Dari Batavia hingga Bali: Sepuluh Tahun Bahasa Desain HBA
Review Film The Love Hypothesis: Mengapa Rom-Com Ini Tetap Menyenangkan Ditonton Meski Akhirnya Bisa Ditebak?

Review Film The Love Hypothesis: Mengapa Rom-Com Ini Tetap Menyenangkan Ditonton Meski Akhirnya Bisa Ditebak?

Apa yang membuat The Love Hypothesis tetap menyenangkan meski kisah cintanya mudah ditebak? Barangkali karena rom-com memberi kita kepuasan sederhana: melihat dua orang akhirnya mengatakan apa yang selama ini mereka rasakan.
review film the love hypothesis (1)
Tom Bateman? Hot. Meet-cute? Ada. Tatapan yang terlalu lama? Tentu. Sedikit cringe? Wajib. Happy ending? Sudah bisa ditebak. The Love Hypothesis mungkin tidak revolusioner, tetapi ia tahu persis kenikmatan yang dicari dari sebuah rom-com.

Penggemar rom-com punya tontonan baru yang tayang di Prime Video, The Love Hypothesis (2026). Dari judulnya saja, film ini sudah terdengar seperti sesuatu yang seharusnya membuat kita memutar mata. Namun, bukan penikmat rom-com kalau sampai melewatkan kisah cinta Olive Smith (Lili Reinhart) dan Dr. Adam Carlsen (Tom Bateman) ini.

Diadaptasi dari novel karya Ali Hazelwood, film The Love Hypothesis bercerita tentang Olive, mahasiswi pascasarjana Stanford, yang pura-pura berpacaran dengan Adam Carlsen, seorang dosen sekaligus peneliti yang terkenal galak di kampus, sampai-sampai ia mendapat julukan “Doctor Evil”. Olive melakukan kencan palsu ini demi meyakinkan sahabatnya, Anh (Rachel Marsh), bahwa ia benar-benar tidak keberatan jika Anh menjalin hubungan dengan pria yang selama ini disukai Olive.

The Love Hypothesis dan Kenikmatan Menonton Dua Orang yang Akhirnya Bicara

Tentu saja, kita tahu persis ke mana arah ceritanya: fake dating menjadi real dating. Pria dingin ternyata punya sisi lembut. Salah paham muncul. Perasaan disembunyikan. Ada beberapa adegan ciuman dan pelukan yang sangat membantu mempercepat proses penerimaan penonton terhadap plot yang sebenarnya sudah bisa ditebak sejak menit-menit awal.

Advertisement

Dan sosok Adam sendiri, dengan pesonanya itu, tentu tidak membantu kita para penonton untuk bersikap objektif.

Secara fisik, ia seperti hasil eksperimen laboratorium yang menggabungkan Tom Ellis, Theo James, dan sedikit aura penjahat mistis ala Ben Barnes: tinggi, ramping, rambut gelap, wajah yang seolah selalu tahu sesuatu yang tidak kita ketahui.

Masalahnya, The Love Hypothesis sama sekali tidak menawarkan sesuatu yang revolusioner. Ceritanya sederhana. Konfliknya dibuat supaya ada konflik. Dan akhir ceritanya hampir pasti akan berakhir bahagia.

Lalu kenapa tetap menyenangkan ditonton?

Sebab ada sesuatu yang sangat memuaskan dari menonton dua orang yang akhirnya berbicara.

Ketika Chemistry Bertemu Clarity

Yang menyenangkan dari menonton rom-com dengan segala manis-pedih ceritanya itu bukan sekadar adegan romantisnya. Bukan ciuman maupun pelukannya yang penuh hasrat. Bukan sekadar berpegangan tangan yang lugu namun terasa hangat sampai hati. Bukan pula sekadar saling menatap seperti dua manusia yang terlalu menarik untuk memiliki kemampuan komunikasi yang normal.

Poinnya adalah mereka akhirnya mengonfirmasi apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.

Ada sesuatu di sana. Mereka sama-sama merasakannya. Ada kesalahpahaman yang bisa dibicarakan. Ada asumsi yang bisa diluruskan. Setelah semua itu, mereka bisa memutuskan untuk memulai kembali dengan cara yang lebih sehat.

Sederhana sekali.

Dan justru di situlah film ini terasa lebih menarik daripada yang seharusnya. Di situ pula perbedaan antara chemistry dan clarity menjadi terasa. Adam melakukan sesuatu yang laki-laki bingung pada umumnya tidak lakukan: ia mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.

Ia tidak berhenti pada gestur. Ia tidak membiarkan Olive terus menebak-nebak arti dari kedekatan mereka. Pada akhirnya, ia mengakui perasaannya, menjelaskan kesalahpahaman, dan memberi mereka ruang untuk menentukan apakah hubungan itu layak dimulai kembali.

Dan itulah yang membuat sebuah kisah cinta terasa selesai: ketika dua orang yang sudah jelas memiliki perasaan yang sama akhirnya bersedia mengakuinya.

Mengapa Kita Tetap Menonton Jika Akhirnya Sudah Bisa Ditebak?

review film the love hypothesis (2)
Meski ending ceritanya mudah ditebak, kenapa tetap menyenangkan? Karena ada sesuatu yang sangat memuaskan dari melihat dua orang benar-benar mengonfirmasi perasaan mereka.

Kita nyaris selalu bisa menebak akhir kisah rom-com, yang sepertinya memang tidak pernah benar-benar menjual akhir cerita. Yang dijual adalah perasaan ketika menyaksikan perjalanan menuju akhir tersebut.

Kita menonton untuk melihat kapan tatapan berubah menjadi pengakuan. Kapan ketertarikan menjadi sesuatu yang tidak lagi bisa disembunyikan. Kapan seseorang akhirnya mengatakan apa yang sebenarnya ia rasakan. Ketika momen itu datang, ada kepuasan sederhana karena sesuatu yang sejak awal terasa jelas akhirnya menjadi nyata.

Di kehidupan nyata, perasaan jarang memiliki struktur sejelas itu. Seseorang bisa menyukai orang lain tanpa pernah mengatakan apa pun. Hubungan bisa berhenti sebelum sempat menjadi sesuatu. Seseorang bisa datang pada waktu yang salah, atau pergi sebelum perasaan menemukan bentuknya. Rom-com menawarkan dunia yang lebih ringan, tempat perasaan memiliki kesempatan untuk berkembang sampai selesai.

Karena itu, rasa strange little ache yang tertinggal setelah film berakhir terasa menarik. Bukan karena kisahnya tragis, melainkan karena selama beberapa jam penonton telah berada di dunia yang begitu meyakinkan tentang kemungkinan cinta. Ketika dunia tersebut berakhir, kehidupan nyata kembali dengan segala ketidakpastiannya.

Barangkali itulah mengapa rom-com tetap memiliki tempat khusus, terutama bagi penonton perempuan. Ada kenikmatan dalam melihat laki-laki yang tampan tanpa harus menjadikan perempuan sebagai objek tatapan. Ada kepuasan melihat karakter perempuan memiliki keinginan, kecanggungan, fantasi, dan agensinya sendiri. Ada pula kenyamanan dalam menyaksikan cinta yang terasa sedikit dangkal, sedikit cheesy, bahkan sedikit memalukan, tetapi tetap tulus.

Previous Post
06-HBA-Through-The-Lens-Jia-CURATED-2026

Dari Batavia hingga Bali: Sepuluh Tahun Bahasa Desain HBA

Advertisement
Sign in