Angel Pieters Rilis Mini Album “Rumah”, Memaknai Kembali Arti Pulang
Still to Draw Near: Chintia Kirana Menelusuri Arti Rumah dan Ingatan

Still to Draw Near: Chintia Kirana Menelusuri Arti Rumah dan Ingatan

Apa arti rumah ketika seseorang telah berpindah begitu jauh? Melalui Still to Draw Near, Cintia Kirana menelusuri pertanyaan tersebut lewat material, ingatan, dan pengalaman diaspora.
chintia kirana (1)

Empat foto hitam-putih menyambut pengunjung di ruang pertama Still to Draw Near, presentasi tunggal Chintia Kirana di D Gallerie, Jakarta, yang berlangsung pada 26 September hingga 26 Oktober 2026. Foto-foto yang ditransfer ke kain tipis itu memperlihatkan seorang anak perempuan dan neneknya memotong kue ulang tahun, sebuah ruangan dengan kue yang tertinggal, ruangan yang kosong, lalu sang anak kembali berada di dalam ruangan. Di antaranya, lembaran kertas putih digantung pada ketinggian berbeda. Susunan tersebut menjadi pintu masuk menuju gagasan tentang ingatan yang hadir secara terpecah, dipicu oleh gambar, tempat, atau pengalaman tertentu.

Chintia, seniman multidisiplin, kurator, dan cultural organizer yang bekerja antara Montgomery, Alabama, dan Brooklyn, New York, membawa pengalaman diaspora ke dalam pameran ini. Keluarganya meninggalkan Jakarta setelah kekerasan anti-Tionghoa pada 1998 dan kemudian menetap di Amerika Serikat. Alih-alih merekonstruksi sejarah tersebut secara langsung, Chintia mendekatinya melalui material, abstraksi, dan jejak yang ditinggalkan perjalanan waktu.

Api, Tanah, dan Material yang Menyimpan Ingatan

Api menjadi salah satu elemen penting dalam karya-karya Chintia. Menurut kurator Mitha Budhyarto, ketertarikannya bekerja bersama Chintia berangkat dari cara sang seniman menggunakan panas untuk memikirkan pengalaman diaspora. “Saya tertarik karena Chintia ngomongin pengalaman diaspora. Keluarganya pindah ke Amerika setelah tragedi ’98. Tapi yang membuatku paling menarik dari kekaryaan dia adalah seperti apa api dan panas memengaruhi cara dia membuat karya,” jelas Mitha.

Advertisement

Material yang digunakan Chintia membawa hubungan langsung dengan tempat dan perjalanan hidupnya. Abu yang menjadi pigmen berasal dari pembakaran uang arwah, yang dalam tradisi Tionghoa dibakar untuk leluhur. Pigmen hitam berasal dari jelaga peralatan memasak, sementara tanah dari rumah keluarganya di Alabama diproses menjadi pigmen dan diaplikasikan pada kertas. Dalam Still In Passing, bagian putih pada permukaan karya dibuat menggunakan solder berbentuk pena yang membakar lapisan kertas teratas hingga memperlihatkan lapisan putih di bawahnya. “Itu juga menggunakan panas,” ujar Mitha, menunjuk bagaimana api dan panas terus muncul sebagai bagian dari proses Cintia.

Rumah yang Terus Dicari

Hubungan antara material dan pengalaman personal tersebut juga terlihat dalam cara Cintia menggambarkan rumah. Dalam karya Transient, garis, celah, dan bentuk yang samar mengingatkan pada pemandangan yang dilihat dari dalam kendaraan yang sedang bergerak. “Saya merasa selalu sedang bergerak. Selalu berada di tempat yang berbeda. Saya selalu mencari rumah,” ungkapnya. Namun, pencarian tersebut tidak lagi diarahkan pada satu alamat. Bagi Cintia, rumah lebih dekat dengan perasaan yang muncul melalui orang lain, komunitas, kehangatan, dan rasa diterima.

Ia menyadari bahwa dirinya tidak lagi memiliki rumah fisik di Jakarta ataupun identitas Indonesia dalam pengertian yang sama seperti sebelumnya. Namun, setiap kali kembali, rasa memiliki itu muncul melalui interaksi sehari-hari. “Setiap kali datang ke Jakarta, saya merasa seperti di rumah karena ada kehangatan tertentu yang saya rasakan melalui orang-orang, komunitas, bahkan senyum orang asing. Rumah lebih tentang orang, tentang bagaimana hati kita merasa,” katanya.

Mitha melihat pemisahan berbagai material dalam karya Cintia sebagai bagian dari cara sang seniman memahami perjalanan tersebut. Abu dan tanah tidak dicampur menjadi satu pigmen, tetapi tetap hadir sebagai material yang berbeda dalam satu keseluruhan. “Menurutku ini praktik yang matang. Pengalaman 1998 pernah terjadi, lalu sekarang dia ada di sini, dan banyak hal yang terjadi selama perjalanan itu menjadi bagian dari hidupnya, tetapi tidak dicampur. Abu dan tanah masih terpisah, tetapi keduanya menjadi bagian dari kesatuan hidupnya,” jelas Mitha. Bagi Cintia, to draw near berarti mendekati pengalaman secara perlahan, tanpa harus menggenggamnya secara utuh.

Mengingat Tanpa Kembali pada Trauma

Gagasan tersebut membawa Still to Draw Near pada pertanyaan tentang sebuah pengalaman sejarah yang dapat terus diingat tanpa harus direproduksi sebagai trauma. Bagi Chintia, mengingat menjadi bagian penting dari proses memahami masa lalu sekaligus melihat pengalaman kekerasan yang masih terjadi di berbagai tempat hari ini.

“Ini tentang remembrance,” katanya. “Saya tidak mencoba membawa kembali traumanya. Saya merasa penting untuk mengingat apa yang telah terjadi karena hal serupa bisa terjadi lagi.”.

Melalui pameran ini, Chintia berharap ingatan dapat menjadi cara untuk membangun empati dan kedekatan antarmanusia. “Saya ingin pameran ini berbagi ingatan kolektif dan mengingatkan kita untuk saling berbaik hati, karena kita tidak pernah tahu apa yang sedang dialami seseorang di balik kehidupannya,” katanya. Still to Draw Near pun bergerak dari pengalaman personal menuju pertanyaan yang lebih luas tentang rumah, perpindahan, dan bagaimana seseorang membawa masa lalu sambil terus berjalan ke depan.

Previous Post
angel pietters

Angel Pieters Rilis Mini Album “Rumah”, Memaknai Kembali Arti Pulang

Advertisement
Sign in