
Nama Oototol mungkin belum seakrab perupa Bali lain, namun melalui pameran tunggal Warna Hidup, yang digelar di dua ruang, yakni ROH dan Komunitas Salihara, karya-karyanya kembali diperkenalkan sebagai bagian penting dari lanskap seni rupa Indonesia.
Pameran ini menjadi kesempatan untuk melihat lebih dekat praktik Oototol, seorang seniman yang membangun bahasanya sendiri di tengah tradisi kuat seni lukis Bali. Bukan hanya sebagai bagian dari lingkar seniman seperti Murni (I GAK Murniasih), Mokoh (Dewa Putu Mokoh), dan Mondo (Edmondo Zanolini), tetapi sebagai individu dengan visi yang khas, yang berangkat dari pengalaman hidup, ingatan, dan ketertarikan pada tubuh manusia sebagai ruang emosi dan kuasa.
Latar Belakang Oototol dan Perkembangan Praktiknya

Oototol lahir dengan nama Dewa Raram di Pengosekan, Bali, sebuah wilayah yang dikenal sebagai pusat seniman lukis tradisional sejak era Pita Maha. Ia tumbuh di lingkungan yang kaya tradisi visual, namun justru mengembangkan pendekatan yang berbeda.
Tanpa pendidikan seni formal, Oototol membentuk praktiknya secara intuitif. Pertemuan dengan seniman seperti I Gusti Ayu Kadek Murniasih (Murni) dan Edmondo Zanolini (Mondo) menjadi titik penting dalam perjalanannya. Dari sana, ia mulai bereksperimen dengan tinta Cina di atas kanvas, menggunakan pena dan kuas bambu, medium yang kemudian menjadi ciri khasnya.
Nama “Raram,” yang terinspirasi dari suara pesawat perang di masa kecilnya, membentuk ketertarikan Oototol pada figur tentara yang kerap muncul dalam karyanya.
Garis-garis dalam karyanya terasa spontan, bahkan kasar, dengan bekas lipatan dan jejak fisik dari cara ia bekerja langsung di lantai studio. Namun justru di situlah muncul kekuatan visualnya; sebuah bahasa yang terasa jujur, dekat, dan tidak terikat pada aturan konvensional.
Nama “Raram” sendiri berasal dari bunyi pesawat perang yang lazim didengar ketika Bali berada dalam situasi perang. Semasa kecilnya, suara-suara ini pun masih kerap didengar oleh Oototol, menjadi latar yang membentuk ketertarikannya pada figur tentara; yang kemudian sering muncul dalam karyanya, dalam situasi sehari-hari maupun yang lebih ganjil dan penuh pertanyaan.
Kuasa dan Wibawa Manusia

Dalam karya-karyanya, Oototol kerap menghadirkan figur manusia—sering kali dengan peci dan pakaian formal—yang terasa hidup, ekspresif, dan kadang ambigu. Terinspirasi dari wayang serta tokoh-tokoh seperti Sukarno, ia tidak secara langsung membicarakan politik, tetapi lebih tertarik pada aura kuasa dan wibawa yang melekat pada sosok manusia.
Figur-figur ini hadir bukan sebagai simbol tunggal, melainkan sebagai ruang tafsir. Mereka bisa terasa kuat sekaligus rapuh, dekat sekaligus asing. Dalam pendekatannya, tubuh menjadi medium untuk memahami hal-hal yang lebih dalam, yakni tentang identitas, relasi, dan pengalaman batin.
Melalui tinta hitam yang sederhana, Oototol menghadirkan lapisan emosi dan simbol yang kompleks. Karyanya tidak berusaha menjelaskan, melainkan mengajak kita untuk melihat dan merasakan: tentang kekuasaan, ingatan, dan keseharian yang bisa hadir dalam satu tubuh.
***

Melalui pameran “Warna Hidup”, praktik Oototol dibaca kembali dalam konteks yang lebih luas. Tidak hanya sebagai bagian dari sejarah seni Bali, tetapi juga sebagai refleksi tentang manusia itu sendiri. Dengan dukungan esai dari Hera Chan, Roger Nelson, dan Ibrahim Soetomo, serta program publik oleh Putu Sridiniari, pameran ini membuka ruang dialog yang lebih dalam.
Digelar di ROH (7 Maret–3 Mei 2026) dan Komunitas Salihara (8 Maret–26 April 2026), pameran ini menjadi undangan untuk mengenal Oototol, seorang seniman yang mungkin tidak banyak bicara tentang dirinya, tetapi meninggalkan jejak yang kuat melalui garis-garis yang ia buat.
Foto: dok. DEWI, Komunitas Salihara – Witjak Widhi Cahya