
Ada tempat yang kita datangi untuk secangkir kopi, ada pula yang membuat kita ingin tinggal sedikit lebih lama. Di antara keduanya, kafe perlahan menemukan peran baru sebagai bagian dari ritme keseharian. Elephant Grounds, kafe yang berakar di Hong Kong sejak 2013, membawa gagasan tersebut ke Jakarta melalui sajian sepanjang hari, kopi panggang sendiri, serta ruang yang dirancang untuk berbagai pertemuan dan jeda.
Kehadirannya di Jakarta menandai babak terbaru perjalanan Elephant Grounds di Asia, setelah berkembang di Hong Kong, Manila, dan Singapura. Berangkat dari gagasan third place sebagai ruang di antara rumah dan tempat kerja, kafe ini menawarkan pengalaman yang dapat mengikuti perubahan suasana sepanjang hari, dari kopi pagi dan sarapan hingga brunch, pertemuan kasual, dan sore yang berjalan tanpa tergesa.
Kultur Kafe Hong Kong, Bertemu Jakarta

Sejak berdiri, Elephant Grounds membangun identitas melalui perpaduan specialty coffee, all-day dining, bakery, dan hospitality yang hangat. Lebih dari sekadar tempat untuk menikmati kopi, pendekatan tersebut menjadikannya ruang yang hadir di antara rumah dan tempat kerja, tempat orang dapat bertemu, berbincang, menyelesaikan pekerjaan, atau sekadar mengambil jeda dari kesibukan.
Kopi sebagai Awal Sebuah Ritual

Di balik karakter kasualnya, kopi tetap menjadi salah satu perhatian utama Elephant Grounds. Brand ini mengandalkan biji pilihan serta keahlian sangrai internal untuk menghasilkan seduhan yang konsisten, dengan karakter yang dapat dinikmati dalam berbagai momen. Pendekatan tersebut menjadikan secangkir kopi bukan sekadar pelengkap aktivitas, melainkan bagian dari pengalaman yang ingin diulang.
Pagi dapat dimulai dengan flat white, sementara kopi dingin menjadi pilihan untuk menemani percakapan yang berlangsung lebih santai. Fleksibilitas ini mencerminkan cara Elephant Grounds memandang kopi sebagai bagian dari ritual sehari-hari. Sederhana, akrab, dan cukup familiar untuk membuat seseorang ingin kembali pada kunjungan berikutnya.
Dari Hidangan Gurih hingga Kudapan Manis


Menu Elephant Grounds dirancang mengikuti keluwesan sebuah hari. Pilihan Donburi hadir dengan karakter yang lebih mengenyangkan, sementara Acai Yogurt Bowl, Avocado Toast, dan Pancakes menawarkan sajian yang lebih ringan untuk mengisi pagi hingga waktu brunch. Ragam tersebut memungkinkan pengalaman bersantap bergerak dengan leluasa, dari satu waktu makan ke waktu berikutnya.
Di sisi yang lebih manis, Ice Cream Sandwich menjadi salah satu sajian ikonis Elephant Grounds, dilengkapi deretan pastry yang dipanggang segar. Komposisi menunya terasa cukup beragam untuk mengakomodasi selera yang berbeda, tetapi tetap membawa pendekatan Elephant Grounds yang santai dan tidak berjarak. Dari hidangan gurih hingga kudapan manis, setiap sajian dirancang untuk mengiringi momen yang berbeda dalam keseharian.
Ruang yang Mengundang untuk Kembali

Bagi Elephant Grounds, sebuah kafe seharusnya mampu menjadi bagian dari keseharian, bukan sekadar tempat yang dikunjungi sesekali. Joshua Wee, General Manager Elephant Grounds, menyebut ruang seperti ini dapat mengakomodasi berbagai kebutuhan, mulai dari kopi pagi dan pertemuan bisnis hingga brunch dan waktu beristirahat di tengah aktivitas.
Kehadirannya di Jakarta pun membawa gagasan tersebut ke dalam bentuk yang lebih kasual dan mudah didekati. Dengan mempertemukan kopi, makanan, manusia, dan hewan peliharaan dalam satu ruang, Elephant Grounds menawarkan sebuah tempat untuk datang, tinggal sedikit lebih lama, lalu kembali ketika rutinitas berikutnya dimulai.
Teks: Cut Rashya Zebina L. Shiddiqie
Editor: Akib Aryo Utomo