
ISA Art Gallery menghadirkan Paper Menagerie #3: On Equal Grounds, sebuah pameran seni yang menggunakan medium kertas untuk mencatat kenangan, jati diri, dan perjalanan sejarah dengan cara yang lebih bebas. Mengambil inspirasi dari cerpen karya Ken Liu, seorang penulis keturunan Tionghoa-Amerika yang mengeksplorasi kertas sebagai penyimpan memori dan warisan budaya, serta semangat Bhinneka Tunggal Ika, pameran ini merangkul beragam latar belakang dan generasi seniman tanpa menempatkan karyanya dalam hierarki tertentu.
Kertas sebagai Ruang Memori dan Eksplorasi Material
Sifat kertas yang dapat direproduksi dan diakses secara luas menjadikannya sarana ideal untuk berbagi gagasan, merespons isu sosial, hingga mengekspresikan diri. Melalui lukisan, cetakan, kolase, hingga bentuk tiga dimensi, para seniman mengolah kertas baik secara intuitif maupun dengan bahan sehari-hari sehingga menjadi wadah merekam pengalaman hidup dan dinamika lingkungan sekitar.
Menghubungkan Perspektif dan Konstruksi Sejarah
Dalam novel Ken Liu, kertas menjadi elemen sentral untuk mengutarakan pesan-pesan mendalam antara karakternya. Mengambil gagasan serupa, pameran ini menggunakan kertas sebagai benang merah yang menghubungkan karya 63 seniman, kolektif, dan peneliti lintas generasi dari Indonesia.
Berpijak pada pemikiran Hannah Arendt bahwa “The world lies between people”, pameran ini juga meleburkan hierarki media dan latar belakang seniman. Di atas tatakan yang sama (on equal grounds), karya-karya ini saling berdialog tanpa ada gagasan yang disederhanakan atau didominasi oleh satu narasi tunggal. Berikut adalah highlight dari 11 seniman lintas disiplin dan generasi yang turut mempresentasikan karyanya dalam pameran ini:
1. A. D. Pirous
Karya: Motif Tilam Aceh (1983, Akrilik di atas kertas) & Ornaments Aceh (2011, Potongan kertas & akrilik di atas kanvas)
Sebagai salah satu tokoh maestro seni rupa modern Indonesia, mendiang A. D. Pirous membawa tradisi visual Aceh ke dalam eksperimen materialitas kertas. Lewat karya potong kertas dan lukisan, beliau mentranslasikan ragam hias sulaman kasab serta tilam menjadi bentuk-bentuk yang mengevokasi ingatan kultural dan tradisi melalui ketelitian pola serta eksperimen warna.
2. Arahmaiani
Karya: Suara Alam 2 & Suara Alam 4 (2024, Akrilik di atas kertas)
Dalam seri Suara Alam, seniman perintis seni performans dan aktivisme ekologi Arahmaiani memberikan “suara” kembali kepada alam. Bentuk-bentuk flora ditampilkan dalam palet monokromatik yang kontemplatif, menggarisbawahi kerapuhan sekaligus ketahanan ekosistem. Kertas di sini menjadi kanvas yang merekam kehadiran alam sebagai entitas hidup yang bernilai spiritual dan ekologis.
3. Ardi Gunawan
Karya: Exploitation Painting Workshop: Matahari 1 & Matahari 2 (2017, Akrilik di atas koran)
Ardi Gunawan mentransformasi lembaran koran bekas, sebuah bentuk kertas massal yang identik dengan informasi sekilas menjadi arena eksperimen artistik. Lewat intervensi cat akrilik, sapuan, dan rekayasa permukaan, karya ini mempertanyakan gagasan tentang kebermanfaatan, relevansi, serta kejelasan fungsi materi dalam keseharian.
4. Etza Meisyara
Karya: Sylvan Threshold & Remnant (2026, Photo etching & kolase fotografis di atas fine art paper)
Melalui teknik photo etching dan kolase fotografis, Etza Meisyara merekonstruksi pemandangan alam dengan cara menumpuk fragmen ingatan visual antara lingkungan yang didokumentasikan dan lanskap imajiner. Kertas fine art menjadi medium yang merespons rekaman lanskap sebagai memori bergerak yang pudar sekaligus tertinggal.
5. Ida Lawrence
Karya: TAMPERED NOTES (DRAWN PRAWN, WRINGING WRISTS) & TAMPERED NOTES (TRACE TRACK SCRUNCH STACK) (2021–2025, Mixed media di atas kertas)
Ida Lawrence mengolah akumulasi coretan dan jejak fisik sebagai bentuk jejak pemikiran dan gerakan. Dengan memotong, merobek, menggambar ulang, hingga menimpa permukaan kertas hadiah dari kawan sesama seniman, karya-karyanya memperlihatkan bagaimana proses penciptaan karya adalah hasil negosiasi berlapis antara material dan waktu.
6. Henryette Louise
Karya: Blurred Boundaries (2026, Aquatint, softground etching) & Tetekmelek Carnival (2023, Drypoint, carborundum)
Terinspirasi dari lanskap bukit kapur dan karst masa kecilnya, Henryette Louise mengeksplorasi erosi dan perubahan bentuk melalui teknik cetak grafis (etching/drypoint). Folklor serta makhluk mitologis yang melekat pada lanskap tersebut hadir kembali dalam bentuk-bentuk organik yang melintasi kertas.
7. Iwan Effendi
Karya: Clenched (2026, Arang dan soft pastel di atas kertas)
Dikenal lewat praktik teater boneka dan seni rupa, Iwan Effendi mengeksplorasi ketegangan antara emosi intuitif dan penyembunyian. Karya Clenched memproyeksikan perasaan yang tertahan ke dalam karakter rekaan, seolah mencerminkan proses penghayatan sang dalang atau dalang-boneka yang berusaha menghilang di balik karakter yang dihidupkannya.
8. Luh’De Gita
Karya: Togog during Golden Hour & Under The Coconut Trees (2026, Cat minyak di atas gesso’d paper)
Melalui lukisan di atas kertas ber-gesso, Luh’De Gita merefleksikan konstruksi narasi eksotis Bali sebagai “surga” melalui fotografi arsip. Karya ini mengkritik bagaimana persepsi visual dan nostalgia dibentuk, sekaligus merespons dinamika perubahan fisik lanskap Bali di tengah modernisasi.
9. Mira Rizki
Karya: BURU BUNYI 14440 (Ver.2) (2026, Cetakan pada book paper 90gsm)
Mira Rizki mengajak penikmat seni mendengarkan lanskap suara Jakarta yang kian terkikis dan hilang. Lewat publikasi tercetak BURU BUNYI 14440, beliau mendokumentasikan rasa keterikatan serta sejarah tersembunyi kota Jakarta, menjadikan lembaran cetakan kertas sebagai panduan sensorik dan ingatan auditori.
10. Rega Ayundya Putri
Karya: Kaki Penasaran (2026, Tinta bolpoin & spidol) & Rhinoplax Osseus 2.0 (2026, Transfer karbon & tinta pada kantong kertas mabuk udara)
Rega Ayundya Putri mengangkat isu satwa liar yang terancam punah dan perdagangan ilegal melalui gambar intuitif yang sangat detail. Dengan memanfaatkan medium tak biasa seperti airsickness paper bag (kantong kertas muntah pesawat), ia mempertanyakan nilai intrinsik material sehari-hari sembari memberinya narasi kritis baru.
11. TEMPA
Karya: Kaili Land Memories (2026, Akrilik di atas kertas sinjulo)
Kolektif TEMPA mempresentasikan komposisi abstrak yang merespons fragmen tuturan lisan (oral history). Melalui jejak visual yang samar namun kuat di atas kertas sinjulo, karya ini merajut kembali kisah-kisah tanah leluhur yang terfragmentasi, merekam hubungan mendalam antara identitas diri dan tempat asal.
xxx
Melalui perpaduan berbagai teknik dan eksperimen material, Paper Menagerie #3: On Equal Grounds menegaskan kertas sebagai ruang temu yang inklusif dan reaktif. Pameran ini mengundang pengunjung menyelami jejak ingatan, refleksi kultural, serta isu ekososial yang dianyam oleh para seniman tanpa hierarki. Pameran ini dapat dikunjungi pada 19 September – 27 November 2026 di ISA Art Gallery.
Teks : Bunga Aurelia
Editor : Mardyana Ulva