik perhatian datang dari ArtSociates melalui karya instalasi Henryette Louis. Berbasis di Bandung, Louis dikenal mengembangkan praktik yang berangkat dari teknik cetak dalam seperti etsa, tetapi menggunakan gypsum sebagai salah satu permukaan karyanya. “Hasilnya menyerupai gambar atau guratan purba pada dinding, dengan tema yang kerap bersinggungan dengan tubuh, kerentanan, dan persoalan perempuan,” ujar Enin. Katanya lagi, kehadiran karya Henryette di Art Jakarta kali ini juga membuka percakapan tentang pengalaman tubuh, yang dapat diterjemahkan menjadi karya seni dan dibaca kembali oleh publik.
Persoalan personal juga hadir melalui karya Angki Purbandono yang dipresentasikan Soul Project. Karya berukuran sekitar 2,5 meter dengan tinggi hampir empat meter tersebut melanjutkan eksplorasi Angki terhadap bentuk bunga. Enin menjelaskan bahwa ketertarikan itu berawal dari pengalaman sederhana ketika Angki harus rutin berziarah ke makam orang tuanya dan berhadapan dengan bunga dalam konteks yang berbeda. “Sejak itu, hampir dua sampai tiga tahun, tema bunga ini menjadi semacam metafor, tribute Angki pada macam-macam soal, bukan hanya pada dimensi personal tapi juga pada masalah-masalah lain,” jelas Enin lagi.
Teknologi, Investasi, dan Bentuk Seni yang Interaktif
Sejumlah presentasi khusus Art Jakarta lainnya memperlihatkan hubungan seni dengan perkembangan teknologi dan ekonomi hari ini. Untuk Julius Baer VIP Lounge, seniman Andi Wirman Saputra menyiapkan empat karya baru secara khusus. Sementara itu, presentasi yang didukung Bibit menampilkan karya Andri Pragusa yang dipilih untuk mengajak pengunjung melakukan refleksi mengenai pentingnya mengambil langkah dengan hati-hati dan penuh pertimbangan, sejalan dengan nilai yang ingin dikomunikasikan oleh platform investasi tersebut.
Selain itu, Treasury kembali menghadirkan Treasury Art Prize, sebuah program kompetisi tertutup yang dikembangkan bersama Art Jakarta. Tahun ini, penghargaan tersebut diberikan kepada seniman asal Bandung, Etsa Maysara. Menanggapi gagasan tentang emas, Etsa tidak menerjemahkannya melalui material emas secara langsung, melainkan sebagai nilai atau kondisi. Karyanya kemudian dikembangkan menjadi pengalaman multisensori yang melibatkan aroma, suara, cahaya, hingga elemen yang dapat disentuh pengunjung. Pendekatan serupa terhadap material dan teknologi juga terlihat dalam karya Agnes Hansela yang didukung iForte, yang memanfaatkan kabel bekas dari infrastruktur jaringan internet sebagai bagian dari karyanya.
Memperluas Peta Seni di Luar Jakarta
Art Jakarta 2026 juga memberi perhatian pada hubungan antara ekosistem seni Jakarta dan berbagai perkembangan di daerah. Melalui Art Jakarta Scope, sejumlah organisasi dari Malang, Pekanbaru, Banyumas, Gorontalo, dan Bekasi diperkenalkan sebagai bagian dari upaya memperlihatkan bagaimana pasar dan apresiasi seni tumbuh dengan karakter masing-masing di berbagai wilayah Indonesia.
Jangkauan regional juga terlihat melalui Korea Fokus, yang menghadirkan 14 galeri dari Korea Selatan untuk memperkenalkan karya seniman muda Korea kepada publik Jakarta. Sementara itu, ISI Bali kembali berpartisipasi dengan membawa karya seniman sekaligus pengajar dari institusinya. Art Jakarta sendiri menempatkan Scene sebagai platform bagi kolektif seniman, studio kriya, dan proyek independen, memperluas keterlibatan ekosistem seni di luar format galeri konvensional.
Melalui beragam presentasi tersebut, Art Jakarta 2026 berupaya menunjukkan bahwa seni kontemporer dapat menjadi ruang untuk membaca pengalaman yang semakin beragam, dari hubungan manusia dengan tubuh dan ingatan hingga teknologi, ekonomi, dan perubahan ekosistem kreatif. Bagi pengunjung, keragaman ini juga menawarkan cara untuk melihat bagaimana seniman dari berbagai latar merespons dunia yang terus berubah.