Natalie Sasi Organ dan Pameran Perdananya, “She Lit My Mouth Without a Word"
Ilusi dan Lapisan Representasi dalam Karya-Karya Adytria Negara di Pameran “Depictions, Depictions”

Ilusi dan Lapisan Representasi dalam Karya-Karya Adytria Negara di Pameran “Depictions, Depictions”

Yang menarik dalam pameran ini, Adytria Negara bekerja dengan pendekatan trompe l’oeil, teknik melukis yang membuat objek terlihat sangat nyata, seolah bisa disentuh.
Karya-karya Adytria Negara tampak seperti objek nyata, namun sebenarnya adalah ilusi yang menggeser cara kita melihat dan menyadari bagaimana persepsi terbentuk dan terus berubah.

Selain menghadirkan pameran tunggal perdana Natalie Sasi Organ, ara contemporary juga menampilkan “Depictions, Depictions”, dengan karya-karya dari Adytria Negara. Perupa yang fokus pada hubungan antara gambar, persepsi, dan material ini mengeksplorasi cara-cara yang membuat gambar bisa terasa begitu nyata, hingga batas antara representasi dan kenyataan menjadi kabur.

Pendekatan Trompe L’oeil

Dalam pameran Depictions, Depictions, Adytria Negara melanjutkan eksplorasinya tentang bagaimana kita melihat gambar dan benda. Ia bekerja dengan pendekatan trompe l’oeil, yakni teknik melukis yang membuat objek terlihat sangat nyata, seolah bisa disentuh.

Karya-karya dalam pameran ini berangkat dari satu pertanyaan sederhana: bagaimana sebuah benda direpresentasikan, dan berapa banyak lapisan yang sebenarnya kita lihat?

Advertisement

Melalui lukisan minyak yang detail, Adytria menghadirkan objek sehari-hari seperti buku, baki, atau potongan benda lain. Semuanya yang tampak nyata, namun sebenarnya merupakan hasil rekonstruksi visual dari proses yang lebih panjang.

Lapisan Gambar dan Ilusi Visual dalam Satu Objek

“Safety Matches”

Dalam pameran ini, satu objek tidak hadir sebagai satu bentuk tunggal. Adytria menjelaskan bahwa setiap benda bisa muncul dalam berbagai versi: sebagai gambar, ikon, foto, hingga lukisan.

“Banyak lapisan penggambaran yang menipu mata,” katanya. Ia mencontohkan bagaimana satu bentuk seperti burung layang-layang bisa hadir sebagai simbol sederhana, gambar detail, atau garis outline, semuanya tetap merujuk pada objek yang sama, tapi dengan cara melihat yang berbeda.

Pendekatan ini juga terlihat pada komposisi objek yang ia lukis. Sebuah baki kayu, misalnya, menjadi dasar untuk menyusun berbagai elemen visual lain seperti stiker, kartu, hingga coretan bolpoin.

Di titik ini, karya tidak lagi sekadar meniru realitas, tetapi memperlihatkan bagaimana realitas itu sendiri sudah terbentuk dari berbagai representasi. “Satu objek yang sudah diproduksi massal itu sebenarnya sudah menjadi satu bentuk penggambaran,” tambahnya.

Mengoleksi, Menyusun, dan Melukis Ulang

Proses kerja Adytria dimulai jauh sebelum kanvas. Ia mengumpulkan benda dari berbagai tempat, dari rumah, ruang kerja, toko, hingga perjalanan. Kebiasaan ini sudah ia lakukan sejak lama, sebagai bagian dari praktik still life sekaligus dokumentasi personal.

“Dalam persiapan pameran ini, saya sudah punya kesadaran mengoleksi, mendokumentasi, dan menyusun,” ujarnya. Objek-objek tersebut kemudian benar-benar dirangkai secara fisik: diikat, ditempel, atau digabungkan menjadi satu komposisi nyata sebelum dilukis ulang.

“Ada objek sungguhannya. Tahapannya: saya mengoleksi, mendokumentasi, menyusun secara nyata, lalu memindahkannya ke kanvas. Saat dipindahkan, itu jadi bentuk penggambaran yang lain lagi, kan?” jelasnya.

Bagi Adytria, yang utama bukan pada pilihan objek, melainkan metode itu sendiri. “Yang paling penting metode dokumentasi, menyusun, dan melukis ulang. Kalau metode ini dipakai orang lain, hasilnya bisa berbeda,” katanya.

***

Melihat karya-karyanya, memang seperti ilusi visual. Buku, baki, hingga sebuah ‘paket’ yang terpajang rapi seperti di etalase. Melihatnya lebih dekat, baru kita tau itu hanya sebentuk penggambaran belaka, menggeser cara kita melihat sebuah entitas, dan menyadari cara persepsi kita terbentuk—serta betapa ia bisa terus berubah.

“Depiction, Depiction”
11 April–9 Mei 2026
📍 ara contemporary
Jl. Tulodong Bawah I No.16, Senayan,
Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post
Natalie Sasi Organ dan Pameran Perdananya, “She Lit My Mouth Without a Word”

Natalie Sasi Organ dan Pameran Perdananya, “She Lit My Mouth Without a Word"

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.