
Sebuah ruang bisa terasa Indonesia tanpa harus menampilkan simbol Indonesia secara harfiah. Ia dapat hadir melalui tekstur, material, pola, cahaya, kerajinan, bahkan cara sebuah tempat mengajak orang bergerak dan tinggal di dalamnya. Cara pandang inilah yang selama satu dekade terakhir ikut membentuk perjalanan HBA (Hirsch Bedner Associates) di Indonesia.
Pada 2026, firma desain perhotelan global tersebut menandai sepuluh tahun kehadirannya di Indonesia. Bermula dari lima orang di Jakarta pada 2015, HBA kini berkembang menjadi kolektif desain multidisipliner dengan lebih dari 100 kreator yang berbasis di Jakarta dan Bali. Portofolionya pun meluas dari perhotelan dan resor ke hunian, komersial, hingga ruang kerja, dengan tim Indonesia yang turut mengerjakan proyek di berbagai wilayah Asia, Timur Tengah, dan pasar internasional lainnya.
Dari Satu Kota, Menjadi Percakapan Antarwilayah

Bagi HBA, Indonesia tidak berhenti pada satu gambaran tentang tropis atau kemewahan. Keragaman arsitektur, kerajinan, lanskap, dan narasi budaya justru menjadi bahan penting dalam membangun desain yang berakar pada tempat.
Keragaman itu juga datang dari dalam tubuh HBA sendiri. Timnya terdiri atas desainer dengan latar daerah dan budaya yang beragam mulai dari Sumatra dan Jawa hingga Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, dan Maluku. Pertukaran perspektif tersebut membuat pemahaman terhadap identitas daerah tidak hanya bergerak dari lokal ke proyek, tetapi juga sebaliknya. Pengalaman yang dikembangkan tim Jakarta dan Bali ikut dibawa ke proyek HBA dalam jaringan globalnya.
Christin Castillo, Principal Indonesia, menyebut keyakinan bahwa desain yang dikerjakan dengan baik akan bertahan sebagai gagasan yang menemani perjalanan HBA sejak awal. Sepuluh tahun kemudian, Jakarta telah berkembang menjadi studio dengan 100 desainer, sementara praktik HBA di Bali berevolusi menjadi HBA Resort yang secara khusus berfokus pada desain resor dan perhotelan.
Ketika Karakter Tempat Menjadi Bahasa Desain

Pendekatan tersebut paling mudah dibaca melalui sejumlah proyek HBA di Indonesia. Di Regent Bali Canggu, misalnya, tekstil, pola, warna, dan kerajinan kontemporer Indonesian diterjemahkan ke dalam pengalaman menginap. Sementara di Marriott’s Sari Pacific Jakarta, Autograph Collection, identitas Jakarta hadir melalui interpretasi baru atas batik Betawi, motif Gigi Balang, dan pengaruh Batavia Lama.
Di Episode Hotel Gading Serpong, pertumbuhan kawasan urban diterjemahkan melalui pengaruh budaya Baduy dan Peranakan. Di Bali, Noema Resort Pererenan justru mengambil pendekatan yang lebih tenang melalui material mentah, warna bumi, dan karya seni yang ditempatkan untuk mempererat hubungan antara interior dan lanskap sekitarnya.
Ragam proyek tersebut memperlihatkan bahwa HBA tidak bekerja dengan satu estetika yang berlaku di semua tempat. Yang menjadi titik berangkat justru konteks bahwa memahami karakter lokasi, lalu menerjemahkannya menjadi pengalamn yang memiliki identitas diri.
Indonesia sebagai Bagian dari Peta yang Lebih Besar

Satu dekade setelah membuka studio pertamanya di Indonesia, perjalanan HBA kini bergerak dalam skala yang lebih luas. Jakarta dan Bali terlibat dalam proyek-proyek baru di bidang perhotelan, hunian, dan mixed-use di Indonesia maupun kawasan lain. Pada saat yang sama, desainer dari kedua studio tersebut juga berkontribusi dalam proyek di Asia, Timur Tengah, dan Eropa.
Posisi Indonesia di dalam HBA pun semakin bersifat dua arah. Pengetahuan global ditransfer ke dalam proyek-proyek lokal. Pada saat yang sama, penemuan dalam proyek-proyek di Indonesia ditelaah dalam jejaring desain HBA di berbagai belahan dunia. Dengan lebih dari 1.500 profesional bekerja di 29 kantor yang tersebar di empat kawasan, Indonesia mapan dalam jejaring global tersebut.
Sepuluh tahun HBA di Indonesia bukan melulu perkara bertambahnya jumlah studio atau proyek. Indonesia, dengan bentang geografis dan kulturnya yang begitu beragam, menawarkan lebih dari sekadar latar untuk sebuah proyek. Ia menjadi sumber percakapan antara lokal dan global, tradisi, dan interpretasi baru, serta ruang dan pengalaman manusia.
Teks: Cut Rashya Z.L Shiddiqie
Editor: Akib Aryo Utomo