
Bara menjadi titik mula kembalinya GU:UM ke Kuala Lumpur. Setelah hadir di ATAS pada 2025, modern Korean steakhouse dari Chef Louis Han kembali menempati ATAS, The RuMa Hotel and Residences, melalui residensi selama empat bulan hingga 30 November 2026. Kehadiran ini menjadi bagian dari ATAS Key Tables, seri kuliner The RuMa yang mempertemukan koki dan restoran dengan perspektif gastronomi dari berbagai penjuru.
Kali ini, GU:UM tidak sekadar membawa nama dan teknik yang sama ke meja makan Kuala Lumpur. Residensi ini menjadi kolaborasi perdana GU:UM dalam format jangka panjang di kota tersebut, sekaligus memperlihatkan cara Chef Louis Han membaca masakan Korea melalui api, hidangan panggang, serta rasa-rasa yang berangkat dari keseharian.
Masakan Korea di Atas Bara


Nama GU:UM berasal dari bahasa Korea yang berarti memanggang, menyangrai, atau memasak di atas api. Makna tersebut kemudian menjadi dasar restoran yang dibuka di Singapura pada 2024, dengan mempertemukan format steakhouse dan cita rasa Korea dalam pendekatan kuliner yang lebih modern. Di dalamnya, teknik tetap menjadi bagian penting, tetapi rasa akrab dan unsur kebersamaan juga menjadi perhatian Chef Louis Han.
Jejak Han sendiri terbentuk di beberapa dapur berbintang MICHELIN. Ia pernah bergabung dalam tim pembukaan Meta di Singapura dan bekerja sebagai Sous Chef di MOSU, Seoul. Setelah itu, Han mendirikan NAE yang memperoleh satu bintang MICHELIN pada tahun pertamanya. Pada 2022, ia menjadi koki Korea pertama yang menerima MICHELIN Guide Young Chef Award.
Dari Bara hingga Rasa Rumahan



Di ATAS, menu GU:UM dimulai dengan sejumlah interpretasi hidangan Korea, seperti Yukhwae Jeon dan Mulhwae. Rangkaian pembuka berlanjut dengan KFC atau Korean Fried Cauliflower, kembang kol goreng yang menjadi salah satu olahan unik dalam menu ini.
Bagian utama kemudian berpusat pada panggangan arang. Hanwoo Lower Loin menggunakan bagian loin dari daging sapi Hanwoo, sementara Woodae Galbi Short Rib menghadirkan potongan iga pendek. Ada pula Surf & Turf Platter, sajian yang mempertemukan elemen dari daratan dan laut dalam satu hidangan.
Setelah sajian panggang, menu beralih pada makanan yang terasa lebih dekat dengan rumah. Uncle Lulu’s Fried Rice hadir dalam bentuk nasi goreng, sedangkan GUUM’s Cold Japchae mengambil japchae, mi khas Korea, dalam versi dingin.
Sementara Doenjang Jjigae menghadirkan semur berkuah dengan pasta kedelai fermentasi. Untuk penutup, Hotteok hadir sebagai panekuk manis, Mandarin Bingsu sebagai es serut dengan cita rasa jeruk mandarin, dan Koguma Mousse membawa karakter ubi jalar.
Kelanjutan ATAS Key Tables

Restoran ini dibangun dari gagasan bahwa hidangan yang berkesan juga berkaitan dengan koneksi, sementara sejumlah menu mengambil inspirasi dari rasa yang dekat dengan memori dan keseharian. Karena itu, rangkaian di ATAS berjalan dari panggangan arang menuju hidangan yang terasa lebih familiar, tanpa meninggalkan pendekatan modern Chef Louis Han.
Pendekatan tersebut juga sejalan dengan arah ATAS Key Tables. Sejak edisi perdananya pada Juni 2026, seri ini dikembangkan sebagai ruang kolaborasi yang tidak berhenti pada satu kali kehadiran chef, melainkan mempertemukan karakter kuliner, teknik, dan perspektif dari latar yang berbeda. Kehadiran GUUM menjadi kelanjutan dari gagasan tersebut, dengan masakan Korea sebagai titik temu antara Kuala Lumpur dan pengalaman kuliner Chef Louis Han.
Teks: Cut Rashya Z.L Shiddiqie
Editor: Akib Aryo Utomo